Standar operating prosedur dalam pelayanan obstetri emergensi call center 119
This presentation is the property of its rightful owner.
Sponsored Links
1 / 110

STANDAR OPERATING PROSEDUR DALAM PELAYANAN OBSTETRI EMERGENSI CALL CENTER 119 PowerPoint PPT Presentation


  • 602 Views
  • Uploaded on
  • Presentation posted in: General

STANDAR OPERATING PROSEDUR DALAM PELAYANAN OBSTETRI EMERGENSI CALL CENTER 119. Tujuan Umum. SPGDT Dinkes Jateng. Format SPK. Pernyataan Standar. Risiko Kehamilan. Kendala Kesehatan Maternal. Pedoman Merujuk. Pre Eklamsia. STANDAR OPERATING PROSEDUR DALAM PELAYANAN OBSTETRI EMERGENSI.

Download Presentation

STANDAR OPERATING PROSEDUR DALAM PELAYANAN OBSTETRI EMERGENSI CALL CENTER 119

An Image/Link below is provided (as is) to download presentation

Download Policy: Content on the Website is provided to you AS IS for your information and personal use and may not be sold / licensed / shared on other websites without getting consent from its author.While downloading, if for some reason you are not able to download a presentation, the publisher may have deleted the file from their server.


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - E N D - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Presentation Transcript


Standar operating prosedur dalam pelayanan obstetri emergensi call center 119

STANDAR OPERATING PROSEDUR DALAM PELAYANANOBSTETRI EMERGENSICALL CENTER 119

Tujuan Umum

SPGDT Dinkes Jateng

Format SPK

Pernyataan Standar

Risiko Kehamilan

Kendala Kesehatan Maternal

Pedoman Merujuk

Pre Eklamsia


Standar operating prosedur dalam pelayanan obstetri emergensi

STANDAR OPERATING PROSEDUR DALAM PELAYANANOBSTETRI EMERGENSI

Dr RATNASARI DWI CAHYANTI, MsiMed, SpOG

Dr R SOERJO HADIJONO SpOG-K, DTRM&B(Ch)

Sub Bagian Obginsos FK Undip – RSUP Dr Kariadi Semarang

P2KS- Jaringan Nasional Pelatihan Klinik – Kesehatan Reproduksi


Tujuan umum

TUJUAN UMUM

  • Agar dalampelaksanaanpelayananke-bidanandidapatkanhasil yang memenuhistandartertentu yang amandanefektif.

  • Masyarakat agar mempunyaikeper-cayaan yang lebihmantapterhadappelaksanapelayanankebidanan.

  • Untukmenentukankompetensi yang di-perlukanbagiBidanpraktek.

  • Untukmenentukankebutuhan opera-sional.

Ke Menu


Format spk

FORMAT SPK

  • Tujuan

  • Pernyataan Standar

  • Hasil

  • Prasyarat

  • Proses

Ke Menu


Faktor kualitas pelayanan

FAKTOR KUALITAS PELAYANAN

  • SDM provider

  • Sistem & standar pelayanan kebidanan

  • Fasilitas

  • Perilaku / budaya masyarakat

  • Tingkat pendidikan & pengetahuan masyarakat

  • Sosial ekonomi masyarakat

Ke Menu


Standar operating prosedur dalam pelayanan obstetri emergensi call center 119

TUJUAN :

Merupakan tujuan standar.

PERNYATAAN STANDAR :

Pernyataan pelayanan kebidanan yang dilakukan – tingkat kompetensi yang diharapkan.

HASIL :

Yang akan dicapai, dinyatakan dalam bentuk yang dapat diukur.

PRASYARAT :

Hal - hal yang diperlukan obat, alat, ketrampilan.

PROSES :

Langkah - langkah yang perlu diikuti.

Ke Menu

Ke Menu


Standar operating prosedur dalam pelayanan obstetri emergensi call center 119

INGAT :

Hal - hal yang perlu diingat,

Ringkasan, hasil penelitian,

yang berpengaruh terhadap

pelayanan kebidanan.

Ke Menu


Setiap kehamilan berisiko pendekatan terbaru untuk menurunkan kematian ibu

SETIAP KEHAMILAN BERISIKOPENDEKATAN TERBARU UNTUK MENURUNKAN KEMATIAN IBU

Ke Menu


Kendala kesehatan maternal

Kendala Kesehatan Maternal

  • Keterbatasan akses pada pertolongan persalinan oleh tenaga terampil dan sistem rujukan yang tidak memadai mengakibatkan:

    • hampir 40% wanita melahirkan tanpa pertolongan tenaga kesehatan terampil dan

    • 70% tidak mendapatkan pelayanan pasca persalinan dalam waktu 6 minggu setelah persalinan.

Ke Menu


Tiga terlambat penyebab kematian ibu

Tiga terlambat penyebab kematian ibu

  • Terlambat satu : terlambat memutuskan untuk mencari pertolongan baik secara individu, keluarga atau keduanya.

  • Terlambat dua : terlambat mencapai fasilitas pelayanan kesehatan.

  • Terlambat tiga : terlambat mendapatkan pelayanan yang adekuat.

