Download

Linguistik Terapan

Advertisement
Download Presentation
Comments
peers
From:
|  
(550) |   (0) |   (0)
Views: 126 | Added: 07-10-2012
Rate Presentation: 1 0
Description:
2. LINGUISTIK TERAPAN. Linguistik terapan = applied linguistics (BI), angewandte sprachwissenschaft (BJerman), linguistique appliquee (BPerancis) = linguistik Pendidikan (educational linguistics).Beberapa definisi linguistik terapan:>Penggunaan temuan ahli bahasa oleh guru bahasa. >Kumpulan
Linguistik Terapan

An Image/Link below is provided (as is) to

Download Policy: Content on the Website is provided to you AS IS for your information and personal use only and may not be sold or licensed nor shared on other sites. SlideServe reserves the right to change this policy at anytime. While downloading, If for some reason you are not able to download a presentation, the publisher may have deleted the file from their server.











- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - E N D - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -




1. 1 Linguistik Terapan

2. 2 LINGUISTIK TERAPAN Linguistik terapan = applied linguistics (BI), angewandte sprachwissenschaft (BJerman), linguistique appliquee (BPerancis) = linguistik Pendidikan (educational linguistics). Beberapa definisi linguistik terapan: > Penggunaan temuan ahli bahasa oleh guru bahasa. > Kumpulan istilah untuk penerapan keahlian dalam linguistik yang dikaitkan dengan bidang praktis. > Pemanfaatan pengetahuan tentang alamiah bahasa yang dihasilkan oleh penyelidik bahasa, dan menggunakan bahasa sebagai komponen inti. > Ahli linguistik terapan ialah pengguna teori bukan pencipta teori.

3. 3 AHLI BAHASA DAN GURU BAHASA Ahli Bahasa Guru Bahasa Tujuan: menghasilkan teori dan Pelajar tuntas berbahasa Pemerian bahasa Kaedah: formal dan mujarad Fungsional dan praktis Sikap: bahasa seperangkat Bahasa seperangkat sistem ketrampilan

4. 4 KESIMPULAN LINGUISTIK TERAPAN Penerapan linguistik dalam bidang yang bersifat praktis. Linguistik terapan bukan teori, tetapi penerapan teori. Tugas praktis dengan jalan pemusatan perhatian pada bahasa. Ahli linguistik terapan ialah pengguna teori yang dihasilkan oleh ahli bahasa.

5. 5 SEJARAH LINGUISTIK TERAPAN Mula berkembang akhir abad ke-19 berasaskan andaian bahawa teori linguistik dapat diterapkan dalam pelbagai bidang pengetahuan. Di Eropah, linguistik terapan dipopularkan oleh Fries dan Robert Lado melalui English Language Institute. Institut ini menerbitkan majalah language learning yang menyiarkan karya dalam bidang linguistik terapan. Pada tahun 1969, telah diadakan kongres ahli linguistik terapan. Dalam kongres ini, dibahaskan teks sastera, leksikografi, linguistik konstrastif dan sosiolinguistik.

6. 6 SEJARAH LINGUISTIK TERAPAN Sehingga ini terdapat pelbagai buletin dan majalah dalam bidang linguistik terapan. Antaranya: > Language Problems and Language Planning > English Teaching Forum > Applied Linguistics > Modern English Teacher > Guidelines > International Review of Applied Linguistics in Language Teaching > English language Teaching > Journal of Phonetics > Foreign > Language Annals > EFL Bulletin

7. 7 OBJEK LINGUISTIK TERAPAN Objek linguistik terapan ialah bahasa. Pusat perhatian ialah bahasa, tetapi bahasa dalam kaitannya dengan keperluan praktis. Pengetahuan tentang aliran dan teori diterapkan dalam pemerian bahasa yang kemudian berkait pula dengan kepentingan praktis. Pengetahuan linguistik dapat diterapkan dalam proses pengajaran, pemelajaran, penyusunan kamus, dan sebagainya.

8. 8 RUANG LINGKUP LINGUISTIK TERAPAN Pengajaran bahasa Bahasa dalam kehidupan bermasyarakat (Sosiolinguistik) Bahasa dalam kaitannya dengan gejolak jiwa manusia (Psikolinguistik). Penterjemahan Leksikografi Linguistik komputer Neurolinguistik Dialektologi (peta bahasa) Perancangan bahasa.

