Metodologi penelitian
Download
1 / 137

Metodologi Penelitian - PowerPoint PPT Presentation


  • 111 Views
  • Uploaded on

Metodologi Penelitian. burhanuddin bahar. Kilas balik. Alam menunjukkan “sesuatu dan memberi sesuatu” Manusia ingin tahu “ada apa dengan sesuatu itu” dan “dengan tahu sesuatu itu, manusia mendapat keuntungan dalam bentuk perbaikan kualitas kehidupan”.

loader
I am the owner, or an agent authorized to act on behalf of the owner, of the copyrighted work described.
capcha
Download Presentation

PowerPoint Slideshow about ' Metodologi Penelitian' - otto-kline


An Image/Link below is provided (as is) to download presentation

Download Policy: Content on the Website is provided to you AS IS for your information and personal use and may not be sold / licensed / shared on other websites without getting consent from its author.While downloading, if for some reason you are not able to download a presentation, the publisher may have deleted the file from their server.


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - E N D - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Presentation Transcript
Metodologi penelitian

Metodologi Penelitian

burhanuddin bahar


Kilas balik
Kilas balik

  • Alam menunjukkan “sesuatu dan memberi sesuatu”

  • Manusia ingin tahu “ada apa dengan sesuatu itu” dan “dengan tahu sesuatu itu, manusia mendapat keuntungan dalam bentuk perbaikan kualitas kehidupan”


  • Dengan tahu “api”  manusia bisa membakar makanan yang diperolehnya.

  • Makanan bakar  ternyata lebih awet dari makanan biasa, masa simpan lebih panjang  berarti waktu untuk berburu dan memungut lebih dikurangi  manusia dapat bekerja atau merenung untuk yang lain



  • Mengapa begitu? matahari

  • Peradaban tua lahir di daerah tertentu yang memiliki keserupaan:

    a. Langit cerah  membaca pergerakan

    bintang di langit

    b. Bangsa tsb memberi kedudukan khusus

    pada orang cerdas mereka  tidak

    usah jadi pekerja kasar  banyak peluang

    berfikir dan menghasilkan ilmu-pengetahuan


  • 4.000.000 SM matahari  alat dari batu dan tulang  Homo faber  manusia yang menghasilkan alat mbaca, kerja makin halus

  • Selain itu, otak manusia lebih besar dari otak mahluk lainnya  15.000 SM – 600 SM manusia menulis dan berhitung, mengamati


  • Masa 600 SM – 200 M posisi makin kuat ke matahari an inquiring mind dasar pemikiran untuk pengetahuan modern

  • Phytagoras (abad ke 5 SM)  dalil segitiga siku-siku (hipotenusa kuadrat sama dengan penjumlahan kuadrat dari sisi-sisi suatu segitiga siku-siku)


  • Socrates (abad ke empat SM) matahari  metode dialog (dialektika) dalam mencari kebenaran dengan mengungkapkan fikiran tentang berbagai isyu atau konsep.

    Untuk konsep  dialektika digunakan untuk merumuskan konsep tsb


  • Aristoteles (abad ke-3 SM) matahari  mengemukakan silogisme yang menjadi contoh dasar logika berfikir deduktif  cara fikir yang mampu bertahan 2000 tahun sebagai dasar berfikir ilmiah

  • Masa Pemikiran Yunani ini bertahan terus dan dikembangkan di masa Islam oleh orang Arab


  • Masa Islam matahari  Al Khawarizmi (abad 8 M) dan sejumlah ilmuwan lahir di masa ini terutama dalam bidang ilmu kedokteran dan farmasi.

  • Raja memegang otorita dalam kekuasaan politik dan ilmu-pengetahuan

  • Zaman modern abad ke 14 hingga kini


  • Copernicus (abad 14 M) matahari  dari geocentris menjadi heliocentris (bertentangan dengan ajaran Aristoteles dan Katolik Romawi) --. Disempurnakan oleh Keppler

  • Galileo (15-16 M)  hukum tata planet dan pergerakannya


  • Bacon (15-16 M)  empirisme  bahwa pengalaman harus menjadi dasar dari semua ilmu pengetahuan  dasar pemikiran induktif)

  • John Dewey  perkawinan deduksi dan induksi (reflective thinking  scientific thinking)

  • Scientific thinking menjadi dasar kegiatan METODOLOGI PENELITIAN



Kebenaran
Kebenaran menjadi dasar dari semua ilmu pengetahuan  dasar pemikiran induktif)

  • Apakah benar berbeda dengan kebenaran?

  • Apakah kebenaran itu

  • Mari kita pakai cara Socrates untuk itu!


Kontinum kebenaran
Kontinum kebenaran menjadi dasar dari semua ilmu pengetahuan  dasar pemikiran induktif)

  • Benar (True)

    Kebenaran (Truth)

    Kebenaran absolut

    (absolute truth)


Pengetahuan dan kebenaran ilmiah
Pengetahuan dan kebenaran ilmiah menjadi dasar dari semua ilmu pengetahuan  dasar pemikiran induktif)

  • Pengetahuan yang baik adalah pengetahuan yang konsisten, serupa dan objektif.

  • Pengetahuan yang memiliki ciri seperti ini diperoleh dari penelitian ilmiah.


