1 / 11

Anggota

PRODUKSI TANAMAN KARET PADA PEMBERIAN STIMULAN ETEPHON LATEX PRODUCTION IN RELATION TO ETEPHON APPLICATION. Anggota. Zeinendyo Anging (125100307111067) Dea Putri Isdayanti (125100307111081) Gita Ayu Pratiwi (1251003071110) Septian Rachman (1251000307111067) Parras ( 1251003071110).

megan-downs
Download Presentation

Anggota

An Image/Link below is provided (as is) to download presentation Download Policy: Content on the Website is provided to you AS IS for your information and personal use and may not be sold / licensed / shared on other websites without getting consent from its author. Content is provided to you AS IS for your information and personal use only. Download presentation by click this link. While downloading, if for some reason you are not able to download a presentation, the publisher may have deleted the file from their server. During download, if you can't get a presentation, the file might be deleted by the publisher.

E N D

Presentation Transcript


  1. PRODUKSI TANAMAN KARET PADA PEMBERIAN STIMULAN ETEPHON LATEXPRODUCTION IN RELATION TO ETEPHON APPLICATION

  2. Anggota • Zeinendyo Anging (125100307111067) • Dea Putri Isdayanti (125100307111081) • Gita Ayu Pratiwi (1251003071110) • Septian Rachman (1251000307111067) • Parras (1251003071110)

  3. Pendahuluan TanamankaretberasaldariNegaraBrazil.Karetmerupakan pebutuhanvital bagikehidupanmanusiasehari-hari. Karetmerupakansalahsatukomoditaspertanian yang ada di Indonesia.Komoditasinidibudidayakanrelatiflebih lama daripadakomoditasperkebunanlainnya. Tanamanini di introduksipadatahun 1864. Dalamkurunwaktusekitar 150 tahunsejakdikembangkanpertamakalinya, luas areal perkebunankaret di Indonesia telahmencapai 3.262.291 hektar. Salah satu ekspor yang menjadi andalan adalah tanaman karet.

  4. Daerah Penghasil Karet Khusus di Provinsi Sulawesi Selatan salahsatudaerahpenghasilkaretadalahKabupatenBulukumba. Daerah inimempunyaikesesuaianlahan, iklim, dantopografi yang cocokuntukpertumbuhantanamankaret. PosisiKabupatenBulukumba di jazirahselatanProvinsi Sulawesi Selatan, yang secarageografiswilayahnyaberadapada 5,20° 5,40° LS danantara 119,58° 120,28° BT.

  5. StimulasiLateks Stimulasilateksumumnyadilaksanakanpadatanamankaret yang telahdewasadengantujuanuntukmendapatkankenaik-an hasillatekssehinggadiperolehtambahankeuntunganbagipengusaha per-kebunankaret. Pemberianstimulantanpamenurunkanintensitassadapanakanberpengaruhterhadappertumbuhantanaman, terutamatanaman yang masihmuda.

  6. Bahan Dan Metode Padapenelitianiniterdiri 5 perlakuan yang dicobakanpadaKlon RRIM 600 danKlon PB 260. Setiapperlakuanterdiri 5 ulangandansetiapperlakuandigunakan 5 tanamansehinggaterdapat125 unit tanaman. Pohonkaret yang digunakanpohonkaretdengansistemsadapnormal.Kemudianpenempelan label padapohonsampel. Pengenceranpadaetephonyaknidenganmencampurethrelkonsentrasi 10% dengan air denganperbandingan 3 : 1

  7. Bahan Dan Metode Pengaplikasianstimulanetephondilakukanseharisetelahtanamansampel di deres agar stimulan yang dioleskanmeresap optimal masukkedalampembuluhlateks. Aplikasidilakukanpadapagihariuntukmenghindarisuhuudara (tempe-ratur) danpenguapan air yang terlalutinggidanmenggunakansistem scrapping aplicationyaknistimulandioleskanmenggunakankuaskecilsesuaidengandosis yang ditentukan. Aplikasietephondilakukan di awalpengamatandandilakukanlagipadabulankedua.

  8. Parameter Pengamatan • Lateksyang keluar (gram), yang di-hitungsetiap 3 harisekali. • Lump yang terbentuk (gram), yang di-hitungsetiap 2 harisetelahpeng-ambilanlateks. • Kadar karetkering (%) yang diukur 3 harisekali, bersamaandenganpeng-ukuranlateks.

  9. HASIL DAN PEMBAHASAN Pada hasil lateks menunjukkanbahwadosisetephon 0,9 cc pohon-1 (e3) menghasilkan rata-rata lateks yang keluartertinggipadaklon RRIM 600 (654,00 g) dansangatberbedanyatadibandingkandengandosisetephon 0 cc pohon-1 (e0) dan 0,3 cc pohon-1 (e1) tetapitidakberbedanyata. Sidikragamgabunganmenunjukkanbahwahubungandosisetephondenganlateks yang keluarbersifatkuadratik, danpengaruhdosisetephontidakberbedanyataduaklontanamankaret.

  10. Pada lump hasil menunjukkandosisetephon 0,9 cc pohon-1 (e3) menghasilkan rata-rata lump yang terbentuktertinggipadaklon RRIM 600 (58,00 g) dansangatberbedanyatadibandingkandengandosisetephon 0 cc pohon-1 (e0) dan 0,3 cc pohon-1 (e1) tetapitidakberbedanyatadengandengandosisetephon 0,6 cc pohon-1 (e2) dan 1,2 cc pohon-1 (e4). Demikian pula padaklon PB 260, dosisetephon 0,9 cc pohon-1 (e3) menghasilkan rata-rata lump yang terbentuktertinggi (120,00 g) danberbedanyatadibandingkandengandosisetephon 0 cc pohon-1 (e0) dan 0,3 cc pohon-1 (e1) tetapitidakberbedanyatadengandengandosisetephon 0,6 cc pohon-1 (e2) dan 1,2 cc pohon-1 (e4).

  11. KESIMPULAN • Pemberiandosisetephon 0,9 cc pohon-1 memberikanhasilterbaikpadajumlahlateks yang keluarserta lump yang terbentukbaikpadaklon RRIM 600 danKlon PB 260 danbersifatkuadratik. • Tanpapemberianstimulanetephonmemberikanhasilterbaikpadapengamatankadarkaretkeringpadaklon RRIM 600 dan PB 260 sertabersifatkuadratik.

More Related