1 / 38

KUP

KUP. Pengertian pajak.

ketan
Download Presentation

KUP

An Image/Link below is provided (as is) to download presentation Download Policy: Content on the Website is provided to you AS IS for your information and personal use and may not be sold / licensed / shared on other websites without getting consent from its author. Content is provided to you AS IS for your information and personal use only. Download presentation by click this link. While downloading, if for some reason you are not able to download a presentation, the publisher may have deleted the file from their server. During download, if you can't get a presentation, the file might be deleted by the publisher.

E N D

Presentation Transcript


  1. KUP

  2. Pengertian pajak • Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan  yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.Pasal 1 angka 1 UUKUP

  3. Pendaftaran WP • Kewajiban mendaftar sebagai WP • Setiap Wajib Pajak yang telah memenuhi persyaratan subjektif dan objektif sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan wajib mendaftarkan diri pada kantorDirektorat Jenderal Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat kedudukan Wajib Pajak dan kepadanya diberikan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Pasal 2 (1) UUKUP

  4. Pendaftaran WP • Kewajiban mendaftar sbg PKP • Setiap Wajib Pajak sebagai Pengusaha yang dikenai pajak berdasarkan Undang-Undang PPN 1984 dan perubahannya, wajib melaporkan usahanya pada kantor Direktorat Jenderal Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat kedudukan Pengusaha, dan tempat kegiatan usaha dilakukan untuk dikukuhkan menjadi Pengusaha Kena Pajak. Pasal 2 (2) UUKUP

  5. Pendaftaran WP • Tempat Pendaftaran dapat ditentukan DJP • Direktur Jenderal Pajak dapat menetapkan : • tempat pendaftaran dan/atau tempat pelaporan usaha selain yang ditetapkan pada ayat (1) dan ayat (2); • dan/atau tempat pendaftaran pada kantor Direktorat Jenderal Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal dan kantor Direktorat Jenderal Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat kegiatan usaha dilakukan, bagi Wajib Pajak orang pribadi pengusaha tertentu. Pasal 2 (3) UUKUP

  6. Pendaftaran WP • Kep Dirjen Pajak KEP-701/PJ/2001, Tempat tinggal menurut keadaan yang sebenarnya: • Rumah tetap orang pribadi berada, yaitu rumah tempat orang pribadi beserta keluarganya bertempat tinggal, sebagaimana tercantum dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP); • Rumah tetap orang pribadi yang menjadi tempat pusat kepentingan pribadi dan ekonomi dilakukan, dalam hal orang pribadi mempunyai rumah tetap di 2 (dua) tempat atau lebih wilayah kerja KPP; • Tempat orang pribadi lebih lama tinggal, dalam hal rumah tetap tempat pusat kepentingan pribadi dan ekonomi tidak dapat ditentukan; • Tempat tinggal menurut keadaan sebenarnya yang ditentukan oieh Direktur Jenderal Pajak, dalam hal keadaan tempat tinggal yang lebih lama tidak dapat ditentukan.

  7. Pendaftaran WP Kep Dirjen Pajak KEP-701/PJ/2001 Tempat kedudukan badan menurut keadaan yang sebenarnya adalah: • TempatkantorpimpinanperusahaandanpusatadministrasidankeuanganberadasebagaimanatercantumdalamAktaNotarisPendirian Perusahaan; • Tempat kantor pimpinan perusahaan berada, jika tempat kantor pimpinan perusahaan terpisah dari tempat pusat administrasi dan keuangan perusahaan; • Tempat kedudukan menurut keadaan sebenarnya yang ditentukan oleh Direktur Jenderal Pajak, dalam hal kantor pimpinan berada di beberapa tempat.

