1 / 91

ILMU

ILMU. Nuim Hidayat Dosen Pasca Sarjana UMS dan UIKA Peneliti Insists. Ilmu?. Rusaknya Peradaban Dunia Saat Ini Rusaknya Politik, Ekonomi, Sosial &Teknologi Rusaknya Ilmu. Ilmu.

Download Presentation

ILMU

An Image/Link below is provided (as is) to download presentation Download Policy: Content on the Website is provided to you AS IS for your information and personal use and may not be sold / licensed / shared on other websites without getting consent from its author. Content is provided to you AS IS for your information and personal use only. Download presentation by click this link. While downloading, if for some reason you are not able to download a presentation, the publisher may have deleted the file from their server. During download, if you can't get a presentation, the file might be deleted by the publisher.

E N D

Presentation Transcript


  1. ILMU Nuim Hidayat Dosen Pasca Sarjana UMS dan UIKA Peneliti Insists

  2. Ilmu? Rusaknya Peradaban Dunia Saat Ini Rusaknya Politik, Ekonomi, Sosial &Teknologi Rusaknya Ilmu

  3. Ilmu • “Ilmu ialah sesuatu yang tidak memberikan sebagian dari dirinya kepadamu sehingga kamu sendiri memberikan keseluruhan diri kamu kepadanya. Dan apabila kamu telah memberikan keseluruhan diri kamu kepadanya, barulah kamu mendapat peluang, tetapi kamu tidak mendapat kepastian ilmu akan memberikan sebagian tersebut kepada kamu.” (an Nazzam, petikan oleh al Jahiz dalam Knowledge Triumphant, Franz Rosenthal).

  4. Syarat-Syarat Ilmu (Barat) • Objektif. Ilmu harus memiliki objek kajian yang terdiri dari satu golongan masalah yang sama sifat hakikatnya, tampak dari luar maupun bentuknya dari dalam. Objeknya dapat bersifat ada, atau mungkin ada karena masih harus diuji keberadaannya. Dalam mengkaji objek, yang dicari adalah kebenaran, yakni persesuaian antara tahu dengan objek, dan karenanya disebut kebenaran objektif; bukan subjektif berdasarkan subjek peneliti atau subjek penunjang penelitian. • Metodis adalah upaya-upaya yang dilakukan untuk meminimalisasi kemungkinan terjadinya penyimpangan dalam mencari kebenaran. Konsekuensi dari upaya ini adalah harus terdapat cara tertentu untuk menjamin kepastian kebenaran. Metodis berasal dari kata Yunani “Metodos” yang berarti: cara, jalan. Secara umum metodis berarti metode tertentu yang digunakan dan umumnya merujuk pada metode ilmiah. • Sistematis. Dalam perjalanannya mencoba mengetahui dan menjelaskan suatu objek, ilmu harus terurai dan terumuskan dalam hubungan yang teratur dan logis sehingga membentuk suatu sistem yang berarti secara utuh, menyeluruh, terpadu , mampu menjelaskan rangkaian sebab akibat menyangkut objeknya. Pengetahuan yang tersusun secara sistematis dalam rangkaian sebab akibat merupakan syarat ilmu yang ketiga. • Universal. Kebenaran yang hendak dicapai adalah kebenaran universal yang bersifat umum (tidak bersifat tertentu). Contoh: semua segitiga bersudut 180º. Karenanya universal merupakan syarat ilmu yang keempat. Belakangan ilmu-ilmu sosial menyadari kadar ke-umum-an (universal) yang dikandungnya berbeda dengan ilmu-ilmu alam mengingat objeknya adalah tindakan manusia. Karena itu untuk mencapai tingkat universalitas dalam ilmu-ilmu sosial, harus tersedia konteks dan tertentu pula.