Ke Menu


Empat terlalu

Empat TERLALU

  • Terlalu muda untuk menikah (< 20 tahun)

  • Terlalu tua untuk hamil (> 35 tahun)

  • Terlalu sering untuk hamil (< 2 tahun)

  • Terlalu banyak melahirkan (> 4 anak)

    • disamping mempunyai pengaruh terhadap angka kematian ibu, juga mempunyai dampak terhadap angka kematian bayi dan pertumbuhan & perkembangan bayi

Ke Menu


Standar operating prosedur dalam pelayanan obstetri emergensi call center 119

Ke Menu


Merujuk

MERUJUK

  • KERJASAMA TIM RUJUKAN

  • STABILISASI

  • KOMUNIKASI

Ke Menu


Standar operating prosedur dalam pelayanan obstetri emergensi call center 119

MENGENALI

MERUJUK

MENANGGAPI

Ke Menu


Standar operating prosedur dalam pelayanan obstetri emergensi call center 119

MENGENALI

  • Ibu A, 22 tahun, G1P0A0, hamil 38 minggu, dengan riwayat preeklampsia ringan pada kunjungan 1 minggu y.l. dengan hasil pemr.:

    • Tensi 140/90 mmHg, Nadi 84/menit, keluhan pusing (-), nyeri epigastrium (-), gangguan penglihatan (-).

  • Klien mengeluhkan adanya pusing dan nyeri pada daerah epigastrium

    • Tensi 150/110 mmHg, Nadi 84/menit, terdapat keluhan pusing (+), nyeri pada daerah epigastrium (+) dan tidak didapatkan adanya gangguan penglihatan.

    • Pemeriksaan laboratorium: Proteinuria 2+

    • His teratur 3 kali dalam 10 menit 40-50 detik. Bagian terbawah janin kepala dengan penurunan 3/5, pembukaan serviks 4 cm, kulit ketuban masih utuh.

Ke Menu


Standar operating prosedur dalam pelayanan obstetri emergensi call center 119

MENGENALI

KEPUTUSAN KLINIK

  • G1P0A0, 22 tahun, hamil 38 minggu

  • Anak 1 hidup intrauterin, Letak kepala sudah masuk ke panggul

  • Inpartu kala I, fase aktif

  • Preeklampsia berat

    SIKAP (Upaya stabilisasi)

  • Pasang infus Ringer Laktat dan pemberian MgSO4 40% dosis inisial 4 gram, dosis pemeliharaan 6 gr MgSO4 / 6 jam

  • Rujuk, pertimbangkan jarak ke RS Rujukan

  • Komunikasi dengan RSUD/RS SWASTA/Puskesmas

Ke Menu


Standar operating prosedur dalam pelayanan obstetri emergensi call center 119

RUJUKAN

  • Tenaga kesehatan terampil (Bidan)

  • Alat

  • Keluarga

  • Surat rujukan

  • Obat

  • Kendaraan / Transportasi

  • Uang

Ke Menu


Standar operating prosedur dalam pelayanan obstetri emergensi call center 119

TANGGAP

  • Response time

  • Pengawasan keadaan umum

  • Pengawasan persalinan dengan partograf

  • Koordinasi dengan Dr Spes. Anak / disiplin lain

  • Tindakan

  • Jawaban Rujukan

  • Kontrasepsi

Ke Menu


Preeklampsia eklampsia

PREEKLAMPSIAEKLAMPSIA

Ke Menu


Pendahuluan

PENDAHULUAN

  • 50,000 kematian ibu / tahun

  • Insidens Eklampsia di negara berkembang 1:100 – 1:1700

  • Pergeseran penyebab kematian utama di Jawa Tengah 31,29% tahun 2011

  • MAGNESIUM SULFAT ditetapkan sebagai OBAT PALING EFEKTIF untuk mengatasi kejang eklampsia (Cochrane Database Syst Rev 2010)


Prinsip dasar

PRINSIP DASAR

  • WANITA HAMIL ATAU BARU MELAHIRKAN MENGELUH NYERI KEPALA HEBAT ATAU PENGLIHATAN KABUR

  • WANITA HAMIL ATAU BARU MELAHIRKAN MENDERITA KEJANG ATAU KEHILANGAN KESADARAN / KOMA


Penilaian klinik

PENILAIAN KLINIK

TEKANAN DARAH MENINGKAT

( 140/90 mmHg)

HIPERTENSI KRONIK

NYERI KEPALA GANGGUAN PENGLIHATAN HIPERREFLEKSIA PROTEINURIA KOMA

HAMIL < 20 MG

SUPERIMPOSED PREECLAMPSIA

EKLAMPSIA

KEJANG +

HAMIL > 20 MG

HIPERTENSI

PREEKLAMPSIA RINGAN

KEJANG –

PREEKLAMPSIA BERAT


Penilaian klinik1

PENILAIAN KLINIK

KEJANG RIWAYAT KEJANG DEMAM (-) KAKU KUDUK (-)

EPILEPSI

MALARIA SEREBRAL MENINGITIS ENSEFALITIS

DEMAM NYERI KEPALA KAKU KUDUK (+) DISORIENTASI

TEKANAN DARAH NORMAL

TRISMUS SPASME OTOT MUKA

TETANUS

NYERI KEPALA GANGGUAN PENGLIHATAN MUNTAH RIWAYAT GEJALA SERUPA

MIGRAINE


Hipertensi karena kehamilan

HIPERTENSI KARENA KEHAMILAN

  • LEBIH SERING PADA PRIMIGRAVIDA

  • RISIKO MENINGKAT PADA

    • MASSA PLASENTA BESAR (GEMELI, PENYAKIT TROFOBLAS)