Dengan demikian penelitian (untuk mencari kebenaran ilmiah ini) memiliki komponen yaitu komponen:

  • eksperimentasi atau observasi (yang pertama tertuju atas fakta yg belum terjadi dan yang berikutnya atas fakta yang telah terjadi), dan

  • Penjelasan atau argumentasi


  • Fakta yg membangun pengetahuan itu diperoleh dengan ilmiah ini) memiliki komponen yaitu komponen:observasi atau eksperimentasi dan diberi arti terkait hubungan antar faktanya.

  • Disimpulkan “kebenaran ilmiah” berdasar 2 hal:

    A. empirik

    B. logis/rasional

    (perkembangan dari rasionalisme Plato  Yunani ke empirisme Bacon, Lock, Hume dkk)


Empirik
Empirik ilmiah ini) memiliki komponen yaitu komponen:

  • Apa itu empirik?

    Empiri berkaitan dengan hal yang dapat ditangkap oleh indra kita, oleh nalar kita dan oleh fakta yang ada di sekitar kita.

    a. Empiri sensual,

    b. Empiri logik

    c. Empiri etik

    (d). Empiri transedental


Apa itu nalar
Apa itu nalar ilmiah ini) memiliki komponen yaitu komponen:

  • Nalar  rasional  ratiocinium

  • Mohon peserta memberi definisi atas NALAR

  • Ingat, kita mencari KEBENARAN ILMIAH yang didasari atas empiri dan logis/nalar


Postulat dalam bidang sains
Postulat dalam bidang sains ilmiah ini) memiliki komponen yaitu komponen:

  • Postulat jenis  segala sesuatu di alam ini memiliki ciri tertentu

  • Postulat variabilitas  sesuatu yang kita anggap serupa ternyata masih memiliki sifat yang bervariasi, postulat variabilitas



Sumber pengetahuan
Sumber pengetahuan ilmiah ini) memiliki komponen yaitu komponen:

  • Manusia ditakdirkan memiliki “keingintahuan” yang besar.

  • Untuk memenuhi hasrat tahu tadi, manusia dapat menempuh cara NON ILMIAH dan cara ILMIAH.


  • Sumber pengetahuan ilmiah ini) memiliki komponen yaitu komponen:

    a. Otoritas

    b. Pengalaman

    c. common sense

    d. intuisi

    e. logika

    f. lainnya

  • Pilih mana?


Dua logika dalam bidang sains
Dua logika dalam bidang sains ilmiah ini) memiliki komponen yaitu komponen:

  • Dua pemikiran dasar dalam bidang sains, deduksi dan induksi

  • Untuk mengerti dua logika ini (yang sebenarnya suatu siklus) akan diajukan fikiran Wallace (dan juga Earl Babbie) pada roda ilmu


Roda ilmu wallace
Roda ilmu (Wallace) ilmiah ini) memiliki komponen yaitu komponen:

Teori

Generalisasi Hipotesis

empiri

Observasi

empiri


Logika induktif
Logika induktif ilmiah ini) memiliki komponen yaitu komponen:

  • Logika yang mendasari dirinya atas berbagai observasi yang disimpulkan menjadi sesuatu yang bersifat umum

  • DARI HAL-HAL KHUSUS KE YANG BERSIFAT UMUM

  • Generalisasi empiris adalah pengulangan sifat-sifat khusus tadi yang dapat ditemukan pada sampel pertama sampai sampel ke n


Logika induktif1
Logika induktif ilmiah ini) memiliki komponen yaitu komponen:

  • Generalisasi empiris dapat diartikan pengulangan sifat yang konsisten dari observasi nomor satu sampai observasi ke sekian miliard sekalipun

  • Konsep yang dihasilkan dalam tingkat ini dan hubungan antar konsepnya disebut dengan Grounded theory atau Grass root theory



  • Keseluruhan pengertian membentuk teori itu  mulai dari observasi atas empiri sampai penbentukan teori kita sebut dengan logika berfikir induktif



Logika deduktif
Logika deduktif membentuk teori itu

  • Manusia membentuk pengetahuan untuk berinteraksi dengan lingkungan secara efisien dan juga efektif

  • Bila suatu pagi di kamar mandi yang gelap kita menginjak suatu benda liat serupa silinder sebesar diameter 5 cm, apa reaksi kita?


  • Mengapa kita bereaksi seperti itu? membentuk teori itu

  • Apa simpulan yang ada di kepala kita suatu kebenaran (atau jangan sampai hanya suatu spekulasi).

  • Apa konsekuensinya bila kita coba menanti dan membuktikannya?

  • YHU HUIII, jangan menjadi peneliti anumerta!


  • Bila anda memiliki konsep dan hubungan antar konsep pada fase awal penelitian anda (yang kemudian kita sebut grand theory) kemudian anda mencoba memberlakukannya secara khusus pada apa yang anda fikirkan (hipotesis), kemudian anda mengujinya atas observasi empiri  anda telah berfikir dengan LOGIKA DEDUKTIF


Logika refleksif
Logika refleksif fase awal penelitian anda (yang kemudian kita sebut grand theory) kemudian anda mencoba memberlakukannya secara khusus pada apa yang anda fikirkan (hipotesis), kemudian anda mengujinya atas observasi empiri

  • Bila kita berfikir berdasar SESUATU YANG LEBIH UMUM KE HAL-HAL YANG KHUSUS maka kita telah menggunakan logika deduktif, dan bila kita berfikiir DARI HAL-HAL KHUSUS KE HAL YANG BERSIFAT LEBIH UMUM, kita telah berfikir secara induktif.