  5. Definisi Ilmu • Semacam pengetahuan yang mempunyai ciri, tanda dan syarat tertentu: sistematik, rasional, empiris,umum dan komulatif (Ralph Ross dan Ernest vd Haag) • Lukisan dan keterangan yang lengkap dan konsisten mengenai hal-hal yang di studinya dalam ruang dan waktu sejauh jangkauan pemikiran dan penginderaan manusia (Karl Pearson)

  6. Sifat Ketidaknetralan Ilmu : • Rene Descartes (1596-1650) :cogito ergo sum yang artinya ”. Rasio adalah satu-satunya pengetahuan, rasiolah sang raja pengetahuan dan ia harus terbebas dari mitos-mitos keagamaan seperti wahyu, Tuhan, credo, nilai dan lain sebagainya • LahirRenaisans (yang berarti kelahiran kembali) dalam ilmu pengetahuan serta diikuti Aufklarung (pencerahan) yang menandakan bangkitnya ilmu pengetahuan dengan prinsip dasar rasionalisme, netralisme dan bebas nilai. • Dikembangkan David Hume (1711-1776), John Locke (1632-1704) Auguste Comte (1798-1857) aliran positivisme dalam sains. • Ciri-ciri positivisme adalah ilmu pengetahuan sebagai sesuatu yang ”bebas nilai” atau ”netral” atau ”objektif”. Paham membuat garis demarkasi antara fakta dan nilai. Fakta berdiri sendiri di luar nilai. Dengan begitu subjek peneliti harus mengambil jarak dengan realita dan bersikap imparsial-netral. Ciri lainnya adalah ”mekanisme”, yaitu semua gejala alam dapat dijelaskan secara mekanikal-determinis seperti layaknya mesin.

  7. Sifat Ketidaknetralan Ilmu (Lanjutan) : • Abad ke-20 paham positivisme sangat mendominasi. Paham ini mempengaruhi para ilmuwan dan mereka yang mempelajari ilmu. • Positivisme bukan sekedar paham dalam cabang ilmu filsafat, tetapi telah menjadi agama baru yang dianut para ilmuwan. • Positivisme telah dilembagakan di institusi-institusi pendidikan dan dijadikan doktrin bagi berbagai ilmu-ilmu yang berkembang dengan tetap berpegang teguh pada prinsip bebas nilai dan objektif. • Muncul istilah ”objektif”. Masalah yang diteliti punya objek jelas, dalam hal ini objek fisik. Ilmu yang objeknya tidak jelas –tidak fisik, maka dinilai tidak objektif. Ilmuwan atau peneliti yang memasukkan unsur nilai ke dalam penelitiannya juga disebut ”tidak objektif”. Objektivitas dimaksudkan untuk memisahkan objek dari subjek peneliti atau ilmuwan itu sendiri. • Positivisme menetapkan syarat ilmu pengetahuan : dapat diamati (observable), dapat diulang (repeatable), dapat diukur (measurable), dapat diuji (testable) dan dapat diramalkan (predictable).

  8. Sifat Ketidaknetralan Ilmu (Lanjutan) : • Paham netralitas ilmu terus berkembang dan dikembangkan oleh para ilmuwan sebagai ide dasar pengembangan ilmu pengetahuan dalam 250 tahun terakhir. • Penolak paham netralitas ilmu : • Ilmuwan Islam : Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Ismail Raji Al-Faruqi, Seyyed Hossein Nasr, Ziauddin Sardar, dan lain-lain. • Ilmuwan Barat : Karl R. Popper, para filsuf Mazhab Frankfurt, Paul Feyerabend, Withehead, Paul Illich, Thomas Kuhn, dan lainnya. • Karl Raimund Popper (1902-1994)  Kita tidak bisa memastikan secara logis telah mencapai kebenaran lewat verifikasi fakta meski juga kita dapat semakin mendekati kepastian semacam itu lewat pengguguran teori-teori yang terbukti salah (falsifikasi). • Thomas S Kuhn ide netralitas ilmu atau bebas nilai hanyalah sekedar ilusi. Paradigmalah yang menentukan jenis eksperimen yang dilakukan para ilmuwan, jenis pertanyaan yang mereka ajukan, dan masalah yang mereka anggap penting.