9. 9 HUBUNGAN LINGUISTIK TERAPAN DENGAN ILMU LAIN Teori Bahasa Teori Belajar Psikologi Teori Belajar Psikolinguistik Bahasa Linguistik Am Pemerian Bahasa Teori Penggunaan Sosiolinguistik Bahasa Pendidikan Bahasa Linguistik Terapan Kedua

10. 10 HUBUNGAN LINGUISTIK TERAPAN DENGAN PENGAJARAN BAHASA LINGUISTIK AM TEORI BAHASA TEORI BELAJAR PEMERIAN BAHASA LINGUISTIK TERAPAN PENDIDIKAN PENGAJARAN BAHASA

11. 11 BAHASA DALAM LINGUISTIK TERAPAN Linguistik terapan memandang bahasa sebagai objek praktis, sedangkan linguistik memandang bahasa sebagai objek teoritis. Linguistik terapan memandang bahasa sebagai objek yang diajarkan, iaitu sebagai media, sedangkan linguistik memandang bahasa sebagai bahasa. Linguistik terapan tidak menganalisis bahasa, iaitu tidak diperikan.

12. 12 LINGUISTIK TERAPAN DAN GURU BAHASA GURU BAHASA BAHAN PELAJAR Linguistik Teori Pengajaran Bahasa Tuntas Terapan Mana Berbahasa AHLI BAHASA BAHASA PEMERIAN BAHASA Linguistik Teori Analisis Bahasa Pemerian Mana Bahasa

13. 13 TUGAS GURU BAHASA Memperkembang ketrampilan komunikasi. Memperkembang ketrampilan linguistik. Memperkembang ketrampilan personal.

14. 14 MOTIVASI KOMUNIKASI SOSIOLINGUISTIK PELAJAR KAEDAH GURU

15. 15 KRITERIA GURU BAHASA Menguasai semua kaedah pengajaran bahasa. Menguasai bahan pengajaran. Melaksanakan semua kegiatan sekolah. Menguasai semua jenis dan tatacara penilaian. Menguasai semua jenis latihan berbahasa. Menguasai pengelolaan kelas. Menguasai teknik pengajaran individu. Menentukan dan menguasai silibus. Memanfaatkan media pengajaran. Menguasai tujuan pengajaran dan aktiviti untuk mencapai tujuan. Menguasai teknik pendidikan.

16. 16 LINGUISTIK DAN GURU BAHASA Guru bahasa mesti menguasai linguistik jika ia ingin menjadi guru yang baik. Ia perlu menguasai linguistik jati dan linguistik terapan. Ia juga mesti menguasai pedagogi bahasa. Guru bahasa ialah ahli bahasa, pengkaji bahasa dan penulis bahan pengajaran bahasa.

17. 17 GUNA TEORI LINGUISTIK Kegunaan untuk peningkatan kualiti profesion. Kegunaan secara teoritis. Kegunaan secara praktis.

18. 18 PENINGKATAN KUALITI PROFESION Pemahaman tentang wujud bahasa, hakikat bahasa, ciri bahasa, tataran bahasa dan teori bahasa akan meningkatkan kualiti guru bahasa. Elemen lain yang juga penting ialah ketrampilan berbahasa, iaitu: > Ketrampilan Menyemak > Ketrampilan Bertutur. > Ketrampilan Membaca > Ketrampilan Menulis.

19. 19 KEGUNAAN SECARA TEORITIS Teori membuka fikiran manusia menuju kemajuan. Teori dimanfaatkan secara maksimum untuk meningkatkan kualiti pengajaran bahasa. Teori ini lebih relevan dalam pemilihan, penyesuaian dan penggunaan bahan pengajaran yang mengambil kira: > Kekerapan penggunaan bahasa setiap hari. > Ketersediaan. > Dapat diajarkan. > Keperluan pelajar.

20. 20 KEGUNAAN SECARA PRAKTIS Aktiviti guru bahasa, iaitu sebagai ahli bahasa, guru sesuatu bahasa, pengkaji bahasa, penulis bahan pengajaran bahasa, penilai proses pengajaran dan pemelajaran bahasa, pengomen pedagogi bahasa. Untuk merealisasikannya, guru bahasa mesti memiliki daya serap dan daya tampil yang berpada, serta mempunyai motivasi unggul untuk meningkatkan profesionnya.

21. 21 KEGIATAN PENUNJANG GURU BAHASA Menambahkan pengetahuan dan ketrampilan melalui buku dan sumber bacaan lain. Membaca akhbar, majalah, jurnal yang relevan. Mengikuti siaran radio dan TV. Mengadakan pengkajian mandiri. Menghadiri kegiatan ilmiah seperti seminar, bengkel, simposium, dan sebagainya. Bertanya dan berdialog dengan ahli dalam bidang kebahasaan. Melaksanakan kegiatan bermasyarakat yang berkaitan kebahasaan. Mengambil bahagian dalam pertandingan. Menulis dan menerbitkan hasil penyelidikan.