  • Bila kita berfikir ganti-berganti deduksi dan induksi maka kita telah berfikir secara LOGIKA REFLEKTIF


  • Validitas suatu penelitian deduktif pada FREKUENSI, dan fase awal penelitian anda (yang kemudian kita sebut grand theory) kemudian anda mencoba memberlakukannya secara khusus pada apa yang anda fikirkan (hipotesis), kemudian anda mengujinya atas observasi empiri

  • Validitas suatu penelitian induktif pada ESENSI

  • Beri contoh masing-masing



Arah penelitian
Arah penelitian Ho

  • Penelitian diawali adanya ide tertentu u/ diteliti.

  • Bila anda mulai dgn Grand Theory u/ solusi problem  anda memasuki wilayah DEDUKTIF

  • Bila anda mulai dengan observasi atas fakta dan membuat simpulan hubungan antar konsep saat awal tsb  anda memasuki wilayah penelitian INDUKTIF



Variabel berdasar skala ukur
Variabel berdasar skala ukur menyediakan judul

  • Suatu penelitian yang dituangkan dari ide dan problema yang jawaban paling mungkinnya, ditemukan dari konklusi atas premis yang diajukan diturunkan dalam bentuk variabel serta alat ukur. Secara berbagan kita ikuti bentuknya pada halaman berikut.


  • Idea/interest menyediakan judul

  • Kajian teoritik untuk membentuk kerangka teori

  • Kerangka teori  kerangka konsep


  • Konsep X Y menyediakan judul

    (level abstrak)

    operasionalisasi

    konsep

    variabel x y


LoM menyediakan judul

  • Variabel  sesuatu yang memiliki nilai yang bervariasi

  • Variabel sebisa mungkin measurable

  • Variabel yang measurable dapat diukur berdasar skala ukur tertentu.

  • Skala ukur yang kita kenal adalah skala NOIR (nominal, ordinal, interval, rasio)


A skala variabel nominal
a. Skala variabel Nominal menyediakan judul

  • Memiliki sifat ekivalensi

  • Contoh: sex, golongan darah, agama etc.

  • Memiliki harga rata-rata Modus (harga yang paling frekuen dari variabel tsb) misalnya di kelas ini jenis kelamin paling banyak adalah ……., modusnya adalah …………

  • Skala ini memiliki sifat mutually exclusive


B skala ukur ordinal
b. Skala ukur Ordinal menyediakan judul

  • Memiliki sifat a) ekivalensi

    b) lebih dari dan kurang dari

    Contoh: Kecerdasan

    Pengetahuan

    Kecantikan/kegagahan

    Sikap etc


  • Harga rata-rata skala ordinal adalah Median (dan tentu saja modus  karena memiliki sifat skala nominal)

  • Rasa haus dari masing-masing kita dalam ruang ini memiliki sifat sangat haus dan kurang haus  bagaimana kalau kita beri skor, skor mana yang paling frekuen muncul, bila diurut yang mana berada di tengah (itulah rata-rata hasunya)



  • Bila skor itu memiliki perbandingan yang sama, maka sharusnya kita bersedia menukar kandidat kita yang cantik atau gagah dengan 5 orang yang setara mak lampir atau 5 kakek sableng.

  • Tetapi mengapa kita tidak mau  jawabnya BUKAN PADA RUMPUT YANG BERGOYANG tetapi skala ordinal tidak setara dalam satuan (anisomorf)


C skala ukur interval
c. Skala ukur interval sharusnya kita bersedia menukar kandidat kita yang cantik atau gagah dengan 5 orang yang setara mak lampir atau 5 kakek sableng.

  • Memiliki sifat a) ekivalensi b) sifat lebih dan kurang dari c) perbandingan antar tiap titik adalah sebanding d) angka nol-nya adalah nol perjanjian

  • Contoh: suhu, IQ etc


D skala ukur rasio
d. Skala ukur rasio sharusnya kita bersedia menukar kandidat kita yang cantik atau gagah dengan 5 orang yang setara mak lampir atau 5 kakek sableng.

  • Memiliki sifat a) ekivalensi b) sifat lebih dan kurang dari c) perbandingan antar tiap titik adalah sebanding d) angka nol-nya adalah nol absolut

  • Contoh: kadar gula darah, kolesterol, BB, TB dan indeks atau rasio yang didasari atas angka isomorfi rasio.

  • (Beri setting story nol dan nol)


Beberapa catatan khusus untuk variabel
Beberapa catatan khusus untuk variabel sharusnya kita bersedia menukar kandidat kita yang cantik atau gagah dengan 5 orang yang setara mak lampir atau 5 kakek sableng.

  • Variabel dalam skala ukur nominal dan ordinal adalah skala yang bersifat anisomorfi (memiliki bentuk yang tidak serupa  ingat kasus Mak Lampir)

  • Variabel dengan skala ukur interval atau rasio bersifat isomorfi (bentuk serupa) sehingga 2 ibu yg memiliki 3 kg daging masing2nya bila digabung akan menjadi 6 kg daging



Hipotesis
Hipotesis tahu bahwa mereka adalah isteri-isteri dari satu orang suami

  • Hipotesis dalam jenis penelitian deduktif sangat penting kedudukannya

  • Hipotesis adalah pernyataan dugaan antar dua atau lebih variabel

  • Hipotesis bersifat deklaratif, simpel, dan terbatas


Hipotesis sebenarnya diturunkan dari kerangka konsep penelitian

Hipotesis merupakan jawaban sementara atas masalah penelitian

Dalam penelitian, kita memiliki 2 kesalahan saat uji hipotesis pada sampel yaitu kesalahan alfa dan kesalahan beta