  8. Per-9/PJ/2008 :WP tertentu dan PKP tertentu adalah Wajib Pajak dan Pengusaha Kena Pajak , terdiri dari : • badanusahamilik Negara; • penanaman modal asingtertentu; • bentukusahatetapdanorangasingtertentu; • perusahaanmasuk bursa tertentu, termasukbadan-badankhusus (self regulatory organization) yang didirikandanberoperasidi bursa berdasarkanUndang-UndangNomor 8 Tahun 1995 tentangPasar Modal sertaperusahaan-perusahaantertentulainnya yang melakukankegiatanusahadiPasar Modal; • perusahaanbesartertentu

  9. Pendaftaran WP • Penerbitan NPWP dan NPPKP secara jabatan • Direktur Jenderal Pajak menerbitkan Nomor Pokok Wajib Pajak dan/atau mengukuhkan Pengusaha Kena Pajak secara jabatan apabila Wajib Pajak atau Pengusaha Kena Pajak tidak melaksanakan kewajibannya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan/atau ayat (2). Pasal 2 (4) UUKUP

  10. Pendaftaran WP • Kewajiban Pajak bagi yg memperoleh NPWP dan atau NPPKP secara jabatan : • Kewajiban perpajakan bagi WP yang diterbitkan NPWP dan/atau yang dikukuhkan sebagai PKP secara jabatan dimulai sejak saat WP memenuhi persyaratan subjektif dan objektif seusai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan, paling lama 5 (lima) tahun sebelumnya diterbitkannya NPWP dan/atau dikukuhkannya sebagai PKP. Pasal 2 (4a) UUKUP

  11. Pendaftaran WP • Jangka waktu pendaftaran dan pelaporan • Jangka waktu pendaftaran dan pelaporan serta tata cara pendaftaran dan pengukuhan sbg PKP, termasuk penghapusan Nomor Pokok Wajib Pajak dan/atau pencabutan Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. Pasal 2 (5) UUKUP, • lihat KEP 161/PJ/2001

  12. Pendaftaran WP • Penghapusan Nomor Pokok Wajib Pajak dilakukan oleh Direktur Jenderal Pajak apabila : • diajukan oleh WP dan/atau ahli warisnya apabila Wajib Pajak sudah tidak memenuhi persyaratan subjektif dan/atau objektif sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan; • WP badan dilikuidasi karena penghentian atau penggabungan usaha; • WP bentuk usaha tetap menghentikan kegiatan usahanya di Indonesia; atau • dianggap perlu oleh DJP untuk menghapuskan NPWP dari Wajib Pajak yang sudah tidak memenuhi persyaratan subjektif dan/atau objektif sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. Pasal 2 (6) UUKUP

  13. Pendaftaran WP • Jangka waktu penghapusan NPWP dan atau NPPKP: • DJP setelah melakukan pemeriksaan harus memberikan keputusan atas permohonan penghapusan NPWP dalam jangka waktu 6 (enam) bulan untuk Wajib Pajak orang pribadi atau 12 (dua belas) bulan untuk Wajib Pajak badan, sejak tanggal permohonan diterima secara lengkap. Pasal 2 (7) UUKUP • Direktur Jenderal Pajak karena jabatan atau atas permohonan Wajib Pajak dapat melakukan pencabutan pengukuhan Pengusaha Kena Pajak. Pasal 2 (8) UUKUP • DJP setelah melakukan pemeriksaan harus memberikan keputusan atas permohonan pencabutan pengukuhan PKP dalam jangka waktu 6 (enam) bulan sejak tanggal permohonan diterima secara lengkap. Pasal 2 (9) UUKUP

  14. Penyampaian SPt • Kewajiban Pelaporan Pajak • Setiap WP wajib mengisi Surat Pemberitahuan dengan benar, lengkap, dan jelas, dalam bahasa Indonesia dengan menggunakan huruf Latin, angka Arab, satuan mata uang Rupiah, dan menandatangani serta menyampaikannya ke kantor DJP tempat WPterdaftar atau dikukuhkan atau tempat lain yang ditetapkan oleh DJP. Pasal 3(1) UUKUP • benar adalah benar dalam perhitungan, termasuk benar dalam penerapan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan, dalam penulisan, dan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya; • lengkap adalah memuat semua unsur-unsur yang berkaitan dengan objek pajak dan unsur-unsur lain yang harus dilaporkan dalam SPt; dan • jelas adalah melaporkan asal-usul atau sumber dari objek pajak dan unsur-unsur lain yang harus dilaporkan dalam SPt.