    • HIDRAMNION

    • DIABETES MELLITUS

    • ISOIMUNISASI RHESUS

    • FAKTOR HEREDITER

    • MASALAH VASKULER

  • HIPERTENSI KARENA KEHAMILAN

    • HIPERTENSI TANPA PROTEINURIA ATAU EDEMA

    • PREEKLAMPSIA RINGAN

    • PREEKLAMPSIA BERAT

    • EKLAMPSIA


Diagnosis preeklampsia berat

DIAGNOSIS PREEKLAMPSIA BERAT

  • TEKANAN DARAH DIASTOLIK > 110 mmHg

  • PROTEINURIA  2+

  • OLIGURIA < 400 ml/24 JAM

  • EDEMA PARU: NAFAS PENDEK, SIANOSIS, RONKHI

  • NYERI EPIGASTRIUM/KUADRAN ATAS KANAN

  • GANGGUAN PENGLIHATAN: SKOTOMA

  • NYERI KEPALA HEBAT

  • HIPERREFLEKSIA

  • MATA: SPASME ARTERIOLER, EDEMA, ABLASIO RETINA

  • KOAGULASI: KOAGULASI INTRAVASKULER DISSEMI-NATA, SINDROM HELLP

  • PERTUMBUHAN JANIN TERHAMBAT

  • OTAK: EDEMA SEREBRI

  • JANTUNG: GAGAL JANTUNG


Eklampsia

EKLAMPSIA

  • KEJANG DAPAT TERJADI TANPA

    TERGANTUNG PADA BERAT

    RINGANNYA HIPERTENSI

  • SIFAT KEJANG TONIK-KLONIK

  • KOMA TERJADI SETELAH KEJANG DAN DAPAT BERLANGSUNG LAMA


Komplikasi

KOMPLIKASI

  • ISKEMIA UTEROPLASENTER

  • SPASME ARTERIOLAR

  • KEJANG DAN KOMA

  • PENANGANAN TIDAK TEPAT


Pencegahan

PENCEGAHAN

  • PEMBATASAN KALORI, CAIRAN dan DIIT RENDAH GARAM TIDAK MENCEGAH HIPERTENSI DALAM KEHAMILAN BAHKAN MEMBAHAYAKAN JANIN

  • MANFAAT ASPIRIN, KALSIUM DLL. BELUM TERBUKTI

  • DETEKSI DINI DAN PENANGANAN CEPAT-TEPAT


Alur terapi

ALUR TERAPI

TERMINASI KEHAMILAN

HIPERTENSI KARENA KEHAMILAN TANPA PROTEINURIA

HAMIL > 37 MG

HAMIL < 37 MG

PEMANTAUAN TEKANAN DARAH

MENINGKAT

PREEKLAMPSIA


Alur terapi1

ALUR TERAPI

TERMINASI KEHAMILAN

HAMIL > 37 MG

PREEKLAMPSIA RINGAN

PEMANTAUAN TEKANAN DARAH, PROTEINURIA, REFLEKS, KONDISI JANIN

HAMIL < 37 MG

KENAIKAN TEKANAN DARAH

KENAIKAN PROTEINURIA

GANGGUAN PERTUMBUHAN JANIN

RAWAT INAP

TERMINASI KEHAMILAN

PREEKLAMPSIA


Pengelolaan preeklampsia ringan

PENGELOLAANPREEKLAMPSIA RINGAN

  • JIKA KEHAMILAN < 37 MINGGU DAN TIDAK TERJADI PERBAIKAN, LAKUKAN PENILAIAN 2 KALI/MG RAWAT JALAN

    • PEMANTAUAN TEKANAN DARAH 2X/HR, PROTEINURIA 1X/HR & KONDISI JANIN

    • BANYAK ISTIRAHAT

    • DIIT BIASA

    • TIDAK PERLU PENGOBATAN


Pengelolaan preeklampsia ringan1

PENGELOLAANPREEKLAMPSIA RINGAN

  • JIKA KEHAMILAN < 37 MINGGU DAN TIDAK MEMUNGKINKAN RAWAT JALAN, RAWAT DI RS

    • PEMANTAUAN TEKANAN DARAH 2X/HR, PROTEINURIA 1X/HR & KONDISI JANIN

    • BANYAK ISTIRAHAT

    • DIIT BIASA

    • TIDAK PERLU PENGOBATAN

    • TIDAK PERLU DIURETIK, KECUALI TERDAPAT EDEMA PARU, DEKOMPENSASI KORDIS & GAGAL GINJAL AKUT

    • PERTUMBUHAN JANIN TERHAMBAT  PERTIMBANGKAN TERMINASI

    • PROTEINURIA  KELOLA SEBAGAI PREEKLAMPSIA BERAT

    • TEKANAN DIASTOLIK TURUN SAMPAI NORMAL

      • PASIEN DIPULANGKAN

      • ISTIRAHAT & PERHATIKAN TANDA PREEKLAMPSIA BERAT

      • TEKANAN DIASTOLIK NAIK  RAWAT


Pengelolaan preeklampsia ringan2

PENGELOLAANPREEKLAMPSIA RINGAN

  • JIKA KEHAMILAN > 37 MINGGU PERTIMBANGKAN TERMINASI KEHAMILAN

    • SERVIKS MATANG LAKUKAN INDUKSI OKSITOSIN 5 IU / 500 ml DEKSTROSE 5% 10 TETES/MENIT ATAU PROSTAGLANDIN

    • SERVIKS BELUM MATANG  PROSTAGLANDIN / MISOPROSTOL / KATETER FOLEY / BEDAH CAESAR


Alur terapi2

ALUR TERAPI

KEJANG

ANTI KONVULSAN

PREEKLAMPSIA BERAT DAN EKLAMPSIA

 ANTI KONVULSAN  ANTI HIPERTENSI  PASANG INFUS  KESEIMBANGAN CAIRAN  PENGAWASAN  OBSERVASI TANDA VITAL, REFLEKS, DJJ, EDEMA PARU, UJI PEMBEKUAN DARAH

GAWAT JANIN

OLIGURIA SINDROM HELLP

KOMA

PERSALINAN 12 JAM (EKLAMPSIA) / 24 JAM (PREEKLAMPSIA)