  9. Sifat Ketidaknetralan Ilmu (Lanjutan) : • Ilmuwan Mazhab Frankfurt  klaim bebas nilai itu menunjukkan vested interest. Di balik itu tersembunyi nilai-nilai ideologis yang mempunyai maksud tersendiri. • Syed M. Naquib Al-Attas  ilmu pengetahuan tidak netral; karena setiap kebudayaan memiliki pemahaman yang berbeda-beda mengenainya. Antara Islam dan kebudayaan Barat terbentang pemahaman yang berbeda mengenai ilmu, dan perbedaan itu begitu mendalam sehingga tidak bisa dipertemukan. • Sardar  “Jika sains itu sendiri netral, maka sikap kita dalam mendekati sains itulah yang menjadikan sains itu sekular atau Islami. Pendekatan Islam mengakui keterbatasan otak dan akal manusia, serta mengakui bahwa semua ilmu pengetahuan itu berasal dari Tuhan.”

  10. Sains • Prof Naquib al Attas: “Perkembangan ilmu sains di Eropah sejak Abad Pertengahannya telah memberi harapan kepada kebudayaan Barat bahawa ilmu sains itulah satu-satunya cabang ilmu pengetahuan dan falsafah yang akan dapat membawa keyakinan terhadap yang dicari-carinya iu.”

  11. Sains • “Maka dengan demikian mereka telah mengenalkan rasionalisme dan empirikisme pada cara berfikir dan menyelidik kepada bidang-bidang ilmu lain seperti ilmu-ilmu kemanusiaan dan kemasharakatan.”

  12. Sains • “Mereka lupa bahawa ilmu sains adalah satu dari pelbagai cabang ilmu-ilmu yang menjadi dari pohon Ilmu, dan yang bertujuan menghasilkan pengetahuan termasuk cara-cara menguji, mengkaji, mencuba, perkara-perkara yang terhad pada jasmani di alam tabii. Ia seakan-akan ilmu yang diperalatkan bagi kegunaan insan; dan hasil serta kejayaannya sebagai alat tiada dapat dijadikan nilai atau penilai dan bukan maksudnya menjadi penilai kehidupan.”

  13. Mungkinkah Mengetahui? Sofisme (السوفسطائية) : Semua kebenaran relatif. Ukuran kebenaran itu manusia (man is the measure of all things). Karena manusia berbeda-beda, jadi kebenaran pun berbeda-beda tergantung manusianya. Menurut anda mungkin benar, tetapi menurut saya tidak.

  14. Maka muncullah Socrates, yang jejaknya diikuti oleh Plato dan Aristoteles. Menurut mereka tidak semua kebenaran relatif, ada kebenaran yang umum, yang mutlak benar bagi siapapun. Kebenaran ini disebut idea oleh Plato, dan definisi oleh Aristoteles.

  15. SOFISME MODERN Skeptisisme: Menolak semua klaim kebenaran. Meragukan kebenaran dan membenarkan keraguan. Relativisme : Menganggap semua orang dan golongan sama-sama benar, semua pendapat (agama, aliran, sekte, kelompok, dan lain sebagainya) sama benarnya. Cikal-bakal pluralisme agama.

  16. ISLAM MENENTANG SOFISME Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (QS. Al-Fatihah [1]: 6-7) Alif laam miim, Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa. (QS. Al-Baqarah [2] : 1-2) Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu. (QS. Al-Baqarah [2] : 147) Islam mewajibkan pencarian ilmu pengetahuan. Islam selalu memberikan dua pilihan; haqq dan bathil, benar (shawab) dan keliru (khatha`), sejati (shadiq) dan palsu (kadzib), baik (thayyib) dan busuk (khabits), bagus (hasanah) dan jelek (sayyi`ah), lurus (hidayah) dan tersesat (dlalalah).

  17. Ilmu dalam Ajaran Islam Islam mewajikan mencari ilmu pengetahuan. Islam menghormati ilmu dan pencari ilmu dengan setinggi-tingginya Ajaran tersebut menciptakan sebuah budaya ilmu yang universal di kalangan umat Islam. Di mana umat Islam, dengan berpedoman pada ajaran-ajaran yang diyakininya, bersikap terbuka terhadap khazanah keilmuan yang berasal dari peradaban lain, dengan tetap kritis untuk selalu menyelaraskannya dengan nilai dan tuntutan Islam.