  15. Penyampaian SPt • Pelaporan SPt bagi WP yg mendapat izin pembukuan dgn mata uang asing • WP yang telah mendapat izin Menteri Keuangan untuk menyelenggarakan pembukuan dengan menggunakan bahasa asing dan mata uang selain Rupiah, wajib menyampaikan Surat Pemberitahuan dalam bahasa Indonesia dengan menggunakan satuan mata uang selain Rupiah yang diizinkan,  yang pelaksanaannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. Pasal 3(1a) UUKUP • Penanda tanganan SPt • Penandatanganan SPt dapat dilakukan secara biasa, dengan tanda tangan stempel, atau tanda tangan elektronik atau digital, yang semuanya mempunyai kekuatan hukum  yang sama, yang tata cara pelaksanaannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. Pasal 3(1b) UUKUP

  16. Penyampaian SPt • Dikecualikan dari kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah Wajib Pajak Penghasilan tertentu yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.

  17. Pengecualian dari Kewajiban Pelaporan SPT • WajibPajakTertentu yang dikecualikandarimenyampaikan SPT • WPOP yang penghasilannetonyatidakmelebihijumlah PTPK, tidakwajibmenyampaikan SPT TahunanPPhmaupun SPT MasaPPhPasal 25. • WPOP yang tidakmenjalankanusahaataumelakukanpekerjaanbebas, tidakwajibmenyampaikan SPT MasaPPhPasal 25. • Joint Operation tidakmemilikikewajibanuntukmenyampaikan SPT Tahunandan SPT MasaPPhPasal 25 (S-60/PJ.422/1994). • Representative officetidakwajibmenyampaikan SPT TahunanPPhmaupun SPT MasalPPhPasal 25 karenaiatidaktermasuksebagaisubjekpajak.

  18. Penyampaian SPt • Batas waktu penyampaian Surat Pemberitahuan adalah : • untuk Surat Pemberitahuan Masa, paling lama 20 (dua puluh) hari setelah akhir Masa Pajak; • untuk Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak orang pribadi, paling lama 3 (tiga) bulan setelah akhir Tahun Pajak; atau • untuk Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak badan, paling lama 4 (empat) bulan setelah akhir Tahun Pajak. Pasal 3(3) UUKUP

  19. Penyampaian SPt • Wajib Pajak dengan kriteria tertentu dapat melaporkan beberapa Masa Pajak dalam 1 (satu) Surat Pemberitahuan Masa. Pasal 3(3a) UUKUP • Wajib Pajak dengan kriteria tertentu dan tata cara pelaporan sebagaimana dimaksud pada ayat (3a) diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. Pasal 3(3b) UUKUP • Batas waktu dan tata cara pelaporan atas permohonan dan pemungutan pajak yang dilakukan oleh bendahara pemerintah dan badan tertentu diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. Pasal 3(3c) UUKUP

  20. Perpanjangan penyampaian SPt • WP dapat memperpanjang jangka waktu penyampaian SPt Tahunan Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) untuk paling lama 2 (dua) bulan dengan cara menyampaikan pemberitahuan secara tertulis atau dengan cara lain kepada DJP yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. Pasal )3(4) UUKUP • Pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) harus disertai dengan penghitungan sementara pajak yang terutang dalam 1 (satu) Tahun Pajak dan Surat Setoran Pajak sebagai bukti pelunasan kekurangan pembayaran pajak yang terutang, yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. Pasal 3(5) UUKUP

  21. Penyampaian SPt • Bentuk dan isi Surat Pemberitauan serta keterangan dan/atau dokumen yang harus dilampirkan, dan cara yang digunakan untuk menyampaikan Surat Pemberitahuan diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. Pasal 3 (6) UUKUP

  22. Penyampaian SPt • Surat Pemberitahuan dianggap tidak disampaikan apabila : • Surat Pemberitahuan tidak ditandatangani sebagaimana dimaksud pada ayat (1); • Surat Pemberitahuan tidak sepenuhnya dilampiri keterangan dan/atau dokumen sebagaimana dimaksud pada ayat (6); • Surat Pemberitahuan yang menyatakan lebih bayar disampaikan setelah 3 (tiga) tahun sesudah berakhirnya Masa pajak, bagian Tahun Pajak atau Tahun Pajak, dan Wajib Pajak telah ditegur secara tertulis; atau • Surat Pemberitahuan disampaikan setelah Direktur Jenderal Pajak melakukan pemeriksaan atau menerbitkan surat ketetapan pajak. Pasal 3(7) UUKUP • Apabila Surat Pemberitahuan dianggap tidak disampaikan sebagaimana dimaksud pada ayat (7), Direktur Jenderal Pajak wajib memberitahukan kepada Wajib Pajak. Pasal 3(8) UUKUP