  • Kesalahan alfa adalah kesalahan di mana kita menyatakan “sesuatu ada apa2nya padahal sebenarnya tidak ada apa2nya”  kita tolak Ho padahal Ho harusnya diterima

  • Kesalahan beta adalah kesalahan di mana kita menerima “sesuatu tidak ada apa2nya padahal sebenarnya ada apa2nya”  kita terima Ho padahal seharusnya kita tolak


Sepasang anak manusia menghuni rumah baru sebagai hadiah pengantin dari bos mereka
Sepasang anak manusia menghuni rumah baru sebagai hadiah pengantin dari bos mereka,

  • Sekitar jam 03 malam si isteri membangunkan suaminya.. “Bangun mas, itu ada yang bunyi…. Mungkin pencuri”

  • Akh tidur saja, tidak ada sesuatu palingan kucing”

  • Bagaimana dengan kesalahan alfa dan beta?



Catatan tambahan atas hipotesis
Catatan tambahan atas hipotesis kesalahan beta

a. hipotesis dirumuskan dalam bentuk

pernyataan

b. dalam hipotesis ditunjukkan macam

hubungan yang ada antar konsep atau

variabel

c. Sebisa mungkin hipotesis tsb

operasional


Catatan untuk uji2 ho
Catatan untuk uji2 Ho kesalahan beta

  • Ingat  bila anda menguji satuan yang angkanya anisomorf, silahkan pilih satatistik inferensial NON-PARAMETRIK

  • Bila anda menguji satuan yang angkanya isomorf  silahkan pilih staitistik inferensial PARAMETRIK (asal saja syarat-syaratnya dipenuhi)


Validitas alat ukur
Validitas alat ukur kesalahan beta

  • Validitas  sejauh mana alat ukur mengukur apa yg seharusnya diiukur sesuai yang dimaksudkan oleh peneliti

    Face validity

    Content validity

    Validity Construct validity

    Validitas kriteria


Face validity
Face validity kesalahan beta

  • Kemampuan alat ukur untuk meREFLEKSIkan peubah yang hendak diukur


Content validity
Content validity kesalahan beta

  • Kemampuan alat ukur untuk MELIPUT SEMUA SUBSTANSI PEUBAH yang hendak diukur


Construct validity
Construct validity kesalahan beta

  • C.1. validitas konvergen kemampuan alat ukur mengukur peubah yang berkorelasi kuat dengan peubah yg seharusnya diukur

  • C.2. validitas diskriminan  kemampuan alat ukur untuk tidak mengukur peubah yang tidak relevan


Konsep reliabilitas
Konsep reliabilitas kesalahan beta

  • Konsistensi pengukuran dari satu (aktivitas) pengukuran ke pengukuran lainnya

    a. stability  konsistensi intra

    pengamat

    b. equivalence  kesamaan

    antar pengamatan




  • Di mana reliabilitas

    Oa + Od bila K > 0.75 kuat

    Po = ------------- 0.4-0.75 baik

    N < 0.4 lemah

    Ea + Ed

    Pe = -------------

    N


  • Contoh penggunaan reliabilitas

    Rasa bertambah enak (1)

    Ya belum

    Rasa Ya 90 10 100

    Btambah Belum 5 95 100

    Enak(2) 95 105 200


Po= (90 + 95)/200 = 0.925 reliabilitas

(95 * 100)/200 + (105 * 100)/200

Pe= ------------------------------------------- = 0.49

200

K = (0.925-0.490)/ 1-0.49 =0.8529 (kuat)


Siklus penelitian
Siklus penelitian reliabilitas

  • Anda punya permasalahan karenaAnda tidak tahu, anda ragu, anda sulit atau anda pingin tahu? Ini berarti anda berada pada langkah awal suatu penelitian.

  • Rumuskanlah keraguan itu dan atau keingintahuan itu secara tepat dan jelas serta singkat (seperti layaknya sebuah rumus)  bila masih terlalu kompleks, rumuskanlah menjadi sub-permasalahan.


  • Buatlah reliabilitashipotesis tiap permasalahan itu.

  • Kumpulkan data yang relevan, ringkaslah data tsb dan lakukan analisis.

  • Beri interpretasi hubungan antara fakta yang ada dalam aktivitas analisis anda sehingga ditemukan konklusi anda menolak atau mendukung hipotesis tsb.




Permasalahan penelitian
Permasalahan penelitian khusus setiap langkah yang ada.

  • Problema penelitian adalah kesenjangan antara harapan dan kenyataan.

  • Problema ini mungkin ada di sekitar kita atau dari keseharian kita, dalam pengalaman pribadi atau pengamatan sepintas kita, bahkan dari intuisi sekalipun.

  • Problema penelitian yang begitu banyak, dan mungkin begitu luas perlu dibatasi dan kemudian diidentifikasi.




  • Observasi penggunaan daun miana pd etnis tertentu syg digunakan pada batuk kronik menunjukkan adanya efek antitusif. Problema ini dikembangkan pada apakah sifat antitusif tsb bekerja pada titik kausa penyakit. Eksperimen yang dilakukan kemudian menunjukkan daun miana ternyata memiliki kemampuan bakterisidal yang serupa dengan Rifampisin dan INH.



