1 / 29

Analisa Pembandingan

Analisa Pembandingan. Dengan menggunakan analisa pembandingan maka akan diketahui : Data absolut atau jumlah-jumlah dalam rupiah Kenaikan / penurunan dalam rupiah Kenaikan / penurunan dalam prosentase Perbandingan dalam rasio Dinyatakan dalam prosentase dari total.

Download Presentation

Analisa Pembandingan

An Image/Link below is provided (as is) to download presentation Download Policy: Content on the Website is provided to you AS IS for your information and personal use and may not be sold / licensed / shared on other websites without getting consent from its author. Content is provided to you AS IS for your information and personal use only. Download presentation by click this link. While downloading, if for some reason you are not able to download a presentation, the publisher may have deleted the file from their server. During download, if you can't get a presentation, the file might be deleted by the publisher.

E N D

Presentation Transcript


  1. Analisa Pembandingan • Denganmenggunakananalisapembandinganmakaakandiketahui : • Data absolutataujumlah-jumlahdalam rupiah • Kenaikan/penurunandalam rupiah • Kenaikan/penurunandalamprosentase • Perbandingandalamrasio • Dinyatakandalamprosentasedari total

  2. 1. Horizontal analysis • 2. Vertical analysis • 3. Common Size

  3. 1. Horizontal analysis

  4. Comparing an item in a current statement with the same item in prior statements is called horizontal analysis.

  5. J Holmes, Attorney-at-Law Income Statement For the Year Ended December 31, 2005 and 2006 Increase (Decrease) 2006 2005 Amount Percent Fees earned $187,500$150,000$37,500 25.0% Operating expenses: Wages expense $ 60,000 $ 45,000 $15,000 33.3% Rent expense 15,000 12,000 3,000 25.0% Utilities expense 12,500 9,000 3,500 38.9% Supplies expense 2,700 3,000 (300) (10.0)% Misc. expense 2,300 1,800 500 27.8% Total operating expenses $ 92,500$ 70,800$21,700 30.6% Net income $ 95,000 $ 79,200 $15,800 19.9%

  6. Trend dalam Prosentase • Cara terbaik untuk menganalisa laporan keuangan yang lebih dari 3 tahun dengan menggunakan angka indek sehingga diketahui kecenderungannya (trend), • Tahun awal biasanya dijadikan tahun dasar dengan asumsi tahun tersebut sebagai tahun yang paling normal. • Tahun dasar diberi indek = 100

  7. Contoh neraca

  8. arti • Tahun 2004 dijadikantahundasar. • Kastahun 2005 : 120 % artinya • Uangkas yang tersedia 31 des 2005 adalah 120 % dariuangkas 31 des 2004 • Uangkas 2005 lebihbesar 20 % dibandingkas 31 des 2004 • Kasakhir 2005 naiksebesar 20 % dibandingkasakhir 2004

  9. Contoh lap. R-L

  10. 2. Vertical analysis

  11. Vertical Analysis and Interpretation

  12. J. Holmes, Attorney-at-Law Income Statements For the Years Ended December 31, 2005 and 2006 2006 2005 Amount Percent Amount Percent Fees earned $187,500 $150,000 Operating expenses: Wages expense $60,000$45,000 Rent expense 15,000 12,000 Utilities expense 12,500 9,000 Supplies expense 2,700 3,000 Miscellaneous exp. 2,300 1,800 Total operating expenses $92,500$70,800 Net income $95,000 $79,200

  13. 2006 2005 Amount Percent Amount Percent Fees earned $187,500100.0% $150,000100.0% Operating expenses: Wages expense $60,000$45,000 Rent expense 15,000 12,000 Utilities expense 12,500 9,000 Supplies expense 2,700 3,000 Miscellaneous exp. 2,300 1,800 Total operating expenses $92,500$70,800 Net income $95,000 $79,200

  14. 2006 2005 $60,000 $187,500 $15,000 $187,500 Amount Percent Amount Percent Fees earned $187,500100.0% $150,000100.0% Operating expenses: Wages expense $60,000$45,000 Rent expense 15,000 12,000 Utilities expense 12,500 9,000 Supplies expense 2,700 3,000 Miscellaneous exp. 2,300 1,800 Total operating expenses $92,500 $70,800 Net income $95,000 $79,200 32.0% 38.0%

  15. 2006 2005 6.7% 1.4% 1.2% 49.3% 50.7% Amount Percent Amount Percent Fees earned $187,500100.0% $150,000100.0% Operating expenses: Wages expense $60,000$45,000 30.0% Rent expense 15,000 12,000 8.0% Utilities expense 12,500 9,000 6.0% Supplies expense 2,700 3,000 2.0% Miscellaneous exp. 2,300 1,800 1.2% Total operating expenses $92,500$70,80047.2% Net income $95,000 $79,200 52.8% 32.0% 38.0%