  23. Pengisian SPt psl 4 UU KUP • Tata cara Pelaporan • WP wajib mengisi dan menyampaikan SPt dengan benar, lengkap, jelas, dan menandatanganinya. • SPt WPk badan harus ditandatangani oleh pengurus atau direksi. • Dalam hal WP menunjuk seorang kuasa dengan surat kuasa khusus untuk mengisi dan menandatangani SPt, surat kuasa khusus tersebut harus dilampirkan pada SPt. • SPt Tahunan PPh WP yang wajib menyelenggarakan pembukuan harus dilampiri dengan laporan keuangan berupa neraca dan laporan laba rugi serta keterangan lain yang diperlukan untuk menghitung besarnya PKP. • Laporan Keuangan adalah laporan keuangan dari masing-masing Wajib Pajak. • Dalam hal laporan keuangan diaudit oleh Akuntan Publik tetapi tidak dilampirkan pada SPt, SPt dianggap tidak lengkap dan tidak jelas, sehingga SPt dianggap tidak disampaikan. • Tata cara penerimaan dan pengolahan Surat Pemberitahuan diatur dengan atau berdasarkan PMK.

  24. Denda tidak Menyampaikan SPt • Apabila SPt tidak disampaikan dalam jangka waktu atau batas waktu perpanjangan penyampaian Surat Pemberitahuan, dikenai sanksi administrasi berupa denda sebesar : • Rp500.000 untuk SPt Masa Pajak Pertambahan Nilai, • Rp 100.000 untuk SPt Masa lainnya, dan • sebesar Rp1.000.000 untuk SPt Tahunan PPh Wajib Pajak badan serta • sebesar Rp100.000 untuk SPt Tahunan PPh Wajib Pajak orang pribadi.Psl 7 (1) UUKUP

  25. Tidak dikenakan Sanksi • Pengenaan sanksi administrasi berupa denda tidak dilakukan terhadap : • WP OP yang telah meninggal dunia; • WP OP yang sudah tidak melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas • BUT yang tidak melakukan kegiatan lagi di Indonesia • WP badan yang tidak melakukan kegiatan usaha lagi tetapi belum dibubarkan sesuai dengan  ketentuan yang berlaku; • Bendahara yang tidak melakukan pembayaran lagi • WP yang terkena bencana, yang ketentuannya diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan; atau • WP lain yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. Psl 7 (2) UU KUP

  26. Pembetulan SPt (psl 8 UUKUP) • WP dengan kemauan sendiri dapat membetulkan SPt yang telah disampaikan dengan menyampaikan pernyataan tertulis, dengan syarat Direktur Jenderal Pajak belum melakukan tindakan pemeriksaan. Psl 8(1) UU KUP • Dalam hal pembetulan SPt sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menyatakan rugi atau lebih bayar, pembetulan Surat Pemberitahuan harus disampaikan paling lama 2 (dua) tahun sebelum daluwarsa penetapan. Psl 8(1a) UU KUP • Dalam hal WP membetulkan sendiri SPt Tahunan yang mengakibatkan utang pajak menjadi lebih besar, kepadanya dikenai sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan atas jumlah pajak yang kurang dibayar, dihitung sejak jatuh tempo pembayaran sampai dengan tanggal pembayaran, dan bagian dari bulan dihitung penuh 1 (satu) bulan. Psl 8(2) UU KUP

  27. Pembetulan SPt (psl 8 UUKUP) • Walaupun telah dilakukan tindakan pemeriksaan, tetapi belum dilakukan tindakan penyidikan mengenai adanya ketidakbenaran yang dilakukan WP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38, terhadap ketidakbenaran perbuatan Wajib Pajak tersebut tidak akan dilakukan penyidikan, apabila Wajib Pajak dengan kemauan sendiri mengungkapkan ketidakbenaran perbuatannya tersebut dengan disertai pelunasan kekurangan pembayaran jumlah pajak yang sebenarnya terutang beserta sanksi administrasi berupa denda sebesar 150% dari jumlah pajak yang kurang dibayar. Psl 8(3) UU KUP • Walaupun Direktur Jenderal Pajak telah melakukan pemeriksaan, dengan syarat Direktur Jenderal Pajak belum menerbitkan surat ketetapan pajak, Wajib Pajak dengan kesadaran sendiri dapat mengungkapkan dalam laporan tersendiri tentang ketidakbenaran pengisian Surat Pemberitahuan yang telah disampaikan sesuai keadaan yang sebenarnya, yang dapat mengakibatkan : • pajak-pajak yang masih harus dibayar menjadi lebih besar atau lebih kecil; • rugi berdasarkan ketentuan perpajakan menjadi lebih kecil atau lebih besar; • jumlah harta menjadi lebih besar atau lebih kecil; atau • jumlah modal menjadi lebih besar atau lebih kecil. Psl 8(4) UU KUP

