1 / 22

KEBIJAKAN UNTUK APLIKASI WIRELESS LAN-AKSES INTERNET (WLI) MENGGUNAKAN FREKUENSI 2.4 GHZ

KEBIJAKAN UNTUK APLIKASI WIRELESS LAN-AKSES INTERNET (WLI) MENGGUNAKAN FREKUENSI 2.4 GHZ. DITBINFREKRAD & ORSAT DITJEN POSTEL 2001. KONDISI EKSTISTING di Lapangan. Aplikasi indoor berkembang menjadi outdoor link - link microwave eksisting frekuensi 2300-2500 MHz (rec.ITU F.746 Annex 2)

nayef
Download Presentation

KEBIJAKAN UNTUK APLIKASI WIRELESS LAN-AKSES INTERNET (WLI) MENGGUNAKAN FREKUENSI 2.4 GHZ

An Image/Link below is provided (as is) to download presentation Download Policy: Content on the Website is provided to you AS IS for your information and personal use and may not be sold / licensed / shared on other websites without getting consent from its author. Content is provided to you AS IS for your information and personal use only. Download presentation by click this link. While downloading, if for some reason you are not able to download a presentation, the publisher may have deleted the file from their server. During download, if you can't get a presentation, the file might be deleted by the publisher.

E N D

Presentation Transcript


  1. KEBIJAKAN UNTUK APLIKASI WIRELESS LAN-AKSES INTERNET (WLI) MENGGUNAKAN FREKUENSI 2.4 GHZ DITBINFREKRAD & ORSAT DITJEN POSTEL 2001

  2. KONDISI EKSTISTINGdi Lapangan • Aplikasi indoor berkembang menjadi outdoor • link - link microwave eksisting frekuensi 2300-2500 MHz (rec.ITU F.746 Annex 2) • 62 link di Jabotabek (pemetaan terlampir) • 190 link Jawa Barat dan • Di daerah2 lain • Operator2 WLI 2.4 ilegal di Jawa barat, Jogya, Surabaya, Medan. • Telah ada laporan gangguan thd radio link di SBY dan Bandung

  3. PEMETAAN PENGGUNA EXISTING DI JAKARTA

  4. KONDISIEKSISTINGKEBIJAKAN • UU 36/1999 Ps. 33: (1) Pengguna frekuensi radio dan orbit satelit harus Berizin (2) Penggunaan frekuensi radio dan orbit satelit harus sesuai dengan peruntukkannya dan tidak saling mengganggu. • PP 53/2000 Ps. 14 & 15: Dimungkinkan penggunaan bersama pita/kanal frekuensi radio. Disusun ketentuan teknis  Kepdirjen 241/DIRJEN/2000

  5. KONDISIEKSISTINGKEBIJAKAN (SAMBUNGAN) Sesuai UU Telekomunikasi NO.36/99  Pengguna spektrum frekeunsi radio wajib membayar biaya hak penggunaan frekuensi Sesuai PP 14/2000 dan KM 45/2000  dikenakan BHP frekuensi untuk penggunaan ‘wireless data’

  6. KONDISIEKSISTINGKEBIJAKAN (LANJUTAN) • Pemerintah ingin meningkatkan penetrasi internet • Kendalanya: Media akses fixed line langka dan mahal • Catatan: Pembangunan jaringan telekomunikasi fixed line dan wireless harus saling komplementer (frekuensi  SDA)

  7. Kepdirjen No. 241/Dirjen/2000 • Status Pengguna WLI 2.4 : Sekunder thd dinas tetap microwave link status ini disepakati mengingat radio link telah lebih dulu ada dan padat. • Spliting frekuensi untuk teknologi FHSS dan DSSS  proteksi sesama SS • Batas Penggunaan EIRP : = 1 watt (30 dbm) Point to Multi Point = 4 watt (36 dbm) Point to Point

  8. APA KEINGINAN MASYARAKAT ? • Masyarakat ingin dapat mengakses internet(s/d highspeed internet) dengan mudah, cepat dan murah. • Dari hasil sosialisasi dengan APJII dan pengguna/calon: - Mereka happy dengan kondisi (bebas) sekarang ini. - ingin semua yang mengajukan pasti mendapat frekuensi. - keberatan dengan tarif yang tinggi (namun setelah kita paparkan komparasi tarif mjd setuju)

  9. APA KEINGINAN MASYARAKAT ? • Onno purbo (kompas, 6 Feb,2001): -’kebijakan kurang berpihak pada masyarakat banyak..’ - Ism band merupakan solusi alternatif sebagian besar warnet, sekolah, institusi dll. - beberapa komentar kurang konsisten/tepat. - ‘sesuai peraturan ITU S5 peralatan di 2.4 GHz dan 5.8 GHz tahan interferensi dan tidak menghasilkan interferensi diluar band itu, karena kecilnya daya’ • Genetika: status skunder?