PARTUS PERVAGINAM

BEDAH CAESAR

RUJUK


Pengelolaan preeklampsia berat eklampsia

PENGELOLAANPREEKLAMPSIA BERAT & EKLAMPSIA

  • PENGELOLAAN KEJANG

    • ANTI KONVULSAN

    • PERLENGKAPAN PENGELOLAAN KEJANG

    • LINDUNGI DARI TRAUMA

    • ASPIRASI MULUT DAN TENGGOROK

    • BARINGKAN PADA SISI KIRI, TRENDELENBURG

    • O2 4-6 LITER/MEN


Pengelolaan preeklampsia berat eklampsia1

PENGELOLAANPREEKLAMPSIA BERAT & EKLAMPSIA

  • PENGELOLAAN UMUM

    • JIKA DIASTOLIK ≥ 110 mmHg BERIKAN ANTI HIPERTENSI SAMPAI DIASTOLIK ANTARA 90-100 mmHg

    • PASANG INFUS RINGER LAKTAT

    • UKUR KESEIMBANGAN CAIRAN

    • KATETERISASI URIN

    • JIKA JUMLAH URIN < 300 ML/JAM  PANTAU EDEMA PARU

    • PENGAWASAN

    • OBSERVASI TANDA VITAL, REFLEKS & DJJ TIAP 1 JAM

    • LAKUKAN UJI PEMBEKUAN DARAH


Pengelolaan antihipertensi

Pengelolaan antihipertensi

  • Obat pilihan adalah Nifedipin, yang diberikan 5-10 mg oral yang dapat diulang sampai 8 kali/24 jam

  • Jika respons tidak membaik setelah 10 menit, berikan tambahan 5 mg Nifedipin sublingual.

  • Labetolol 10 mg oral. Jika respons tidak membaik setelah 10 menit, berikan lagi Labetolol 20 mg oral.


Pengelolaan persalinan

PENGELOLAAN PERSALINAN

  • PREEKLAMPSIA BERAT  PERSALINAN DALAM 24 JAM

  • EKLAMPSIA  PERSALINAN DALAM 12 JAM

  • BILA DILAKUKAN BEDAH CAESAR

    • TIDAK ADA KOAGULOPATI

    • ANESTESIA TERPILIH ANESTESIA UMUM

  • JIKA TIDAK TERSEDIA ANESTESI UMUM

    • JANIN MATI

    • BBLR

    • LAKUKAN PERSALINAN PERVAGINAM

  • JIKA PEMATANGAN SERVIKS BAIK  INDUKSI OKSITOSIN 5 IU / 500 ML DEKSTROSE 5% ATAU PROSTAGLANDIN


Lakukan rujukan bila

LAKUKAN RUJUKAN BILA:

  • OLIGURIA (< 400 ml/24 jam)

  • Sindroma HELLP

    (HEMOLYSIS, ELEVATED LIVER ENZYMES & LOW PLATELETS)

  • KOMA BERLANJUT > 24 JAM SETELAH KEJANG


Perawatan postpartum

PERAWATAN POSTPARTUM

  • Anti konvulsan diteruskan sampai 24 jam postpartum / kejang terakhir

  • Anti hipertensi jika tekanan diastolik > 110 mmHg

  • Pemantauan jumlah urin


Prosedur rujukan

Prosedur Rujukan

  • Rawat jalan dengan pengawasan pada kasus preeklampsia ringan.

  • Rujukan konsultatif dan perawatan medis ke Puskesmas PONED pada kasus preeklampsia ringan yang tidak menunjukkan perbaikan dengan istirahat.

  • Rujukan konsultatif ke Puskesmas PONED pada kasus dengan hipertensi kronis dengan/tanpa tanda klinis preeklampsia.

  • Rujukan perawatan medis ke rumah sakit kabupaten pada kasus dengan preeklampsia berat / eklampsia setelah pemberian MgSO4 dosis inisial (4 g iv) maupun dosis pemeliharaan (6 g / 6 jam dalam 500 ml RL).

  • Rujukan perawatan medis diikuti tenaga kesehatan dengan perlengkapan pencegahan kejang dan kegawatdaruratan medis.

  • Pada setiap kasus yang dirujuk harus dilakukan komunikasi terlebih dahulu / secara bersamaan dengan institusi pelayanan kesehatan tujuan rujukan.


Demam nifas

DEMAM NIFAS


Prinsip dasar1

PRINSIP DASAR

  • Infeksi pada dan melalui traktus genitalis setelah persalinan

  • Suhu ≥ 38C antara hari ke 2 – 10 postpartum dan diukur per oral sedikitnya 4 kali sehari disebut sebagai morbiding puerperalis.

  • Kenaikan suhu tubuh di dalam masa nifas, dianggap sebagai infeksi nifas jika tidak ditemukan sebab ekstragenital lain


Faktor predisposisi

FAKTOR PREDISPOSISI

  • kurang gizi atau malnutrisi

  • anemia

  • higiene

  • kelelahan

  • proses persalinan bermasalah:

    • partus lama/macet

    • korioamnionitis

    • persalinan traumatik

    • kurang baiknya proses pencegahan infeksi

    • periksa dalam yang berlebihan


Pemberian cairan

Pemberian cairan

  • Suhu Basal kebutuhan cairan 2000 ml/24 jam

  • Tambahan 500 ml untuk setiap peningkatan suhu 1 C


Metritis

METRITIS

  • Metritis adalah infeksi uterus setelah persalinan, merupakan salah satu penyebab terbesar kematian ibu.

  • Dapat menjadi abses pelviks, peritonitis, syok septik, thrombosis vena yang dalam, emboli pulmonal, infeksi pelvik yang menahun, dispareunia, penyumbatan tuba dan infertilitas.


Pengelolaan

Pengelolaan

  • Transfusi PRC (Packed Red Cell) bila dibutuhkan

  • Berikan antibiotika spektrum luas dosis tinggi.