  18. Ilmu dalam Peradaban Islam Kaidah deduktif: Bertolak dari prinsip al-Qur`an, Sunnah dan akal yang sehat. Kaidah induktif: Mementingkan fakta kejadian alam semesta serta pengalaman manusia dalam sejarah atau dalam dirinya. Eksesnya, ilmu yang dikembangkan mencakup al-‘ulûm al-syar’iyyah dan ilmu pengetahuan secara umum.

  19. Prestasi Keilmuan Matematika: Menemukan angka nol, aljabar dan logaritma. Kedokteran: al-Qânûn fi al-Tibb (The Canon) telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin pada kira-kira abad ke-12, dan telah menjadi textbook utama selama 600-700 tahun di universitas-universitas terkenal Eropa seperti Oxford, Paris, dan Budapest. Membahas persoalan-persoalan medis, farmasi, farmakologi, dan zoology; di samping ilmu bedah dan saraf.

  20. Prestasi Keilmuan Al-Biruni telah mendahului Newton dalam menemukan hukum gravitasi. al-Biruni, pada awal abad ke-11, telah memahami bahwa bumi ini bulat, mendahului Vasco Da Gama atau Columbus. Ibn Haitsam dalam al-Manâzir telah meneliti spektrum cahaya, meneliti terjadinya pelangi melalui teori refleksi dan refraksi, menciptakan alat-alat optik seperti gelas cembung, cekung dan parabolik, serta lensa-lensa kacamata, teleskop dan "camera obscura", gambar terbalik dalam lensa kamera. Astronomi Islam: non-Ptolemius, mengkritik teori geosentris.

  21. Prestasi Keilmuan Fakhruddin Ar-Razi Ia telah menulis 6 karya dalam ilmu Tafsir, 20 karya dalam ilmu Kalam, 9 karya dalam bidang filsafat, 6 karya dalam ilmu Filsafat dan Kalam, 5 karya dalam Logika, 2 dalam Matematika, 6 karya dalam ilmu Kedokteran, (48 karya dalam MIPA) 9 karya dalam ilmu Syariah, 4 karya dalam bidang sastra, dan masih puluhan lagi karyanya dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan lainnya. Masih banyak juga karyanya masih dalam bentuk manuskrip dan belum dikaji.

  22. Prestasi Keilmuan Fakhruddin Ar-Razi Ar-Razi adalah seorang dokter pada zamannya. Ia juga menulis beberapa komentar terhadap buku-buku kedokteran. Pada usia 35 tahun, ia telah menerangkan bagian-bagian yang sulit dari al-qanun fi al-tibb kepada seorang dokter terkemuka di Sarkhes, yaitu Abd al-Rahman bin Abd al-Karim. Ia juga seorang ahli di bidang ilmu-ilmu Bahasa Arab (Sastra, Balaghah dan tata bahasa). Ia menulis Nihayat al-Ijaz fi Dirayat al-’Ijaz. Dalam karya tersebut, ia mengkritik beberapa pendapat al-Jurjani dan menambahkan beberapa hal baru. Selain itu, kekuatan hafalan Ar-Razi juga luar biasa. Selain menghafal al-Qur’an dan banyak al-Hadist, ia juga menghafal al-Shamil, karya Imam al-Haramayn, al-Mu’tamad, karya Abu al-Husayn al-Basri, dan al-Mustasfa, karya al-Ghazali.

  23. Prestasi Keilmuan Fakhruddin Ar-Razi Dalam penguasaan Al-Razi terhadap berbagai ilmu itu di antaranya pada ilmu-ilmu Rasional, dialah yang pertama kali menjadikan logika sebagai ilmu tersendiri. Fakhruddin al-Razi juga pelopor ilmu kalam baru dengan memasukkan persoalan-persoalan fisika ke dalam metafisika. Sains dan filsafat menjadi wacana dalam ilmu Kalam. Fakhruddin al-Razi menggagas fisika Non-Aristoteles, sebuah teori baru, yang mendahului zamannya. Ia telah mendahului zaman modern Barat, seperti yang selama ini diklaim telah dilakukan oleh Francis Bacon. Teori Fakhruddin al-Razi mengenai objek-objek dalam ilmu pengetahuan alam seperti materi, gerak, waktu, ruang, jarak, dibangun di atas konsep atom.