  • Penggunaan bedak basah pada kaum petani untuk mencegah terbakarnya kulit mereka diamati oleh seorang peneliti. Si peneliti mendeteksi bahan utama bedak adalah “kunyit”

  • Berdasar bahan ini, si peneliti kemudian melakukan eksperimen pada mencit yang diolesi dengan sediaan kunyit dan dipajan dengan UV, hasil akhir menunjukkan adanya efek proteksi kunyit terhadap UV pada kulit mencit.


  • Studi prevalensi Ca colon pada populasi yang dilakukan di berbagai negara menunjukkan kesimpulan sementara makin tinggi tingkat pendapatan per kapita negara asal populasi, makin tinggi prevalensi kanker kolon penduduknya.

  • Tetapi ada sejumlah negara dengan pendapatan tinggi yang prevalensi kanker kolonnya rendah  ternyata mereka pemakan ikan dan bukan pemakan daging-2an seperti negara dengan kanker kolon yang tinggi.

  • Kesimpulan  konsumsi daging2an tinggi penyebab kanker kolon


  • Temuan masalah ternyata membutuhkan berbagai negara menunjukkan kesimpulan sementara makin tinggi tingkat pendapatan per kapita negara asal populasi, makin tinggi prevalensi kanker kolon penduduknya.

    membutuhkan orang yang selalu “siaga” melihat kejadian sekitar dan kemudian mencernanya menjadi suatu “masalah penelitian” (orang yang memiliki ptrepared mind dan scientific mind).


Kerangka teori konsep
Kerangka teori/konsep berbagai negara menunjukkan kesimpulan sementara makin tinggi tingkat pendapatan per kapita negara asal populasi, makin tinggi prevalensi kanker kolon penduduknya.

  • Variabel bebas v.yg dianggap sebagai kausa dari sesuatu yg kita akan teliti.

  • V. Antara

  • V. Tergantung  v efek oleh adanya kausa

  • V. Random  v. yang dianggap tidak terlalu penting

  • V. moderator  V.penting tetapi tidak utama

  • V. kendali

  • V. perancu v, yg berhubungan ddengan efek sekaligus berhubungan dengan sesama v.bebas


Hipotesis penelitian
Hipotesis penelitian berbagai negara menunjukkan kesimpulan sementara makin tinggi tingkat pendapatan per kapita negara asal populasi, makin tinggi prevalensi kanker kolon penduduknya.

  • Hipotesis penelitian adalah jawaban terhadap rumusan masalah. Hipotesis ini dibangun dari teori umum yang diangkat sebagai jawaban atas masalah khusus (yang dihadapi dalam penelitian).

  • Karena hipotesis sebagai jawaban, maka hipotesis dinyatakan dalam bentuk pernyataan


  • Hipotesis dinyatakan dalam bentuk hubungan antar konsep berbagai negara menunjukkan kesimpulan sementara makin tinggi tingkat pendapatan per kapita negara asal populasi, makin tinggi prevalensi kanker kolon penduduknya.

    (catatan: pengertian HUBUNGAN di sini dimaksudkan sebagai seperangkat berpasangan menurut aturan tertentu dan bukan dalam pengertian uji hubungan dalam bentuk uji asosiasi, korelasi dan regresi atau bentuk uji hubungan lainnya).


  • Untuk penelitian pada jalur deduktif berbagai negara menunjukkan kesimpulan sementara makin tinggi tingkat pendapatan per kapita negara asal populasi, makin tinggi prevalensi kanker kolon penduduknya.  Hipotesis sering dinyatakan sebagai jawaban sementara (yang secara teoritis paling mungkin) terhadap permasalahan penelitian.


  • Misalnya “semua buah berwarna hijau dan muda memiliki rasa kecut” Bila teori ini berlaku bagi mangga tetangga, maka hipotesis untuk menjawab masalah penelitian (andai-andai) apakah mangga tetangga memiliki sifat kecut bila punya sifat hijau dan muda adalah  “mangga tetangga yang memiliki sifat muda dan warna hijau memiliki sifat kecut seperti sifat umum buah lainnya yang muda dan hijau”


  • Untuk penelitian induktif kecut” Bila teori ini berlaku bagi mangga tetangga, maka hipotesis untuk menjawab masalah penelitian (andai-andai) apakah mangga tetangga memiliki sifat kecut bila punya sifat hijau dan muda adalah  hipotesis bukan jawaban sementara yang sumbernya diperoleh dari teori tetapi hipotesis justru ditemukan sebagai simpulan hasil pengamatan atas sifat-sifat empiri yang berulang (lebih baik kita sebut sebagai generalisasi empiris untuk membedakannya dengan hipotesis pada logika deduktif).


  • Suatu penelitian yang bersifat deskriptif atau masih dalam taraf eksploratif tidak membutuhkan verifikasi teoritik, dengan demikian tidak memerlukan hipotesis uji.

  • Hipotesis (dalam jalur penelitian deduktif) akan diuji dengan statistik (yang kita sebut statistik induktif. Pengertian statistik induktif di sini bukan atau tidak sama dengan penelitian induktif).


Dalam penelitian deduktif kuantitatif ada 2 jenis hipotesis:

  • Ho yang kita sebut hipotesis yang menafikan semua bentuk hubungan antar peubah atau menyerupakan nilai peubah yang sekarang diteliti dengan nilai peubah terdahulu yang dijadikan pembanding, dan

  • H1 atau H alternatif yang merupakan pernyataan adanya bentuk hubungan antar peubah atau menyatakan nilai peubah yang diamati sekarang berbeda dengan nilai peubah terdahulu yang dijadikan pembanding.



Bab khusus metode penelitian
Bab khusus metode penelitian hipotesis alternatif.