  28. Pembetulan SPt28 • Pajak yang kurang dibayar yang timbul sebagai akibat dari pengungkapan ketidakbenaran pengisian Surat Pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) beserta sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 50% (lima puluh persen) dari pajak yang kurang dibayar, harus dilunasi oleh Wajib Pajak sebelum laporan tersendiri dimaksud disampaikan. • Wajib Pajak dapat membetulkan Surat Pemberitahuan Tahunan yang telah disampaikan, dalam hal Wajib Pajak menerima ketetapan pajak, Surat Keputusan Keberatan, Surat Keputusan Pembetulan, Putusan Banding, atau Putusan Peninjauan Kembali Tahun Pajak sebelumnya atau beberapa Tahun Pajak sebelumnya, yang menyatakan rugi fiskal yang berbeda dengan rugi fiskal yang telah dikompensasikan dalam Surat Pemberitahuan Tahunan yang akan dibetulkan tersebut, dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan setelah menerima surat ketetapan pajak, Surat Keputusan Keberatan, Surat Keputusan Pembetulan, Putusan Banding, atau Putusan Peninjauan Kembali, dengan syarat Direktur Jenderal Pajak belum melakukan tindakan pemeriksaan.

  29. Pembayaran Pajak • Menteri Keuangan menentukan tanggal jatuh tempo pembayaran dan penyetoran pajak yang terutang untuk suatu saat atau Masa Pajak bagi masing-masing jenis pajak, paling lama 15 (lima belas) hari setelah saat terutangnya pajak atau berakhirnya Masa Pajak. Psl 9(1) UU KUP • Kekurangan pembayaran pajak yang terutang berdasarkan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan harus dibayar lunas sebelum Surat Pemberitahuan Pajak Penghasilan disampaikan. Psl 9(2) UU KUP • Pembayaran atau penyetoran pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1), yang dilakukan setelah tanggal jatuh tempo pembayaran atau penyetoran pajak, dikenai sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan yang dihitung dari tanggal jatuh tempo pembayaran sampai dengan tanggal pembayaran, dan bagian dari bulan dihitung penuh 1 (satu) bulan. Psl 9(2a) UU KUP

  30. Pembayaran Pajak • Atas pembayaran atau penyetoran pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (2) yang dilakukan setelah tanggal jatuh tempo penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan, dikenai sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan yang dihitung mulai dari berakhirnya batas waktu penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan sampai dengan tanggal pembayaran, dan bagian dari bulan penuh 1 (satu) bulan. Psl 9(2b) UUKUP • Surat Tagihan Pajak, Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar, serta Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan, dan Surat Keputusan Keberatan, Surat Keputusan Pembetulan, Putusan Banding, serta Putusan Peninjauan Kembali, yang menyebabkan jumlah pajak yang harus dibayar bertambah, harus dilunasi dalam jangka waktu 1 (satu) bulan sejak tanggal diterbitkan. Psl 9(3) UUKUP

  31. Pembayaran Pajak • Bagi Wajib Pajak usaha kecil dan Wajib Pajak di daerah tertentu, jangka waktu pelunasan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat diperpanjang paling lama menjadi 2 (dua) bulan yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. 9(3b) UUKUP • Direktur Jenderal Pajak atas permohonan Wajib Pajak dapat memberikan persetujuan untuk mengangsur atau menunda pembayaran pajak termasuk kekurangan pembayaran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) paling lama 12 (dua belas) bulan, yang pelaksanaannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. 9(4) UUKUP