  24. Apa Itu Pengetahuan? Peradaban Barat modern membedakan pengetahuan ke dalam dua istilah teknis, yaitu science (ilmu pengetahuan) untuk bidang-bidang ilmu fisik atau empiris dan knowledge (pengetahuan) untuk bidang-bidang ilmu nonfisik seperti konsep mental dan metafisika. Konsekuensinya, hanya ilmu yang sifatnya fisik dan empiris saja yang bisa dikategorikan ilmu, sementara sisanya, seperti ilmu agama, tidak bisa dikategorikan ilmu (ilmiah).

  25. Definisi Ilmu Menurut Barat : • Science is empirical, rational, general and cumulative; and it is all four at once. (Ralph Ross dan Ernest Van Den Haag) • Science is the complete and consistent description of the facts of experience in the simplest possible terms. (Karl Pearson) • Science is a systematized knowledge derived from observation, study, and experimentation carried on order to determine the nature of principles of what being studied. (Ashley Montagu) • Ilmu pengetahuan, suatu sistem dari pelbagai pengetahuan yang masing-masing mengenai suatu lapangan pengalaman tertentu yang disusun demikian rupa menurut asas-asas tertentu, hingga menjadi kesatuan; suatu sistem dari pelbagai pengetahuan yang masing-masing didapatkan sebagai hasil pemeriksaan-pemeriksaan yang dilakukan secara teliti dengan memakai metode-metode tertentu (induksi, deduksi). (Ensiklopedia Indonesia)

  26. Definisi Ilmu Barat (lanjutan): • Ilmu pengetahuan itu adalah usaha pemahaman manusia yang disusun dalam satu sistem mengenai kenyataan, struktur, pembagian, bagian-bagian dan hukum-hukum tentang hal yang diselidiki (alam, manusia dan agama) sejauh yang dapat dijangkau daya pemikiran yang dibantu pengindraan manusia itu, yang kebenarannya diuji secara empiris, riset dan eksperimental (Endang Saifuddin Anshori) • Ilmu Pengetahuan adalah suatu proses pemikiran dan analisis yang rasional, sistimatik, logik dan konsisten. Hasilnya dari ilmu pengetahuan dapat dibuktikan dengan percobaan yang transparan dan objektif. …. Sementara agama atau kepercayaan harus diyakini karena tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Keyakinan itu menjadi titik tolak dari pemikiran dan analisis yang juga berlangsung secara rasional, sistimatik, logis dan konsisten. (B.J. Habibie) • Kesimpulan definisi ilmu menurut Barat : Empiris, Rasional, Logis

  27. Makna Harfiah Ilmu Dalam Islam, tidak pernah terjadi pergeseran paradigma pengetahuan. Dari awal tetap istilah 'ilm yang digunakan. Menurut kamus Arabic-English Lexicon, perkataan 'ilm berasal dari kata 'ain-lâm-mîm yang diambil dari kata 'alâmah, yaitu "tanda, penunjuk, atau indikasi yang dengannya sesuatu atau seseorang dikenal; kognisi atau label; ciri-ciri; indikasi; tanda-tanda". Disebabkan hal seperti inilah, sejak dahulu umat Islam menganggap 'ilm (ilmu pengetahuan) berarti al-Qur`an; syari'at; Sunnah; Islam; iman; ilmu spiritual ('ilm al-ladunni), hikmah dan ma'rifah, atau sering juga disebut cahaya (nûr); pikiran (fikrah), sains (khususnya 'ilm yang kata jamaknya 'ulûm), dan pendidikan—yang kesemuanya menghimpun semua hakikat ilmu.