  • Bab “metode penelitian” lazimnya terdiri atas sub-bab:

    a. jenis penelitian,

    b. tempat dan waktu penelitian,

    c. populasi dan sampel

    c. variabel dan definisi operasional (untuk penelitian deduktif kuantitatif atau penelitian deskriptif), pada peneltian induktif digunakan term definisi konsep.

    d. analisis


A jenis penelitian
a. Jenis penelitian hipotesis alternatif.

  • Ada berbagai jenis penelitian:

    a. berdasar logika yang digunakan  jenis penelitian dapat bersifat deduktif dan induktif (atau kuantitatif dan kualitatif).

    b. berdasar sifatnya yang mencari, menggambarkan atau menjelaskan  eksploratif, deskriptif dan eksplanatif.



  • Prestasi belajar mahasiswa hipotesis alternatif.

  • Dbd

  • Cholinesterase

  • Imr, aki masih tinggi

  • Air payau  air tawar

  • Limbah rs  belum standar

  • Inisiasi MD di RB

  • Dbd --



D koleksi data
d. Koleksi data publik sangat buruk.

  • Data yang dikumpulkan adalah data dalam fungsi untuk menguji kebenaran ilmiah yang kita gunakan sebagai jawaban teoritik atas masalah penelitian, atau

  • Data yang dikumpulkan itu untuk membangun teori yang dalam taraf awal kita sebut teori akar rumput atau generalisasi empirik.


  • Aktivitas menghimpun data yang di dalamnya mengandung informasi, tujuannya agar dapat dilakukan inferensi informasi pada populasi target.

  • Aktivitas seperti ini dilakukan pada penelitian yang menggunakan logika berfikir deduktif (pada penelitian dengan logika berfikir induktif, data digunakan untuk membangun hubungan antar konsep).


  • Populasi informasi, tujuannya agar dapat dilakukan inferensi informasi pada populasi target. adalah keseluruhan subjek yang memiliki kondisi tertentu.

  • Populasi targetlah (disebut juga populasi sasaran atau populasi referensi) yang dianggap menjadi sasaran inferensi informasi yang ada pada sampel.

  • Dari populasi target diturunkan populasi sumber atau populasi aktual (populasi yang menjadi sumber langsung dari sampel) di mana tiap individunya dianggap layak untuk dipelajari sebagai sampel-sampel yang utuh.


Ada berbagai cara untuk mengumpul data penelitian kita. informasi, tujuannya agar dapat dilakukan inferensi informasi pada populasi target.

  • Cara yang kita kenali adalah dengan melakukan pengumpulan informasi atas sampel dari populasi penelitian (di mana informasi tentang populasi diperoleh pada sampel tsb), atau

  • Kita mengumpulkan informasi atas fakta melalui informan tertentu atau kita mengamatinya secara langsung (lazimnya dilakukan pada penelitian induktif)


  • Dua hal penting terkait dengan sampel: informasi, tujuannya agar dapat dilakukan inferensi informasi pada populasi target.

    a. besar sampel, dan

    b. Cara pengambilan sampel.

  • Yang juga perlu diperhatikan adalah kememadaian jumlah sampel yang kita cuplik untuk merepresentasi populasi pada suatu penelitian deduktif kuantitatif. Makin beragam ciri populasi yang kita teliti makin besar jumlah sampel yang dibutuhkan, dan makin homogen sifat dari suatu populasi makin kecil jumlah sampel yang kita butuhkan untuk representasi (informasi) atas populasi.


  • Selain dari sifat homogenitas atau heterogenitas populasi, skala ukur, statistik yang akan digunakan, sifat peubah serta pengaruhnya terhadap penyakit yang akan kita teliti dan tujuan penelitian perlu diperhatikan dalam menentukan kememadaian sampel.

  • Banyak cara yang digunakan untuk menentukan kememadaian sampel yang representatif, silahkan anda memilih dengan catatan cara tersebut dapat dierima secara nalar.


D1 besar sampel
D1. besar sampel skala ukur, statistik yang akan digunakan, sifat peubah serta pengaruhnya terhadap penyakit yang akan kita teliti dan tujuan penelitian perlu diperhatikan dalam menentukan kememadaian sampel.

  • Untuk suatu studi cross-sectional dengan populasi infinite, rumus yang dapat digunakan adalah:

    n = (Zkuadrat * pq) / d kuadrat

    di mana n= jumlah sampel

    p= perkiraan proporsi atau prevalensi pada populasi

    q= 1 - p

    Z= angka baku, bila kita memilih

    alfa 5% maka nilainya sebesar 1.96

    d= presisi absolut dari prevalensi

    sebenarnya, misalnya plus minus 5%


  • Studi cross-sectional dengan skala ukur, statistik yang akan digunakan, sifat peubah serta pengaruhnya terhadap penyakit yang akan kita teliti dan tujuan penelitian perlu diperhatikan dalam menentukan kememadaian sampel.populasi finite, rumusnya:

    NZ2 pq

    n = ---------------------

    d2 (N-1) + Z2pq

    di mana N= jumlah populasi

    n= jumlah sampel

    p= perkiraan proporsi atau prevalensi pada populasi

    q= 1 - p

    Z= angka baku, bila kita memilih

    alfa 5% maka nilainya sebesar 1.96

    d= presisi absolut dari prevalensi

    sebenarnya, misalnya plus minus 5%


  • Studi case-control, perhitungan n (untuk masing2 kelompok kasus dan kontrol)