22. 22 KEPROFESIONALAN GURU BAHASA WAWASAN TRAMPIL MENERAPKAN TEORI LINGUISTIK. TRAMPIL MENGHUBUNGKAN TEORI LINGUISTIK DENGAN LINGUISTIK DAN DISIPLIN ILMU YANG LAIN. BERANI MENGAMBIL KEPUTUSAN YANG BERMAKNA ATAS DASAR LINGUISTIK.

23. 23 WAWASAN Peningkatan pengetahuan pelajar sebagai akibat daripada proses pengajaran-pemelajaran bahasa. Tingkat wawasan ditentukan oleh: > Pembatasan tujuan pengajaran. > Penentuan pendekatan, kaedah dan teknik yang digunakan. > Penilaian yang digunakan. > Pemilihan, penyesuaian dan penggunaan bahan pengajaran.

24. 24 PENERAPAN TEORI LINGUISTIK Penerapan teori linguistik perlu dilakukan untuk mengajarkan semua elemen kebahasaan. Antaranya: > Pengajaran kata baharu: pengalihbahasaan dan penghuraian makna harafiah dan konteks. > Pemilihan jawaban yang tepat berasaskan senarai jawaban yang diberi. > Pengajaran bahasa berasaskan prinsip pemerolehan bahasa. > Penggunaan prinsip analisis bahasa.

25. 25 HUBUNGAN BAHAN Guru trampil menghubungkan bahan dengan linguistik atau dengan pelajaran yang lain. Syarat utama ialah pengetahuan ilmu dan penguasaan bahasa yang menjadi wahana. Persoalan utama yang perlu diambil kira: > Dengan pelajaran apa bahan ini dapat dihubungkan? > Dalam hal apa hubungan itu? dan bagaimana memperlihatkan hubungan itu? > Apakah hubungan itu berkait dengan domain kognitif, psikomotor, analisis, sintesis, afektif?? > Apakah contoh yang diberikan itu tepat dari segi struktur, tatabahasa, semantik dan logik?

26. 26 BERANI MEMBUAT KEPUTUSAN Guru perlu memberikan jawaban yang tepat terhadap persoalan yang dibangkitkan pelajar. Jika tidak, kewibawaan guru akan terjejas. Antara keputusan yang perlu dibuat ialah: > berkenaan dengan mekanis bahasa. > tatabahasa (morfologi dan sintaksis) > peristilahan > sebutan > sistem panggilan

27. 27 PRINSIP PENYUSUNAN BAHAN Orientasi pada tujuan: bahan yang disusun diarahkan untuk mencapai tujuan pengajaran. Relevan: bahan yang disusun ada hubungannya dengan pelajar. Efisien: bahan yang disusun dapat dilaksanakan dengan menggunakan waktu dan tenaga yang berdaya guna. Efektif: bahan yang disusun berhasil mencapai tujuan yang rumuskan. Luwes: bahan yang disusun bersifat luwes, terbuka dan mampu disesuaikan dengan situasi setempat. Integriti: bahan yang disusun merupakan bahagian yang dapat dikaitkan dengan bahan yang lain. Kesinambungan: bahan yang disusun ialah bahan yang bersambung dan berurutan. Objektif:bahan yang disusun berdasarkan penelaahan masalah kebahasaan secara ilmiah. Demokrasi: bahan yang disusun memberikan kesempatan kepada semua yang terlibat.

28. 28 ISI BAHAN PENGAJARAN Sesuai dengan kurikulum. Berorientasikan tujuan. Berlandaskan kebahasaan, kependidikan, dan psikologi. Memperhatikan jenjang pendidikan peringkat dini, tengah dan tinggi. Memungkinkan pelajar memperkembang keupayaan berbahasa. Memastikan bahawa bahan terpadu dan utuh. Berguna kepada pelajar.

29. 29 KAEDAH PENGAJARAN BAHASA Kaedah langsung (the direct method) Kaedah alamiah (the natural method) Kaedah psikologi (the psychological method) Kaedah fonetik (the phonetic method) Kaedah membaca (the reading method) Kaedah tatabahasa (the grammar method) Kaedah terjemahan (the translation method) Kaedah terjemahan tatabahasa (the grammar-translation method) Kaedah eklektik (the eclectic method) Kaedah unit (the unit method) Kaedah kontrol bahasa (the language-control method)

30. 30 KAEDAH LANGSUNG Penggunaan kosa kata yang biasa. Tatabahasa diajar dengan memperhatikan situasi. Penggunaan bunyi alamiah dalam percakapan sehari-hari. Tatabahasa diajar secara lisan. Hubungan langsung antara makna dengan kata. Pengajaran dilakukan dengan bantuan alat visual. Penyemakan ekstensif dan peniruan agar ketrampilan bersifat automatis.