  28. Definisi Ilmu Ilmu merupakan sesuatu yang tidak terbatas (limitless) dan karenanya tidak memiliki ciri-ciri spesifik dan perbedaan khusus yang bisa didefinisikan. Definisi ilmu secara hadd mustahil Definisi ilmu secara rasmi (deskriptif): Pertama, sebagai sesuatu yang berasal dari Allah swt, bisa dikatakan bahwa ilmu itu adalah datangnya (hushûl) makna sesuatu atau objek ilmu ke dalam jiwa pencari ilmu; kedua, sebagai sesuatu yang diterima oleh jiwa yang aktif dan kreatif, ilmu bisa diartikan sebagai datangnya jiwa (wushûl) pada makna sesuatu atau objek ilmu

  29. Definisi Ilmu (Prof Naquib al Attas) • Ilmu adalah tibanya ma’na ke dalam diri serempak dengan tibanya diri kepada ma’na. • Ilmu adalah pengenalan terhadap yang dikenali sebagaimana adanya. Pengenalan ini pengenalan yang yakin tentang kebenarannya, dan merujuk kepada hikmah. Maka ilmu adalah sesuatu yang meyakinkan dan memahamkan dengan nyata. Mengenali dan mengetahui sesuatu itu adalah mengenali dan mengetahui sebab-sebab wujud dan keadaan sesuatu yang dikenali dan diketahui.

  30. Definisi Ilmu (Prof Naquib al Attas) • Ilmu adalah gerak daya memperoleh atau menghasilkan sesuatu menerusi tilikan akal –yaitu tilikan yang memandang hakikat sesuatu seperti adanya. • Ilmu juga perolehan kalbu mengenai sesuatu, yang menggambarkan hakikatnya dengan secara tepat dan jernih, baikpun hakikat itu hakikat yang zhahir di alam shahadah mahupun yang batin di alam ghaib. • Ilmu adalah penetapan diri atau kalbu tentang kebenaran sesuatu sewaktu shak dan ragu-ragu timbul mengenainya.

  31. Definisi Ilmu (Prof Naquib al Attas) • Ilmu itu kepercayaan yang teguh dan tiada berubah di dalam kalbu • Ilmu adalah suatu gerak daya ke arah penjelasan, penetapan dan penentuan. • Ilmu itu pengikraran terhadap kebenaran. • Ilmu itu i’tikad mengenai hakikat sesuatu seperti adanya • Ilmu itu mengakibatkan ketenteraman diri

  32. Definisi Ilmu (Prof Naquib al Attas) • Ilmu itu merupakan peringatan, gambaran akal, renungan, pandangan batin • Ilmu adalah suatu sifat yang menghapuskan kejahilan, shak dan dugaan • Ilmu itu cahaya yang diletakkan Allah SWT dalam kalbu • Ilmu itu perkara dalaman bukan perkara luaran diri

  33. Definisi Ilmu (Prof Naquib al Attas) • Atas premis bahawa ilmu itu datang daripada Allah s.w.t. dan diperoleh jiwa yang kreatif, beliau membahagikan pencapaian dan pendefinisian ilmu secara deskriptif ke dalam dua bahagian. Pertama, sebagai sesuatu yang berasal daripada Allah s.w.t., dapat dikatakan bahawa ilmu itu adalah tibanya makna sesuatu objek ilmu ke dalam jiwa pencari ilmu (husul surat al-shay’ fi al-‘aql); kedua, sebagai sesuatu yang diterima oleh jiwa yang aktif dan kreatif, ilmu dapat diberikan sebagai tibanya jiwa pada makna sesuatu objek ilmu. (wusul al-nafs ila ma‘na al-shay’)

  34. Definisi Ilmu (Prof Naquib al Attas) • “Kita harus mengetahui dan menyadari bahwa sebenarnya ilmu pengetahuan tidak bersifat netral; bahwa setiap kebudayaan memiliki pemahaman yang berbeda-beda mengenainya –meskipun diantaranya terdapat beberapa persamaan. Antara Islam dan kebudayaan Barat terdapat pemahaman yang berbeda mengenai ilmu, dan perbedaan itu begitu mendalam sehingga tidak bisa dipertemukan.”