    • Ampisilin 2 g IV, kemudian 1 g setiap 6 jam

    • Gentamisin 5 mg/kg BB IV dosis tunggal/hari

    • Metronidazol 500 mg IV setiap 8 jam.

    • Lanjutkan antibiotika ini sampai ibu tidak panas selama 24 jam.

  • Antitetanus profilaksis.

  • Bila dicurigai ada sisa plasenta, lakukan pengeluaran (digital atau dengan kuret tumpul besar).


Catatan tambahan

Catatan Tambahan

  • Bila metronidazol infus tidak tersedia, dapat menggunakan metronidazol suppositoria

  • Untuk memperbaiki subinvolusio uteri, bisa memanfaatkan misoprostol

  • Evakuasi sisa plasenta yang tidak terlalu banyak bisa menggunakan teknik AVM


Penanganan

Penanganan

  • Bila ada pus lakukan drainase (kalau perlu kolpotomi), ibu dalam posisi Fowler.

  • Bila tak ada perbaikan dengan pengobatan konservatif dan ada tanda peritonitis generalisata lakukan laparotomi dan keluarkan pus.

  • Bila pada evaluasi uterus nekrotik dan septik lakukan histerektomi subtotal.


Bendungan payudara

BENDUNGAN PAYUDARA

  • Peningkatan aliran vena dan limfe pada payudara dalam rangka mempersiapkan diri untuk laktasi.

  • Bukan disebabkan overdistensi dari saluran sistem laktasi


Bila ibu menyusui

Bila ibu menyusui

  • Susukan sesering mungkin.

  • Kedua payudara disusukan.

  • Kompres hangat payudara sebelum disusukan.

  • Bantu dengan memijat payudara untuk permulaan menyusui.

  • Sangga payudara.

  • Kompres dingin pada payudara di antara waktu menyusui.

  • Bila demam tinggi berikan Parasetamol 500 mg per oral setiap 4 jam.

  • Lakukan evaluasi setelah 3 hari untuk mengetahui hasilnya


Bila ibu tidak menyusui

Bila ibu tidak menyusui

  • Sangga payudara.

  • Kompres dingin payudara untuk mengurangi pembengkakan dan rasa sakit.

  • Bila diperlukan berikan Parasetamol 500 mg per oral setiap 4 jam.

  • Jangan dipijat atau memakai kompres hangat pada payudara.

  • Pompa dan kosongkan payudara


Infeksi payudara

INFEKSI PAYUDARA


Mastitis

Mastitis

  • Payudara tegang / indurasi dan kemerahan

  • Kloksasilin 500 mg / 6 jam selama 10 hari.

  • Sangga payudara.

  • Kompres dingin.

  • Bila diperlukan Parasetamol 500 mg per oral setiap 4 jam.

  • Ibu harus didorong menyusui bayinya walau ada pus.

  • Pantau 3 hari setelah pengobatan.


Abses payudara

Abses payudara

  • Terdapat masa padat, mengeras di bawah kulit yang kemerahan.

  • Diperlukan anestesi umum (ketamin).

  • Insisi radial dari tengah dekat pinggir aerola, ke pinggir supaya tidak memotong saluran ASI.

  • Pecahkan kantung pus dengan klem jaringan (pean) atau jari tangan.

  • Pasang tampon dan drain, diangkat setelah 24 jam.

  • Berikan Kloksasilin 500 mg setiap 6 jam selama 10 hari.


Abses payudara1

Abses payudara

  • Sangga payudara.

  • Kompres dingin.

  • Berikan Parasetamol 500 mg setiap 4 jam bila diperlukan.

  • Ibu dianjurkan tetap memberikan ASI walau ada pus.

  • Follow up selama 3 hari.


Abses pelvis

Abses pelvis

  • Bila ada tanda cairan fluktuasi pada daerah cul-de-sac, lakukan kolpotomi atau dengan laparotomi. Ibu posisi Fowler.

  • Antibiotika spektrum luas dalam dosis yang tinggi

    • Ampisilin 2 g IV kemudian 1 g setiap 6 jam, ditambah Gentamisin 5 mg/kg berat badan IV dosis tunggal/hari dan Metronidazol 500 mg IV setiap 8 jam. Lanjutkan antibiotika ini sampai ibu tidak panas selama 24 jam.


Peritonitis

PERITONITIS

  • Pasang selang nasogastrik bila perut kembung akibat ileus.

  • Infus (NaCL atau Ringer laktat) 3000 ml.

  • Antibiotika sehingga bebas panas selama 24 jam:

    • Ampisilin 2 g IV, kemudian 1 g setiap 6 jam,

    • Gentamisin 5 mg/kg BB IV dosis tunggal/hari

    • Metronidazol 500 mg IV setiap 8 jam.

  • Laparotomi diperlukan untuk pembersihan perut (peritoneal lavage) bila terdapat kantong abses.


Infeksi luka perineal dan luka abdominal

INFEKSI LUKA PERINEAL DAN LUKA ABDOMINAL

  • Akibat kurang bersih dan tindakan pencegahan infeksi yang kurang baik.

  • Wound abcess, wound seroma dan wound hematoma pengerasan yang tidak biasa dengan mengeluarkan cairan serous atau kemerahan dan tidak ada/sedikit erithema sekitar luka insisi.

  • Wound cellulitis didapatkan erithema dan edema meluas mulai dari tempat insisi.


Infeksi luka perineal dan luka abdominal1

INFEKSI LUKA PERINEAL DAN LUKA ABDOMINAL

  • Bila didapat pus dan cairan pada luka, buka jahitan dan lakukan pengeluaran serta kompres antiseptik.

  • Daerah jahitan yang terinfeksi dihilangkan dan lakukan debridemen.