    (po.qo + p1q1) (Z1-alfa/2 + Z1-B)kuadrat

    n = -------------------------------------------------------

    (p1-po)kuadrat

    di mana n = jumlah sampel

    po= proporsi pajanan positip pd kelompok kontrol

    qo= 1 – po

    p1= proporsi pajanan positip pada kelompok kasus 

    = (po * OR)/1 + po (OR-1)

    q1= 1 – p1

    Zalfa= angka baku, bila kita memilih alfa 5% nilainya sebesar 1.96

    Zbetha idem (lihat daftar distribusi Gauss)


  • Studi cohort atau eksperimen, perhitungan n untuk tiap kelompok

    (po.qo + p1q1) (Z1-alfa/2 + Z1-B)kuadrat

    n = -------------------------------------------------------

    (p1-po)kuadrat

    di mana n = jumlah sampel

    po= proporsi sakit pada pajanan negatif

    qo= 1 – po

    p1= proporsi sakit pada kelompok pajanan positip 

    = (po * RR)

    q1= 1 – p1

    Zalfa= angka baku, bila kita memilih alfa 5% nilainya sebesar 1.96

    Zbetha (lihat daftar distribusi Gauss)  utk power 20%  0.84

    utk power 10%  1.28


  • Studi case-control, perhitungan n (kelompok kasus dan kontrol memiliki jumlah n berbeda)

    (1 + a/b)pq (Z1-alfa/2 + Z1-B)kuadrat

    n = ---------------------------------------------------

    (p1-po)kuadrat

    di mana n = jumlah sampel a/b= perbandingan n kasus dengan n kontrol

    p = (p1 + po)/2

    q = 1 – p

    po= proporsi pajanan positip pd kelompok kontrol

    p1= proporsi pajanan positip pada kelompok kasus 

    = (po * OR)/1 + po (OR-1)

    q1= 1 – p1

    Zalfa= angka baku, bila kita memilih alfa 5% nilainya sebesar 1.96

    Zbetha (lihat daftar distribusi Gauss)  utk power 20%  0.84

    utk power 10%  1.28


  • Studi cohort atau eksperimen, perhitungan n untuk tiap kelompok

    (po.qo + p1q1) (Z1-alfa/2 + Z1-B)kuadrat

    n = -------------------------------------------------------

    (p1-po)kuadrat

    di mana n = jumlah sampel

    po= proporsi sakit pada pajanan negatif

    qo= 1 – po

    p1= proporsi sakit pada kelompok pajanan positip 

    = (po * RR)

    q1= 1 – p1

    Zalfa= angka baku, bila kita memilih alfa 5% nilainya sebesar 1.96

    Zbetha (lihat daftar distribusi Gauss)  utk power 20%  0.84

    utk power 10%  1.28


  • Contoh untuk studi cross-sectional kelompok

  • Suatu studi prevalensi infeksi Morbus Hansen akan dilakukan pada anak remaja di Kota Lanteangoro. Studi di kota lain menunjukkan prev. MH anak remaja sebesar 0.1%. Bila peneliti menginginkan presisi sebesar plus-minus 1% dengan tingkat keyakinan 95%, berapa sampel yang dibutuhkan?


  • Penyelesaian kelompok

    p = 0.1%  0.01

    q = 1-p =1-0.01=0.99

    Tingkat keyakinan 95%  Z alfa = 1.96 (lihat Tabel distribusi normal)

    d =1%  0.01

    (1.96 kuadrat) (0.01*0.99)

    n = --------------------------------- = 380.16

    0.01 kuadrat


  • Contoh untuk case control kelompok

  • Suatu rencana penelitian tentang bumbu masak abrakadabra dengan disfungsi refleks pada anak usia balita. Penelitian awal menunjukkan secara umum saat ini sekitar 30% bumbu tsb digunakan ibu di dapur. Pada kasus disfungsi refleks tsb yang ditemukan di RS, 1 dari 5 anak balita mengkonsumsi bumbu masak abrakadabra ini sejak usia dini. OR pada pemakai diduga sebesar 2.0. Dipilih alfa 5% dan beta 10%.

  • Berapa jumlah sampel yang dibutuhkan bila diinginkan kasus/kontrol  1 : 2.


t kelompok

Penyelesaian

  • Po= anak yg aktif mengkonsumsi pd kontrol 30%  0.3

  • P1= (0.3 * 2)/1 + 0.3 (2-1) = 0.46

  • P= (0.46 + 0.30)/2 = 0.38  q=0.62

  • Z alfa 1.96 dan beta 1.28

    (1 + ½) 0.38(0.62) (1.96 + 1.28)kuadr

  • n kasus = -------------------------------------------------

    (0.46 – 0.30)kuadrat

    = 144.91 = 145

    n kontrol = 2 * 145 = 290


  • Suatu studi kohor akan dilakukan untuk melihat apakah ibu pengguna atap asbes dan peralatan asbes lainnya berpengaruh pd keganasan dalam paru ibu. Ada 0.03 insidensi kumulatif pada ibu yang bukan pemakai, Perkiraan risiko relatif sebesar 1.9. Bila dipilih alfa 0.05 dan beta 10% berapa sampel yg dibutuhkan?


Penyelesaian pengguna atap asbes dan peralatan asbes lainnya berpengaruh pd keganasan dalam paru ibu. Ada 0.03 insidensi kumulatif pada ibu yang bukan pemakai, Perkiraan risiko relatif sebesar 1.9. Bila dipilih alfa 0.05 dan beta 10% berapa sampel yg dibutuhkan?