  32. Surat Setoran Pajak • Wajib Pajak wajib membayar atau menyetor pajak yang terutang dengan menggunakan Surat Setoran Pajak ke kas negara melalui tempat pembayaran yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. • Surat Setoran Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berfungsi sebagai bukti pembayaran pajak apabila telah disahkan oleh Pejabat kantor penerima pembayaran yang berwenang atau apabila telah mendapatkan validasi, yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. • Tata cara pembayaran, penyetoran pajak, dan pelaporannya serta tata cara mengangsur dan menunda pembayaran pajak diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.Psl 10 UU KUP

  33. Kewajiban Membayar Pajak • Setiap Wajib Pajak wajib membayar pajak yang terutang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan, dengan tidak menggantungkan pada adanya surat ketetapan pajak. • Jumlah Pajak yang terutang menurut Surat Pemberitahuan yang disampaikan oleh Wajib Pajak adalah jumlah pajak yang terutang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. • Apabila Direktur Jenderal Pajak mendapatkan bukti jumlah pajak yang terutang menurut Surat Pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak benar, Direktur Jenderal Pajak menetapkan jumlah pajak yang terutang. Psl 12 UUKUP

  34. Pembukuan (psl 28 UUKUP) • Pengertian • Pembukuan adalah suatu proses pencatatan yang dilakukan secara teratur untuk mengumpulkan data dan informasi keuangan yang meliputi harta, kewajiban, modal, penghasilan dan biaya, serta jumlah harga perolehan dan penyerahan barang atau jasa, yang ditutup dengan menyusun laporan keuangan berupa neraca, dan laporan laba rugi untuk periode Tahun Pajak tersebut (psl 1 angka 29 UUKUP) • Standar penyusunan Pembukuan : SAK lihat penjelasan UUKUP

  35. Pembukuan Kewajiban Selenggarakan Pembukuan • Wajib Pajak orang pribadi yang melakuan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas dan Wajib Pajak badan di Indonesia wajib menyelenggarakan pembukuan. (psl 28 (1)) • Wajib Pajak yang dikecualikan dari kewajiban menyelenggarakan pembukuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), tetapi wajib melakukan pencatatan, adalah Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan diperbolehkan menghitung penghasilan neto dengan menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto dan Wajib Pajak orang pribadi yang tidak melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas.

  36. Pembukuan • Syarat Pembukuan: • Pembukuan atau pencatatan tersebut harus diselenggarakan dengan memperhatikan iktikad baik dan mencerminkan keadaan atau kegiatan usaha yang sebenarnya. • Pembukuan atau pencatatan harus diselenggarakan di Indonesia dengan menggunakan huruf Latin, angka Arab, satuan mata uang Rupiah, dan disusun dalam bahasa Indonesia atau dalam bahasa asing yang diizinkan oleh Menteri Keuangan. • Pembukuan diselenggarakan dengan prinsip taat asas dan dengan stelsel akrual atau stelsel kas. • Perubahan terhadap metode pembukuan dan/atau tahun buku harus mendapat persetujuan dari Direktur Jenderal Pajak.

  37. Pembukuan • Syarat Pembukuan: • Pembukuan sekurang-kurangnya terdiri atas catatan mengenai harta, kewajiban, modal, penghasilan dan biaya, serta penjualan dan pembelian sehingga dapat dihitung besarnya pajak yang terutang. • Pembukuan dengan menggunakan bahasa asing dan mata uang selain Rupiah dapat diselenggarakan oleh Wajib Pajak setelah mendapat izin Menteri Keuangan. • Buku, catatan, dan dokumen yang menjadi dasar pembukuan atau pencatatan dan dokumen lain termasuk hasil pengolahan data dari pembukuan yang dikelola secara elektronik atau secara program aplikasi on-line wajib disimpan selama 10 (sepuluh) tahun di Indonesia, yaitu di tempat kegiatan atau tempat tinggal WP orang pribadi, atau di tempat kedudukan WP badan.

  38. Pencatatan • Pencatatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terdiri atas yang dikumpulkan secara teratur tentang peredaran atau penerimaan bruto dan/atau penghasilan bruto sebagai dasar untuk menghitung jumlah pajak yang terutang, termasuk penghasilan yang bukan objek pajak dan/atau yang dikenai pajak yang bersifat final. • Bentuk dan tata cara pencatatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. Lihat Kep 536 tahun 2000

More Related