  • Bila infeksi sedikit tidak perlu antibiotika.

  • Bila infeksi relatif superfisial, berikan Ampisilin 500 mg per oral selama 6 jam dan Metronidazol 500 mg per oral 3 kali/hari selama 5 hari.


Infeksi luka perineal dan luka abdominal2

INFEKSI LUKA PERINEAL DAN LUKA ABDOMINAL

  • Bila infeksi dalam dan melibatkan otot dan menyebabkan nekrosis, beri Penisilin G 2 juta U IV setiap 4 jam (atau Ampisilin inj 1 g 4 x/hari) + Gentamisin 5 mg/kg berat badan per hari IV sekali + Metronidazol 500 mg IV setiap 8 jam, sampai bebas panas selama 24 jam. Bila ada jaringan nekrotik harus dibuang. Lakukan jahitan sekunder 2 – 4 minggu setelah infeksi membaik.

  • Berikan nasehat kebersihan dan pemakaian pembalut yang bersih dan sering ganti.


Tromboflebitis

TROMBOFLEBITIS

  • Perluasan infeksi nifas yang paling sering ialah perluasan atau invasi mikroorganisme patogen yang mengikuti aliran darah di sepanjang vena dan cabang-cabangnya sehingga terjadi tromboflebitis


Klasifikasi

KLASIFIKASI

  • Pelviotromboflebitis

  • Tromboflebitis femoralis


Pelviotromboflebitis

PELVIOTROMBOFLEBITIS

  • Nyeri, perut bagian bawah dan/atau perut samping, timbul pada hari ke 2 – 3 masa nifas dengan atau tanpa panas.

  • Penderita tampak sakit berat dengan gambaran karakteristik sebagai berikut:

    • Menggigil berulang. Menggigil inisial sangat berat (30 – 40 menit) dengan interval beberapa jam dan kadang-kadang 3 hari. Pada waktu menggigil penderita hampir tidak panas.

    • Suhu badan naik turun secara tajam (36C menjadi 40C), diikuti penurunan suhu dalam 1 jam (biasanya subfebris seperti pada endometritis).


Pelviotromboflebitis1

PELVIOTROMBOFLEBITIS

  • Penyakit dapat berlangsung selama 1 – 3 bulan.

  • Cenderung berbentuk pus, yang menjalar ke mana-mana, terutama ke paru-paru.

  • Gambaran darah:

    • Leukositosis (setelah endotoksin menyebar ke sirkulasi, dapat segera terjadi leukopenia).

    • Kultur darah diambil pada saat yang tepat sebelum mulainya menggigil. Meskipun bakteri ditemukan di dalam darah selama menggigil, kultur sukar dibuat karena bakterinya anaerob.


Pelviotromboflebitis2

PELVIOTROMBOFLEBITIS

  • Pada periksa dalam hampir tidak diketemukan apa-apa karena yang paling banyak terkena ialah vena ovarika yang sukar dicapai pada pemeriksaan.


Komplikasi1

Komplikasi

  • Komplikasi paru: infark, abses, pneumonia

  • Komplikasi ginjal sinistra, nyeri mendadak, yang diikuti dengan proteinuria dan hematuria

  • Komplikasi pada persendian, mata dan jaringan subkutan


Pengelolaan1

Pengelolaan

  • Rawat inap

    • Tirah baring untuk pemantauan gejala penyakit dan mencegah emboli pulmonum.

  • Terapi medik

    • Pemberian antibiotika dan heparin jika terdapat tanda / dugaan emboli pulmonum.

  • Terapi operatif

    • Pengikatan vena kava inferior dan vena ovarika jika emboli septik terus berlangsung.


Tromboflebitis femoralis

TROMBOFLEBITIS FEMORALIS

  • Keadaan umum tetap baik, suhu badan subfebris selama 7 – 10 hari, kemudian suhu mendadak naik kira-kira pada hari ke 10 – 20, yang disertai menggigil dan nyeri.

  • Kaki yang terkena biasanya kaki kiri, akan memberikan tanda-tanda sebagai berikut:

    • Kaki sedikit dalam keadaan fleksi dan rotasi ke luar serta sukar bergerak, lebih panas dibanding dengan kaki lainnya.

    • Seluruh bagian dari salah satu vena pada kaki terasa tegang dan keras pada paha bagian atas.


Tromboflebitis femoralis1

TROMBOFLEBITIS FEMORALIS

  • Nyeri hebat pada lipat paha dan paha.

  • Reflektorik akan terjadi spasmus arteria sehingga kaki menjadi bengkak, tegang, putih, nyeri dan dingin, pulsasi menurun.

  • Edema kadang-kadang terjadi sebelum atau setelah nyeri, pada umumnya terdapat pada paha bagian atas, tetapi lebih sering mulai dari jari kaki dan pergelangan kaki, kemudian meluas dari bawah ke atas.

  • Nyeri pada betis, terjadi spontan atau dengan memijit betis atau dengan meregangkan tendo akhiles (tanda Homan)


Penanganan1

Penanganan

  • Perawatan

    • Kaki ditinggikan untuk mengurangi edema,

    • lakukan kompres pada kaki.

    • Setelah mobilisasi, kaki tetap dibalut elastik / memakai kaos kaki panjang yang elastik selama mungkin.

  • Sebaiknya jangan menyusui.

  • Terapi medik: Antibiotika dan analgetika.


Prosedur rujukan1

Prosedur Rujukan

  • Rujukan konsultatif dan perawatan medis ke Puskesmas PONED pada kasus infeksi nifas setelah pemberian antibiotika yang sesuai.

  • Rujukan perawatan medis ke rumah sakit kabupaten ditentukan di puskesmas PONED setelah komunikasi konsultasi dengan rumah sakit kabupaten pada kasus dengan infeksi nifas setelah pemberian antibiotika yang sesuai.