  35. إن العلم ما قام عليه الدليل والنافع منه ما جاء به الرسول فالشأن فى أن نقول علما وهو النقل المصدق والبحث المحقق • Sesungguhnya ilmu itu adalah yang bersandar pada dalil, dan yang bermanfaat darinya adalah apa yang dibawa oleh Rasul. Maka sesuatu yang bisa kita katakan ilmu itu adalah penukilan yang benar dan penelitian yang akurat (Ibn Taimiyyah) • Ma’rifat al-syai’ ’alaa maa huwa bihii”, yaitu pengetahuan tentang sesuatu sebagaimana adanya. (Al-Baaqillaani) • Jadi kesimpulannya, ilmu dalam pandangan Islam mempunyai ruang lingkup yang lebih luas daripada sains dalam istilah peradaban Barat. Sains membatasi dirinya pada hal-hal yang bersifat fisik, sedangkan ilmu dalam pandangan Islam masih tetap meliputi tidak hanya fisik tetapi juga metafisika.

  36. Bagaimana Kita Bisa Mengetahui? Rasionalisme: Mendasarkan diri pada rasio, logis Empirisme: Mendasarkan diri pada indera, empiris Logis-empiris = ilmiah versi Barat (positivisme) Intuisi: Seseorang yang sedang terpusat pemikirannya pada suatu masalah tiba-tiba saja menemukan jawaban atas permasalahan tersebut. Wahyu Iluminasionisme: kasyf, mendapatkan ilham lewat pembersihan diri.

  37. PERSPEKTIF ISLAM al-Nasafi dan al-Attas: perspesi indera (idrâk al-hawâs), proses akal sehat (ta'âqul), intuisi hati (qalb), dan melalui informasi yang benar (khabar shâdiq). Ibn Taimiyyah: khabar, akal dan indera, baik indera lahir, yakni panca indera, atau indera batin, yakni intuisi hati. Pengetahuan yang diperoleh lewat ilhâm tidak boleh bertentangan dengan khabar yang statusnya lebih kuat. Karena selain sama-sama berasal dari Allah swt, khabar ini juga disampaikan kepada manusia pilihan-Nya, yaitu para Nabi

  38. Al-Ghazali : Hâkim dalam makna pemutus benar tidaknya sesuatu itu ada tiga, yaitu hissî (indera), wahmî (intuisi), dan 'aqlî (akal). Ditambah wahyu sebagaimana dijelaskan dalam Tahafut al-Falasifah. al-Ghazali hanya mengakui saluran wahmî dari orang yang dikuatkan oleh Allah swt dengan taufiq-Nya, yakni orang yang dimuliakan Allah swt disebabkan orang yang bersangkutan hanya menempuh jalan yang haqq al-Baqillani: hâssat al-bashar (indera melihat), hâssat al-sam' (indera mendengar), hâssat al-dzauq (indera mengecap), hâssat al-syamm (indera mencium), hâssat al-lams (indera merasa dan meraba), dan non-indera, yaitu intuisi, akal, dan khabar.

  39. Kompromi Akal dan Wahyu Menurut Ibn Taimiyyah, pertentangan antara akal dan wahyu ada disebabkan pemahaman yang menyimpang, yakni: tabdîl (pengubahan) terhadap konsep wahyu dan tajhîl (pembodohan) dengan menilai bahwa apa yang disampaikan para Nabi tidak cukup disebabkan ketidaktahuan para Nabi terhadap fenomena yang sebenarnya.

  40. Kompromi Akal dan Wahyu Perlu ditegaskan bahwa ajaran agama yang dibawa Rasul saw kedudukannya ma'lûm bi al-idthirâr (mudah sekali untuk dimengerti). Seperti kewajiban ibadah, keharaman fahsyâ, tauhîd-nya Sang Pencipta, dan adanya hari akhir. Maka ketika ada dalil 'aqlî qat'î yang menentangnya, dalil 'aqlî tersebut nyata kebatilannya. Karena jika tidak, berarti sang pemilih dalil 'aqlî tersebut telah mendustakan Rasul saw, dan ini merupakan bentuk kekufuran yang sharih.