31. 31 KAEDAH ALAMIAH Pengajaran langsung kepada benda / gambar. Kata baharu berdasarkan pengetahuan sedia pelajar. Tiada terjemahan. Kesalahan bahasa diberitahu segera. Penggunaan kamus. Pengajaran berasaskan tahap penyemakan, pertuturan, pembacaan, penulisan dan tatabahasa.

32. 32 KAEDAH PSIKOLOGI Benda, diagram, gambar digunakan untuk mewujudkan bayangan kata yang diajar. Penyusunan kosa kata dalam kelompok berdasarkan jenis ayat. Setiap kelompok merupakan satu unit kebahasaan. Pelajaran berasaskan bab dan subbab. Pengajaran awal secara lisan, kemudian beralih pada penggunaan buku. Dialek dihindari. Karangan diperkenalkan selepas pelajaran asas. Pelajaran dimulai dengan tatabahasa dan kemudiannya membaca.

33. 33 KAEDAH FONETIK Dikenali dengan nama kaedah lisan. Bermula dengan latihan mendengar, kemudian ujaran yang berurutan daripada bunyi bahasa ? kata, frasa, klausa dan ayat. Kemudian hubungan elemen bahasa itu dengan ujaran dan cerita. Pengajaran tatabahasa bersifat induktif. Latihan mengarang berasaskan apa-apa yang didengar, dibaca atau dilihat.

34. 34 KAEDAH MEMBACA Tujuan utama supaya pelajar memiliki ketrampilan dan pengetahuan membaca. Didahului dengan daftar kata yang diajar melalui wacana, terjemahan atau dengan menggambarkannya. Bahan tambahan seperti cerita diperkenalkan setelah tahap kosa kata tertentu tercapai.

35. 35 KAEDAH TATABAHASA Tatabahasa dipelajari melalui kata-kata. Pengetahuan pedagogi lebih dipentingkan daripada penggunaan bahasa. Tiada hafalan. Kaedah akan mempermudah guru melaksanakan penilaian dan kawalan.

36. 36 KAEDAH TERJEMAHAN Penekanan pada bahasa sumber: > terjemahan kata dan kata > terjemahan literal > terjemahan sebenarnya > terjemahan semantik Penekanan pada bahasa sasaran: > terjemahan adaptasi > terjemahan bebas > terjemahan idiomatik > terjemahan komunikatif

37. 37 KAEDAH TATABAHASA - TERJEMAHAN Gabungan antara tatabahasa dengan terjemahan. Tatabahasa yang diajar ialah tatabahasa formal. Kosa kata bergantung pada teks yang dipilih. Pelajaran dimulai dengan kaedah, kosa kata tanpa teks, dan terjemahan. Kosa kata diberikan dalam bentuk daftar kata untuk diingat. Hafalan dibatasi berupa catatan. Penggunaan ilustrasi berupa ayat.

38. 38 KAEDAH EKLEKTIK Gabungan kaedah langsung dengan kaedah tatabahasa terjemahan. Ketrampilan bahasa dikemukakan dengan urutan, berbicara, menulis, memahami dan membaca. Aktiviti berbahasa termasuklah praktik berbahasa, membaca nyaring, dan soal-jawab. Latihan terjemahan, pelajaran tatabahasa secara deduktif dan alat peraga digunakan secara tuntas.

39. 39 KAEDAH UNIT Persiapan pelajar Penyampaian bahan. Bimbingan secara induksi. Kesimpulan dibuat secara keseluruhan. Penerapan kaedah dan bahan. Pelajar lebih kreatif dan imaginatif.

40. 40 KAEDAH BATASAN BAHASA Batasan kosa kata dan ayat yang hendak diajar. Batasan ditentukan oleh kajian tentang frekuensi kata atau butir yang berguna. Makna diajar melalui batasan aktiviti, gambar atau peragaan bendanya. Sama dengan Kaedah Langsung tetapi perlu dibatasi.

41. 41 KAEDAH LATIHAN NARA SUMBER Pengajaran melalui demonstrasi dan latihan. Bahan didemontrasikan oleh guru dan pihak lain. Latihan kosa kata ayat diulang-ulang sehingga pelajar menguasainya. Pada peringkat awal, diperlukan pengajaran dan latihan secara dramatik dan diskusi.