  • Rujukan perawatan medis diikuti tenaga kesehatan dengan perlengkapan pencegahan kegawatdaruratan medis.

  • Pada setiap kasus yang dirujuk harus dilakukan komunikasi terlebih dahulu / secara bersamaan dengan institusi pelayanan kesehatan tujuan rujukan.


Perdarahan postpartum

PERDARAHAN POSTPARTUM


Perdarahan pasca persalinan

PERDARAHAN PASCA PERSALINAN

  • Definisi: Perdarahan post partum adalah perdarahan melebihi 500 ml yang terjadi setelah bayi lahir.

  • Perdarahan yang lebih dari normal yang telah menyebabkan perubahan tanda vital (ibu mengeluh lemah, limbung, berkeringat dingin, menggigil, hiperpnea, tekanan sistolik < 90 mmHg, nadi > 100/menit, Hb < 8 g%)


Masalah

MASALAH

  • Perdarahan post partum dini yaitu perdarahan setelah bayi lahir dalam 24 jam pertama persalinan dan perdarahan post partum lanjut yaitu perdarahan setelah 24 jam persalinan.

  • Perdarahan post partum dapat disebabkan oleh atonia uteri, robekan jalan lahir, retensio plasenta, sisa plasenta dan kelainan pembekuan darah.


Pengelolaan umum

PENGELOLAAN UMUM

  • PENGELOLAAN SYOK

  • Selalu siapkan tindakan gawat darurat

  • Tata laksana persalinan kala III secara aktif

  • Minta pertolongan pada petugas lain untuk membantu bila dimungkinkan

  • Lakukan penilaian cepat keadaan umum ibu meliputi kesadaran nadi, tekanan darah, pernafasan dan suhu

  • Jika terdapat syok lakukan segera penanganan

  • Periksa kandung kemih, bila penuh kosongkan

  • Cari penyebab perdarahan dan lakukan pemeriksaan untuk menentukan penyebab perdarahan


Atonia uteri

ATONIA UTERI

  • Terjadi bila miometrium tidak berkontraksi

  • Uterus menjadi lunak dan pembuluh darah pada daerah bekas perlekatan plasenta terbuka lebar

  • Penyebab tersering perdarahan postpartum (2/3 dari semua perdarahan postpartum disebabkan oleh atonia uteri)


Faktor risiko

Faktor risiko

  • Hal-hal yang menyebabkan uterus meregang lebih dari kondisi normal :

    • Polihidramnion

    • Kehamilan kembar

    • Makrosomia

  • Persalinan lama

  • Persalinan terlalu cepat

  • Persalinan dengan induksi atau akselerasi oksitosin

  • Infeksi intrapartum

  • Paritas tinggi


Manajemen aktif kala iii

MANAJEMEN AKTIF KALA III

Suntikan Oksitosin 10 IU im

Peregangan Tali Pusat Terkendali

Masase Uterus


Standar operating prosedur dalam pelayanan obstetri emergensi call center 119

  • Suntikan Oksitosin

    • Periksa fundus uteri untuk memastikan kehamilan tunggal.

    • Suntikan Oksitosin 10 IU IM.

  • Peregangan Tali Pusat Terkendali

    • Klem tali pusat 5-10 cm dari vulva / gulung tali pusat

    • Tangan kiri di atas simfisis menahan bagian bawah uterus, tangan kanan meregang tali pusat 5-10 cm dari vulva

    • Saat uterus kontraksi, tegangkan tali pusat sementara tangan kiri menekan uterus dengan hati-hati ke arah dorso-kranial


Standar operating prosedur dalam pelayanan obstetri emergensi call center 119

  • Mengeluarkan plasenta

    • Jika tali pusat terlihat bertambah panjang dan terasa adanya pelepasan plasenta, minta ibu meneran sedikit sementara tangan kanan menarik tali pusat ke arah bawah kemudian ke atas sesuai dengan kurve jalan lahir.

    • Bila tali pusat bertambah panjang tetapi belum lahir, dekatkan klem ± 5-10 cm dari vulva.

    • Bila plasenta belum lepas setelah langkah diatas selama 15 menit

      • Suntikan ulang 10 IU Oksitosin i.m.

      • Periksa kandung kemih, lakukan kateterisasi bila penuh

      • Tunggu 15 menit, bila belum lahir lakukan tindakan plasenta manual


Standar operating prosedur dalam pelayanan obstetri emergensi call center 119

  • Masase Uterus

    • Segera setelah plasenta lahir, melakukan masase pada fundus uteri dengan menggosok fundus secara sirkuler menggunakan bagian palmar 4 jari tangan kiri hingga kontraksi uterus baik (fundus teraba keras)

    • Memeriksa kemungkinan adanya perdarahan pasca persalinan

      • Kelengkapan plasenta dan ketuban

      • Kontraksi uterus

      • Perlukaan jalan lahir


Standar operating prosedur dalam pelayanan obstetri emergensi call center 119

Masase fundus uteri

Segera sesudah plasenta lahir

(maksimal 15 detik)

Evaluasi rutin

Uterus kontraksi ?

Ya

Tidak

  • Evaluasi / bersihkan bekuan darah / selaput ketuban

  • Kompresi Bimanual Interna (KBI) maks. 5 menit

  • Pertahankan KBI selama 1-2 menit

  • Keluarkan tangan secara hati-hati

  • Lakukan pengawasan kala IV

Uterus kontraksi ?