  41. Kompromi Akal dan Wahyu • Jika yang bertentangan salah satunya qat'î dan satunya lagi zannî, maka yang qat'î harus diambil. Walaupun yang terjadi dalil 'aqlî­nya yang qat'î dan dalil sam'î-nya yang zannî. • Jika yang bertentangan tersebut kedua-duanya zannî, maka harus dilakukan tarjîhuntuk memilih mana yang paling râjih(kuat) di antara keduanya. Tidak perlu harus selalu dengan mendahulukan sam'î atas 'aqlî.

  42. Klasifikasi Pengetahuan Al-Ghazali : syar'iyyah dan ghair syar'iyyah Ibn Taimiyyah : syar'iyyah dan 'aqliyyah al-'Utsaimin : syar'î dan nazarî Oliver Leaman : 'âlam syahâdah dan 'âlam al-ghâ`ib Agama jangan diukur oleh akal dan indera saja dengan menafikan wahyu, dan sains jangan dicari-cari pembenarannya dari dalil-dalil agama.

  43. HierarkiPengetahuan Fardu 'ain: Ilmu yang berkaitan dengan kewajiban dan larangan yang kena kepada setiap individu (pokok-pokok 'aqîdah, 'ibâdah, dan sulûk/akhlâq). Sementara fardu kifâyah adalah yang selebihnya dari itu. Ibn Taimiyyah: "ilmu yang bermanfaat“ adalah ilmu yang bersumber pada wahyu. Al-Attas: Hubungan antara ilmu agama dan dunia, sangat jelas. Yang pertama menyingkap rahasia Being dan Eksistensi, menerangkan dengan sebenar-benarnya hubungan antara diri manusia dan Tuhan, dan menjelaskan maksud dari mengetahui sesuatu dan tujuan kehidupan yang sebenarnya. Konsekuensinya, kategori ilmu yang pertama harus membimbing yang kedua. Jika tidak, ilmu yang kedua ini akan membingungkan manusia

  44. Klasifikasi Ilmu Menurut al Farabi (Ihya al ‘Ulum): • Ilmu Bahasa • Logika • Ilmu-ilmu Persiapan: Aritmetika, Geometri, Optika, Ilmu Benda Angkasa, Musik, Ilmu Bobot dan Ilmu Pembuatan Alat • Fisika dan Metafisika • Ilmu Masyarakat

  45. Klasifikasi Ilmu Menurut Imam al Ghazali (Ihya’ Uluumiddin): • Tingkat Pertanggungjawaban: • Ilmu Fardhu Ain • Ilmu Fardhu Kifayah • Sumbernya: • ‘Ulum Syar’iyyah • ‘Ulum ghair Syar’iyyah

  46. Klasifikasi Ilmu • Fungsi Sosial: • Ilmu Mahmudi • Ilmu Madzmumi

  47. Klasifikasi Ilmu • Menurut Ibn Khaldun: • Ilmu-ilmu syar’iyyah, naqliyyah atau wadh’iyyah • Ilmu-ilmu falsafiyyah, ‘aqliyyah atau thabi’iyah

  48. Klasifikasi Ilmu • Ayat Kauniyyah (Works of Allah) • Ayat Qur’aniyyah (Words of Allah) • Ayat Kauniyyah: • Ilmu-ilmu Pengetahuan Alam (Natural Sciences) • Ilmu-ilmu Pengetahuan Sosial (Social Sciences)

  49. Ilmu-ilmu Pengetahuan Alam (Natural Sciences) Biologi Antropologi Fisik Ilmu Kedokteran Ilmu Farmasi Ilmu Pertanian Ilmu Pasti Ilmu Alam Ilmu Teknik Ilmu Geologi dll Ilmu-ilmu Pengetahuan Sosial (Social Sciences) Ilmu Hukum Ilmu Ekonomi Ilmu Jiwa Sosial Ilmu Bumi Sosial Sosiologi Antropologi Sosial/Budaya Ilmu Sejarah Ilmu Politik Ilmu Pendidikan Ilmu Komunikasi dll Klasifikasi Ilmu (Barat)

  50. Klasifikasi Ilmu (Barat) • Ilmu Humaniora: • Ilmu Agama • Ilmu Filsafat • Ilmu Bahasa • Ilmu Seni • Ilmu Jiwa • dll

More Related