42. 42 KAEDAH AMALI - TEORI Kaedah ini mengutamakan amali. Pola ayat diulang-ulang dengan meniru nara sumber atau rakaman. Ayat itu dianalisis secara fonetik dan struktural, dan kemudian diperluas menjadi ayat baharu.

43. 43 KAEDAH KOGNAT Kaedah ini menitikberatkan kemiripan antara bahasa sasaran dengan bahasa ibunda. Pelajar mempelajari kemiripan bentuk dan makna kata dalam bahasa sasaran dengan bahasa ibunda. Kosa kata digunakan dalam lisan dan tulisan. Kaedah ini mirip dengan pendekatan analisis konstrastif.

44. 44 KAEDAH BILINGUAL Kaedah ini memberi penekanan pada perbedaan dan persamaan antara bahasa sasaran dengan bahasa ibunda. Yang diajar kemiripan dan perbedaan kata, fonem, dan ayat kedua-dua bahasa itu. Bahasa pelajar digunakan untuk menjelaskan perbedaan dan persamaan. Setiap perbedaan dan persamaan itu digunakan sebagai dasar untuk melatihkan pola.

45. 45 KAEDAH AUDIO-LINGUAL Kaedah ini berasaskan teori Struktural dan Behaviorisme yang berasal daripada Bloomfields dan Skinner. Kaedah ini menitikberatkan latihan pola. Lima slogan kaedah ini, iaitu: > bahasa ialah lisan dan bukan tulisan. > bahasa ialah seperangkat kebiasaan. > yang diajarkan ialah bahasa, bukan tentang bahasa. > bahasa ialah yang diujarkan oleh penutur asli, bukan yang seharusnya diujarkan. > bahasa berbeda-beda.

46. 46 KAEDAH BERLITZ Kaedah ini sama prinsip dasar dengan kaedah langsung. Ciri umumnya ialah: > Bahan didasarkan pada frasa dan kosa kata yang digunakan seharian. > Pelajar menitikberatkan fikiran yang diungkapkan dalam bahasa yang diajar. > Bahasa ibu tidak digunakan. > Kata benda diajarkan melalui pengamatan kata bendanya, tiruan atau gambar. > Kata mujarad diperjelas melalui demontrasi. > Yang dipentingkan ialah bahasa lisan.

47. 47 KAEDAH REALIS Bahasa dipandang sebagai reaksi terhadap alam sekitar, iaitu yang berupa bahasa verbal, bahasa nonverbal dan bunyi yang lain. Penggunaan bahasa perlu sesuai dengan tingkah laku berbahasa penutur jati. Penyusunan bahan dilakukan bersama antara ahli bahasa dengan guru bahasa dan disajikan dalam bentuk ujaran.

48. 48 KAEDAH SIMULASI Kaedah yang meniru keadaan yang sebenarnya. Kaedah ini memerlukan fasilitator dan pelajar. Sekumpulan pelajar akan berdiskusi berasaskan persoalan yang diberikan oleh fasilitator. Kesalahan berbahasa perlu dibaiki pada masa itu juga. Guru perlu menguasai tatabahasa dan dapat menyelesaikan persoalan kebahasaan dengan pasti dan jelas.

49. 49 KAEDAH KAJI PENGALAMAN Kaedah yang mengaktifkan penggunaan bahasa dengan cara mengungkapkan kembali pengalaman pelajar. Pelajar menceritakan pengalaman hidupnya sehari-hari, dan guru membetulkan kesalahan bahasa pelajar. Antara kendala kaedah ini: > pelajar pemalu > kemampuan bahasa lisan pelajar terbatas > kosa kata pelajar juga terbatas > tidak semua pelajar mendapat peluang > guru menghadapi masalah bahasa

50. 50 KAEDAH SAS Kaedah SAS ialah singkatan Struktural Analitik Sintetik. Kaedah ini sesuai untuk pengajaran membaca ? menulis pada peringkat dini. Kaedah ini didasarkan pada pertimbangan psikologi, pedagogi, dan linguistik. Psikologi ? pemilihan bahan yang diselaraskan dengan perkembangan fizikal pelajar. Pedagogi ? usaha pelajar mencari dan menemukan jawapan terhadap persoalan yang dihadapi. Linguistik ? andaian bahawa bahasa itu mempunyai struktur.


Other Related Presentations

Copyright © 2014 SlideServe. All rights reserved | Powered By DigitalOfficePro