1 / 20

DIDIK TRISTIANTO, S.Kom., M.Kom

DIDIK TRISTIANTO, S.Kom., M.Kom. METODOLOGI PENELITIAN REKAYASA. BEDA PENULISAN ILMIAH & POPULER.

seda
Download Presentation

DIDIK TRISTIANTO, S.Kom., M.Kom

An Image/Link below is provided (as is) to download presentation Download Policy: Content on the Website is provided to you AS IS for your information and personal use and may not be sold / licensed / shared on other websites without getting consent from its author. Content is provided to you AS IS for your information and personal use only. Download presentation by click this link. While downloading, if for some reason you are not able to download a presentation, the publisher may have deleted the file from their server. During download, if you can't get a presentation, the file might be deleted by the publisher.

E N D

Presentation Transcript


  1. DIDIK TRISTIANTO, S.Kom., M.Kom METODOLOGI PENELITIAN REKAYASA

  2. BEDA PENULISAN ILMIAH & POPULER • Tujuan menulis ilmiah adalah untuk mendiseminasikan pemikiran-pemikiran dan temuan-temuan (terbaru) ke khalayak akademik yang lebih luas melalui media jurnal sesuai dengan disiplin ilmunya baik lingkup nasional maupun antarbangsa • Tujuan menulis populer sekadar memberikan sumbangan pemikiran berdasarkan informasi atau wawasan penulisnya, kemudian diharapkan sebagai bahan wacana atau diskursus tentang topik itu bagi pembacanya.

  3. TULISAN ILMIAH DAN TULISAN POPULER • Tulisan ilmiah selayaknya ditulis berdasarkan hasil penelitian lapangan sehingga memuat informasi-informasi dan fakta-fakta empirik yang akurat, mutakhir dan komprehensif dengan metodologi yang jelas. • Materi tulisan populer tidak selalu harus berdasarkan pada fakta-fakta empirik (penelitian), boleh juga dari hasil pengamatan atau perenungan (refleksi).

  4. ARTIKEL ILMIAH DAN TULISAN POPULER • Pembahasan dan analisis penulisan ilmiah dilakukan secara mendalam, rinci, logis, sistematis, namun tidak bertele-tele agarmudah dipahami dengan jelas, tepat serta dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. • Pembahasan dan analisis tulisan populer tidak perlu terlalu mendalam dan rinci, namun logika serta sistematika pemikiran harus tetap diperhatikan, agar pembaca dapat menangkap pesan sesuai dengan yang ingin disampaikan.

  5. TULISAN ILMIAH DAN TULISAN POPULER • Pembahasan dan analisis pada tulisan ilmiah harus menggunakan kata-kata, istilah-istilah atau kalimat yang sesuai dengan“aturan main” penggunaan tata bahasa yang berlaku di dunia akademik. • Pembahasan dan analisis pada tulisan populer sedapat mungkin menggunakan kata-kata, istilah-istilah atau kalimat yang mudah dicerna dan sudah populer di masyarakat.

  6. PENDEKATAN DALAM PEMBAHASAN DAN ANALISIS Pendekatan kuantitatif • Obyektif, positivistik, dan “bebas nilai”. Subyektivitas sedapat mungkin sangat dihindari. • Deduktif (kadangkala kombinasi antara deduktif dan induktif). • Hubungan antarfenomena, kondisi, obyek, atau variabel bersifat kausalitas (sebab-akibat atau korelasional). Hubungan kausalitas ini harus dikemukakan secara jelas, obyektif, konkrit, reliable, dan testable dengan menggunakan alat-alat pengukuran numerik, matematis atau statistik.

  7. PENDEKATAN DALAM PEMBAHASAN DAN ANALISIS • Hasil-hasil pembahasan dan analisis dipaparkan dengan lebih mementingkan penggunaan penghitungan dan pengukuran matematis yang disajikan dalam bentuk tabel-tabel, diagram, gambar/foto, serta bentuk-bentuk ilustrasi lainnya. • Oleh karena data dan informasi dikumpulkan berdasarkan alat-alat (instrumen) yang terstruktur dengan besaran populasi dan sampel yang sudah ditentukan maka kebenaran hasil pembahasan dan analisis dapat diketahui dengan cepat, tepat dan akurat.

  8. PENDEKATAN DALAM PEMBAHASAN DAN ANALISIS • Analisis dan pembahasan harus dapat menghasilkan suatu temuan (seharusnya temuan baru) yang dapat digunakan untuk melakukan generalisasi yang obyektif dengan kadar kepercayaan yang tinggi dan mampu melakukan prediksi yang akurat. • Meskipun pembahasan dan analisis telah dilakukan dengan menghasilkan temuan dan pemikiran (baru) dengan tingkat akurasi dan kepercayaan yang tinggi, namun penting untuk membaca dan merenung ulang pembahasan dan analisis yang telah dibuat.

  9. PENDEKATAN DALAM PEMBAHASAN DAN ANALISIS Pendekatan kualitatif • Subyektif, relativisme, dan “ tidak bebas nilai”. • Induktif (kadangkala kombinasi antara induktif dan deduktif). • Hubungan relasional antarfenomena dan antarkondisi harus dikemukakan secara jelas. Tidak jarang fenomena dan kondisi yang muncul di lapangan sangat beragam dan di luar dugaan.