  16. Vertical Analysis • Cara analisa laporan keuangan perusahaan dengan melihat historical data perusahaan.

  17. AnalisaCommon Size

  18. Ada kalanya akan sangat berguna bagi kita untuk membandingkan perusahaan-perusahaan di dalam industri yang sama. Pada umumnya orang menggunakan price to earning ratio (PER) ataupun price to book value ratio (PBV). Meskipun kedua rasio tersebut secara sekilas dapat kita manfaatkan untuk melakukan screening, diperlukan penelaahan lebih lanjut untuk dapat memahami lebih jelas perbandingan satu perusahaan dengan yang lain. Jika misalnya suatu perusahaan memiliki PER 15, kita mendapatkan informasi bahwa sahamnya dijual 15 lipat dari EPS-nya namun tidak memberikan informasi pada kita apakah laba yang diperoleh tersebut sebanding dengan hasil penjualannya atau tidak. PER ataupun PBV juga tidak memberikan penjelasan kepada kita apakah perusahaan tersebut lebih efisien dibandingkan dengan perusahaan lain dalam operasinya. • Karena masing-masing perusahaan memiliki strategi dan ukuran yang berbeda-beda, untuk membandingkannya kita memerlukan suatu metode yang menormalisasikan angka-angka di dalam laporan keuangannya. Salah satu metode yang dapat kita gunakan adalah metode common size comparison. Dengan metode tersebut, kita akan dapat melakukan benchmarking perusahaan satu dengan yang lain dengan lebih fair. Setiap angka di dalam laporan keuangan kita nyatakan sebagai proporsi terhadap angka lainnya. • Pada common size balance sheet, kita mengekspresikan angka-angka di dalamnya sebagai persentase dari total asset. • Pada common size income statement, kita menyatakan angka-angka di dalamnya sebagai persentase dari revenue. • Contoh dari common size balance sheet adalah sebagai berikut:

  19. Terlihat bahwa item-item di dalam balance sheet dinyatakan sebagai persentase dari total assets. Pada tabel di atas saya sengaja menghilangkan beberapa item dan hanya memasukkan angka-angka yang penting. Dengan mengkonversikan laporan keuangan perusahaan menjadi common size, kita akan dapat membandingkannya dengan lebih mudah. Cara yang sama dapat kita terapkan pada income statement dengan menjadikanrevenue sebagai referensi. Contoh common size income statement adalah sebagai berikut:

  20. Contoh Kasus: Analisa Common Size pada Industri Semen

  21. Terdapat 3 perusahaan yang listed di BEI untuk industri semen yaitu Semen Gresik (SMGR), Holcim (SMCB), dan Indocement (INTP). Untuk meneropong lebih jauh, mari kita pergunakan analisa common size.

  22. Dari gambar di atas, dapat kita lihat bahwa PPE (property, plant & equipment) atau biasa kita kenal dengan fixed assets SMCB jauh lebih lebih besar daripada kedua kompetitornya di mana 76% dari total asset SMCB merupakan peralatan produksinya. Yang perlu kita analisa lebih lanjut adalah apakah fixed asset tersebut dapat memberikan SMCB pendapatan yang sebanding. Bagaimana caranya? Mari kita memeriksa rasio fixed assets turnover ketiga perusahaan tersebut yang merupakan perbandingan antara revenueterhadapfixed assets-nya. Fixed asset turnover mereka (SMGR, SMCB, INTP) secara berturut-turut adalah 1.87, 0.76, dan 1.45. Terlihat bahwa kekhawatiran kita terbukti.Fixed asset turnover SMCB memiliki nilai paling rendah. • Berikutnya, mari kita perhatikan jumlah utangnya, dalam hal ini adalah interest-bearing debt. Walaupun masih dalam batas wajar, utang SMCB paling besar apabila dibandingkan dengan kedua perusahaan yang lain. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

  23. Mari kita beralih ke common size income statement.

  24. Yang cukup menarik perhatian saya adalah tingginya persentase COGS SMCB. Katakanlah biaya langsung untuk memproduksi semen ketiga perusahaan tersebut sama. Dengan COGS yang lebih besar, SMCB menjual semen dengan harga yang lebih murah dibandingkan dengan kedua SMGR dan INTP. Meskipun hal ini bisa saja merupakan strategi SMCB, namun dampak dari tipisnya gross margin tersebut terlihat padaoperatingprofit margin dan net profit margin (dalam hal ini adalah common size operating income dan common size net income) yang paling kecil. Jika memang SMCB menjual dengan harga yang lebih murah, logikanya perputaran barangnya harus lebih cepat. Jika tidak, maka tidak ada manfaatnya SMCB menjual produknya dengan harga yang lebih rendah. Dengan membandingkan revenue terhadap inventory, maka kita akan mengetahui hal tersebut. Perbandingan tersebut disebut juga dengan inventory turnover.  Dari laporan keuangannya, didapatkan inventory turnover SMCB adalah 11.92 kali atau dengan kata lain SMCB mampu menjual habis stok barangnya dalam waktu sekitar 31 hari (1/11.92*365 hari). Bagaimana dengan SMGR dan SMCB?  SMGR memerlukan waktu 41 hari sedangkan INTP bahkan memerlukan waktu yang lebih panjang lagi yaitu 43 hari. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa usaha SMCB untuk memberikan harga yang lebih murah tidak sia-sia.

  25. Contoh di atas memberikan gambaran kepada kita bagaimana caranya membandingkan kinerja perusahaan-perusahaan yang berada di dalam satu industri. Sebenarnya kita dapat memperdalamnya lagi dengan melakukan analisa horisontal di mana kita membandingkan angka-angka di dalam laporan keuangan dengan angka-angka pada laporan keuangan periode sebelumnya. Kombinasi antara common size (vertikal) dengan analisa horisontal akan dapat memberikan kita gambaran yang lebih jelas mengenai kinerja perusahaan-perusahaan tersebut.

More Related