  • po = 0.03

    qo = 0.97

  • p1 = 0.03 * 1.9 = 0.057

  • q1 = 1 – 0.057 = 0.943

  • Z a  1.96 dan beta  1.28

    [0.03(0.97)+0.057(0.943)] (1.96+1.28)kuadrat

  • n= -------------------------------------------------------------- =

    (0.057 – 0.030) kuadrat

    = 1193.05  1193 sampel pd kelompok pajanan positip dan

    1193 sampel pada kelompok pajanan negatif



D2 cara pengambilan sampel
D2. cara pengambilan sampel penelitian kohort.

  • Metode pengambilan sampel secara umum dibagi 2  random dan non random.

  • Random sampling terdiri atas:

    a. Simple random sampling

    b. Stratified random sampling

    (proporsional dan yg tidak proporsional)

    c. Cluster sampling (area sampling)



  • Sampling sistimatik ada yang mengelompokkannya dalam non-random.

  • Bila pemilihan sistimatik itu, angka pertama dari nomor terpilih dilakukan undian random maka sebenarnya sistimatik sampling masuk pada kelompok random. Bila nomor awal terpilih diambil tidak secara undian, sistimatik samplingnya menjadi non random.


  • Pengambilan sampel pada suatu simple random sampling dilakukan dengan misal jumlah populasi 100 dan adequacy of sample size sebesar 37, maka kita menyiapkan gulungan kertas (serupa arisan) yang dinomori dari 1 – 100, kemudian diaduk dan diambil secara berturut 37 kali. Nomor-nomor yang muncul adalah kasus terpilih untuk jadi sampel.


  • Pengambilan sampel secara stratified dilakukan pada populasi yang secara relatif tidak homogen, sehingga setiap stratum tertentu perlu memiliki perwakilan dalam sampel. Bila jumlah keterwakilan itu diinginkan sesuai proporsi tiap stratum, maka samplingnya proporsional. Bila tiap stratum diambil sampel dengan besar serupa yang tidak usah sesuai besar proporsi tiap stratum, maka kita mengambil sampel secara tidak proporsional.


  • Area sampling lazimnya digunakan untuk penelitian dengan cakupan wilayah luas.

  • Tiap area dibagi atas wilayah dengan nomor cluster tertentu. Bila diinginkan 20% area menjadi perwakilan sampel kita, maka secara random dipilih 20% wilayah tsb. Dari tiap wilayah terpilih, dicacah individu yang mendiami wilayah itu.


  • Bentuk ini lazimnya masih dirasakan menyulitkan peneliti oleh besarnya bagian wilayah yang terpilih itu. Ada modifikasi tertentu yang dapat dilakukan dengan membagi wilayah atas segmen-segmen tertentu berdasar kepadatan penduduknya. Sampel dihitung berdasar segmen, kemudian pada keseluruhan segmen dilakukan pemilihan secara sistimatik untuk memilih segmen mana menjadi area yang harus diambil individunya sebagai sampel.


E hasil analisis bahasan dan interpretasi
e.Hasil, Analisis, bahasan dan interpretasi oleh besarnya bagian wilayah yang terpilih itu. Ada modifikasi tertentu yang dapat dilakukan dengan membagi wilayah atas segmen-segmen tertentu berdasar kepadatan penduduknya. Sampel dihitung berdasar segmen, kemudian pada keseluruhan segmen dilakukan pemilihan secara sistimatik untuk memilih segmen mana menjadi area yang harus diambil individunya sebagai sampel.

  • Hasil disajikan sesimpel mungkin dengan cara:

    a. Tabular,

    b. Grafik,

    c. Tekstular, atau

    d. Kombinasi bila dianggap perlu.

    Penyajian (dan bahkan seluruh laporan penelitian) menggunakan bahasa denotatif dan bukan bahasa konotatif.


  • Analisis data merupakan seni mengurai data sehingga data tadi menghasilkan bukan hanya fakta yang diam tetapi menjadi informasi yang “bernyanyi”

  • Analisis juga diartikan manipulasi himpunan fakta secara sedemikian sehingga lebih mudah membaca informasi yang dikandungnya, sampai pada pengujian fakta dengan statistik tertentu.




  • Dalam bahasan hasil hindari pengulangan sajian fakta yang telah ada pada hasil.

  • Bahasan hasil meliputi telaah fakta yang menyimpang yang dijelaskan dengan fakta yang kita miliki sendiri dalam penelitian, atau telaah dikaitkan dengan penelitian orang lain atau teori lain yang pernah ada,


  • Pada bagian akhir hasil dan telaah hasil, lazimnya ada 1 bagian khusus yang membicarakan “keterbatasan penelitian”

  • Bagian ini mengemukakan keterbatasan terkait disain, karakter tertentu dari subjek yang sedemikian sehingga manipulasi lebih jauh berakibat adanya kendala etik etc.

  • Yang dibicarakan di sini adalah keterbatasan penelitian dan bukan keterbatasan peneliti.


F simpulan dan saran
f. Simpulan dan saran bagian khusus yang membicarakan “

  • Informasi yang ada dalam data penelitian, informasi yang timbul akibat telaah yang kita lakukan dengan berbagai interpretasinya dirangkum dalam simpulan.

  • Simpulan disajikan dalam bahasa deklaratif yang disinkronkan dengan tujuan khusus.

  • Saran yang diajukan seharusnya mengacu pada simpulan yang ditemukan.


ad