  10. PENDEKATAN DALAM PEMBAHASAN DAN ANALISIS • Setiap fenemona sosial-budaya harus dibahas dan dianalisis dengan sangat rinci dan komprehensif. • Ungkapkan dengan jelas hubungan relasional antara kondisi yang satu dengan yang lainnya sehingga fenomena-fenomena soial-budaya tersebut dapat dipahami secara proporsional dan kontekstual.

  11. PENDEKATAN DALAM PEMBAHASAN DAN ANALISIS • Oleh karena data dan informasi dikumpulkan melalui wawancara sangat mendalam dan paticipant observation maka “catatan harian lapangan” (field notes) - selain yang direkam dengan media elektronik - sangat penting sebagai acuan utama dalam melakukan pembahasan dan analisis.

  12. PENDEKATAN DALAM PEMBAHASAN DAN ANALISIS • Selain itu, deskripsi pembahasan dan analisis tidak saja dilakukan sangat rinci dan mendalam (thick description) melainkan juga bersifat naratif-interpretatif, agar makna-makna simbolik yang terkandung dalam setiap fenomena dapat diungkap dan dipahami sesuai dengan konteksnya. • Alat-alat pengukuran numerik tidak diperlukan, namun data-data statistik kadang digunakan sebagai pendukung pembahasan dan analisis.

  13. PENDEKATAN DALAM PEMBAHASAN DAN ANALISIS • “Kebenaran” hasil pembahasan dan analisis lebih bersifat penafsiran-penafsiran terhadap makna-makna simbolik. Kesalahan atau kebenaran penafsiran bukan hal yang utama, yang paling penting adalah tingkat kedalaman dan ketajamannya. • Subyektivitas penulis sangat dihargai dalam arti pemahaman dan penafsiran pribadi penulis tidak ditabukan, karena kualitas tulisan bergantung juga pada tingkat kualitas pemahaman dan penafsiran penulisnya.

  14. PENDEKATAN DALAM PEMBAHASAN DAN ANALISIS • Hasil pembahasan dan analisis tidak berpretensi menghasilkan suatu generalisasi. Kalaupun harus membuat suatu generalisasi sifatnya hanya pada lingkup obyek penelitian. • Setiap informasi, data dan pernyataan tentang sesuatu hal yang menggunakan kata- kata atau ungkapan-ungkapan lokal seharusnya ditulis lengkap dalam bahasa lokal sesuai dengan aslinya (pendekatan “emik”). Kemudian berilah penjelasan serinci mungkin.

  15. PENDEKATAN DALAM PEMBAHASAN DAN ANALISIS • Hindari keinginan untuk menerjemahkan kata-kata, ungkapan-ungkapan dan pernyataan lokal tersebut agar makna-makna simbolik yang terkandung di dalamnya tidak hilang atau berubah. • Catatan kaki menjadi penting sebagai sarana untuk mendeskripsikan lebih rinci kata-kata atau ungkapan-ungkapan lokal tersebut yang sering kali memiliki hubungan relasional dengan beberapa fenomena sosial budaya tertentu.

  16. PENDEKATAN DALAM PEMBAHASAN DAN ANALISIS • Sebagaimana pendekatan kuantitatif, dalam pendekatan kualitatif ini penting pula untuk membaca dan merenung ulang pembahasan dan analisis yang telah dibuat. Lebih-lebih mengingat begitu kompleks dan rumitnya perilaku manusia dalam konteks kehidupan sosial-budayanya dan aspek-aspek lain yang melingkupinya.

  17. PENGERTIAN METODOLOGI PENELITIAN • Kaitan antara pendekatan dalam pembahasan dan analisis dengan metodologi sangatlah erat. Itu sebabnya, metodologi dalam artian“ilmu” yang mempelajari tentang metode atau cara-cara yang digunakan melakukan penelitianharus sinkron dengan pendekatan pembahasan dan analisis dalam penulisan artikel ilmiah. Begitu pula sebaliknya.

  18. PENGERTIAN METODE PENELITIAN • Pengertian metode adalah cara-cara yang digunakan dalam penulisan artikel ilmiah. • Metode tersebut haruslah sesuai dengan metodologi yang digunakan pada saat melakukan penelitian. • Dengan demikian, secara garis besar ada dua macam metode yang lazim digunakan dalam penulisan artikel ilmiah: • Metode dalam bidang ilmu-ilmu alam (eksakta atau natural science), • Metode dalam bidang ilmu sosial dan humaniora (social science and humaniora).

  19. METODOLOGI dan METODE Bidang ilmu-ilmu alam (eksakta): • deskriptif-verifikatif, • obyektif-positivistik, • korelasional/kausalitas, • generalitatif dan prediktif. Bidang ilmu-ilmu sosial dan humaniora: • deskriptif-naratif (thick description), • subyektif-interpretatif (kontekstual), • etnografik, hermeneutik, fenomenologi, • non-generalitatif dan non-prediktif.

  20. LIHATLAH KURA-KURA!SATU-SATUNYA KESEMPATAN YANG BISA MEMBUATKURA-KURA MELANGKAH MAJU ADALAH KETIKADIA BERANI MENJULURKAN KEPALANYA KELUAR.(enviromagz)TERIMA KASIHe-mail: akbar_didik@yahoo.com 0352 710 3737

More Related