Ya

Tidak

  • Ajarkan keluarga melakukan Kompresi Bimanual Eksterna (KBE)

  • Keluarkan tangan (KBI) secara hati-hati

  • Suntikan Methyl ergometrin 0,2 mg i.m

  • Pasang infus RL + 20 IU Oksitosin, guyur

  • Lakukan lagi KBI


Standar operating prosedur dalam pelayanan obstetri emergensi call center 119

Uterus kontraksi ?

Pengawasan kala IV

Ya

Tidak

  • Rujuk siapkan laparotomi

  • Lanjutkan pemberian infus + 20 IU Oksitosin minimal 500 cc/jam hingga mencapai tempat rujukan

  • Selama perjalanan dapat dilakukan Kompresi Aorta Abdominalis atau Kompresi Bimanual Eksternal

Ligasi arteri uterina dan/atau hipogastrika

B-Lynch method

Perdarahan berhenti

Pertahankan uterus

Perdarahan berlanjut

Histerektomi


Kompresi bimanual internal

KOMPRESI BIMANUAL INTERNAL


Perlukaan jalan lahir

PERLUKAAN JALAN LAHIR

Robekan Perineum

HematomaVulva

Robekan dinding vagina

Robekan serviks

Ruptura uteri


Robekan perineum

Robekan perineum

  • Tingkat I : robekan hanya pada selaput lendir vagina dengan atau tanpa mengenai kulit perineum

  • Tingkat II : robekan mengenai selaput lendir vagina dan otot perinei transversalis, tetapi tidak mengenai sfingter ani

  • Tingkat III : robekan mengenai seluruh perineum dan otot sfingter ani

  • Tingkat IV : robekan sampai mukosa rektum


Standar operating prosedur dalam pelayanan obstetri emergensi call center 119

  • Robekan perineum tingkat I

    • dengan catgut secara jelujur atau jahitan angka delapan (figure of eight).

  • Robekan perineum tingkat II

    • Ratakan dahulu pinggir robekan yang tidak rata atau bergerigi.

    • Pinggir robekan kiri dan kanan dijepit dengan klem, kemudian digunting.

    • Otot dijahit dengan catgut, selaput lendir vagina dengan catgut secara terputus-putus atau jelujur. Jahitan mukosa vagina mulai dari puncak robekan, sampai kulit perineum dijahit dengan benang catgut secara jelujur.

  • Robekan perineum tingkat III & IV

    • Lakukan Rujukan


Hematoma vulva

Hematoma vulva

  • Bergantung pada lokasi dan besar hematoma.

  • Hematoma kecil cukup dilakukan kompres.

  • Hematoma besar dilakukan sayatan di sepanjang bagian hematoma yang paling terenggang.

  • Seluruh bekuan dikeluarkan sampai kantong hematoma kosong.

  • Dicari sumber perdarahan, perdarahan dihentikan dengan mengikat atau menjahit sumber perdarahan tersebut.

  • Luka sayatan kemudian dijahit.

  • Dalam perdarahan difus dapat dipasang drain.


Robekan dinding vagina

Robekan dinding vagina

  • Robekan dinding vagina harus dijahit.

  • Kasus kolporeksis dan fistula vesikovaginal harus dirujuk ke rumah sakit.


Robekan serviks

Robekan serviks


Retensio plasenta

RETENSIO PLASENTA

Plasenta adhesiva

Plasenta akreta

Plasenta inkarserata


Penilaian klinik retensio plasenta

PENILAIAN KLINIK RETENSIO PLASENTA


Plasenta manual

Plasenta manual

  • Dengan narkosis

  • Pasang infus NaCl 0,9%

  • Tangan kanan dimasukkan secara obstetrik kedalam vagina.

  • Tangan kiri menahan fundus untuk mencegah kolporeksis.

  • Tangan kanan menuju ke ostium uteri dan terus ke lokasi plasenta.

  • Tangan ke pinggir plasenta dan mencari bagian plasenta yang sudah lepas

  • Dengan sisi ulner, plasenta dilepaskan


Sisa plasenta

SISA PLASENTA

Sisa plasenta dan ketuban yang masih tertinggal dalam rongga rahim dapat menimbulkan perdarahan postpartum dini atau perdarahan pospartum lambat (6 – 10 hari pasca persalinan).


Pengeluaran sisa plasenta

Pengeluaran sisa plasenta

  • Pengeluaran sisa plasenta dilakukan dengan kuretase.

  • Dalam memungkinkan, sisa plasenta dapat dikeluarkan secara manual.

  • Kuretase harus dilakukan di rumah sakit.

  • Setelah tindakan pengeluaran, dilanjutkan dengan pemberian obat uterotonika melalui suntikan atau per oral.

  • Antibiotika dalam dosis pencegahan sebaiknya diberikan.


Prosedur rujukan2

Prosedur Rujukan

  • Rujukan konsultatif dan perawatan medis ke Puskesmas PONED pada kasus sisa plasenta yang memerlukan tindakan kuretase.

  • Rujukan perawatan medis ke rumah sakit kabupaten pada kasus dengan pendarahan pasca persalinan karena atonia uteri setelah tindakan stabilisasi dengan kompresi bimanual maupun pemberian uterotonika, retensio plasenta dan robekan porsio serta jalan lahir derajat III/IV.

  • Rujukan perawatan medis diikuti tenaga kesehatan dengan perlengkapan pencegahan kegawatdaruratan medis.

  • Pada setiap kasus yang dirujuk harus dilakukan komunikasi terlebih dahulu / secara bersamaan dengan institusi pelayanan kesehatan tujuan rujukan.


Standar operating prosedur dalam pelayanan obstetri emergensi call center 119

Saya berharap dalam waktu yang akan datang dapat bekerja sama dengan anda… untuk menyelamatkan kehidupan ibu (to save women’s lives) !


Terima kasih atas perhatian anda

TERIMA KASIHATAS PERHATIAN ANDA


  • Login