  10. MEDIA Saluran Telepon Analog (Bisnis) 1 kanal telepon BIT RATE (Mbps) N-ISDN PASOPATI TARIF PER BULAN (RP) Microwave 2 BRA 144 kbps (2 kanal @64 kbps) 10 juta untuk operator PRA 1984 kbps (30 kanal @64 kbps) Serat Optik Bit rate/ kanal Biaya instalasi Biaya abon/bln 2 Bit rate/ kanal Biaya Instalasi Biaya abon/bln 10 juta untuk operator Bit rate/ kanal Biaya instalasi Biaya abon/bln HDSL 2 10 juta untuk operator 56 kbps 350000 32700 64 kbps 1100000 80000 64 kbps 7000000 8000000 Analisa • Rumus BHP Frek PP14/2000 = 0.5X [(lbxHDLPxb kHz)+(IpxHDDPxp dBm)] • Biaya sewa saluran via PT.Telkom =

  11. SALURAN/KANAL Kabel analog BRA BIT RATE (kbps) PRA BEBAN BIAYA PER TAHUN (Rp) Leased line MW/HDSL/Optik BEBAN BIAYA INSTALASI (Rp) BHP Frek 2.4 (3mbps)/bts 30 Mhz BRA Rp. 7 ,- ++ Rp. 6.67 ,- ++ 2160 (15 BRA) Rp. 48 ,- ++ 14400000 ++ Rp. 60 ,- 16500000 Rp. 7,775 ,- PRA 1984 (1 PRA) 96000000 ++ 7000000 BHP Frekuensi W 2.4 GHz/bts 30 MHz bandwidth 3000-11000 23329825 - Tabel Hasil Perbandingan(tdk termasuk beban pulsa) Perkiraan Biaya sewa saluran per bps/th(tdk termasuk beban pulsa) Cat : perhitungan di atas tidak termasuk biaya pembangunan infrastruktur dan segala kemudahan atau kendalanya

  12. Perbandingan Lisensi WLI 2.4 GHz Di Beberapa Negara

  13. Apa itu ISM? • Def. RR: perangkat yang menggunakan energi frek radio untuk keperluan Industri, Medis, Scientific, selain untuk aplikasi telekomunikasi • Berpotensi menyebabkan interferensi pada layanan telekomunikasi  Rec. ITU-R SM.1056 untuk pengg. frek yg optimum maka ITU menginformasikan batas energi perangkat ISM untuk pertimbangan perangkat radio komunikasi • ISM band: foot S 5.150 (a.l.: 2.4 GHz : 2400 – 2500 MHz)

  14. Komparasi tarif ISP (pengguna ilegal WLAN) • Jogyakarta: 64 kbps: Rp. 5,425 juta/bulan 128 kbps: Rp. 9,800 juta/bulan 256 kbps: Rp. 14 juta/bulan Biaya instalasi: Rp. 2,5 juta • Bandung: flat U$ 200/bulan Instalasi dan perangkat: U$ 775

  15. Apa itu ISM?(lanjutan) • Layanan komunikasi radio pada ISM band harus siap menerima interferensi dari perangkat ISM (RR S15.12 dan S15.13) S15.12: Interferense from electrical apparatus and instalations of any kind except equipment used for ISM applications. Administrations shall take all practicable and necessary steps to ensure that the operation of electrical apparatus or instalationsof any kind, including power and telecommunication distribution networks, but excluding equipment used for ISM applications, does not cause harmful interference to a radiocommunication service and in particular, to a radionavigation or any other safety service operating in accordance with the provisions of these Regulations (administrations should be guided by the lates relevant ITU-R Rec.

  16. Apa itu ISM?(lanjutan) Secton III-interference from equepment used for industrial, scientifie and medical application S15.13 administrations shall take all practicable and necessary steps to ensure that radiation from equipment used for industrial, scientific and medical applications is minimal and tha, outside the bands designated for use by this equipment, radiation from such equipment is at a level that does not cause harmful interference to a radiocommunication service and, in particular, to a radionavigation or any other safety safety operating in accordance with the provisions of these Regulations

  17. SEKILAS WIRELESS LAN-INTERNET (WLI) 2.4 • topologi selular • frekuensi kerja 2400 – 2483.5 MHz • teknologi Spread Spectrum, meminimisasi interferensi • layanan LAN, VoIP, Internet, Multimedia • pembangunan infrastruktur cepat dan cost rendah

  18. Perbandingan Standar Perangkat Radio 2.4 GHz

  19. Teknologi Spread Spectrum (SS)(1) teknologi sinyal tersebar pd suatu lebar pita (DSSS, FHSS, Hybrid) pengkodean acak (biner sequence) sinyal modulasi digital energi sinyal dibawah noise floor penerima konvensional di lokasi & pita sama dapat bekerja beberapa sistem ss (beberapa referensi s/d 15 sistem kolocated)

  20. DSSS PSD lebih rendah Waktu latency pendek Sync. Sinyal Cepat Tidak memerlukan radio sync dgn radio lain Proses Gain Data througput lebih tinggi Jangkauan di outdoor lebih jauh FHSS PSD lebih tinggi Waktu latency panjang Sync. Sinyal lama Memerlukan radio sync. Dgn radio hop lain Tidak ada Proses Gain Data througput lebih rendah Jangkauan di outdoor pendek Perbandingan teknologi SS p p f f

  21. BAGAIMANA MENYIKAPI keinginan masyarakat & Manajemen frekuensi ? • Ada beberapa alternatif yang masih dapat diambil namun masing-masing akan menimbulkan konsekuensi masing-masing. • Berijin,sekunder, tarif minimal dibuat kebijakan u/ tarif layanan sekunder • Berijin, Primer, tarif sesuai Km 45/2000  Kepdir 241 disesuaikan, padat eksisting  membutuhkan waktu yang lama untuk proses koordinasi. • Segala biaya yang timbul akibat Realokasi ditanggung oleh calon pengguna. • Register, berbayar/tidak berbayar ? dasar hukum Register ? wli akan booming, adakah perlindungan ?, law enforcement harus kuat, harus ada perencanaan frekuensi pengganti untuk back bone. • Berbayar bagi keperluan komersial, tidak berbayar untuk keperluan pendidikan dll perlu dasar hukumnya?

  22. Terima Kasih

More Related