1 / 33

Titrasi pengendapan

Titrasi pengendapan. Pendahuluan. Kelarutan : Adalah sejumlah (massa) zat terlarut dalam 100 mL larutan Tanpa dinyatakan lain pelarut adalah air. Pendahuluan. Larutan jenuh : Adalah larutan yang tepat berada dalam kesetimbangan antara larutan dan pengendapan

jeff
Download Presentation

Titrasi pengendapan

An Image/Link below is provided (as is) to download presentation Download Policy: Content on the Website is provided to you AS IS for your information and personal use and may not be sold / licensed / shared on other websites without getting consent from its author. Content is provided to you AS IS for your information and personal use only. Download presentation by click this link. While downloading, if for some reason you are not able to download a presentation, the publisher may have deleted the file from their server. During download, if you can't get a presentation, the file might be deleted by the publisher.

E N D

Presentation Transcript


  1. Titrasi pengendapan

  2. Pendahuluan Kelarutan : • Adalah sejumlah (massa) zat terlarut dalam 100 mL larutan • Tanpa dinyatakan lain pelarut adalah air Company name

  3. Pendahuluan Larutan jenuh : • Adalah larutan yang tepat berada dalam kesetimbangan antara larutan dan pengendapan • dapat dicapai dengan penambahan zat ke dalam pelarut secara terus menerus hingga zat tidak melarut lagi, atau dengan cara menaikkan konsentrasi ion-ion tertentu hingga terbentuk endapan. Company name

  4. Faktor2 yg mempengaruhi kelarutan 1. SUHU 2. SIFAT PELARUT 3. ION SEJENIS 4. AKTIVITAS ION 5. pH 6. HIDROLISIS 7. HIDROKSIDA LOGAM 8. PEMBENTUKAN SENYAWA KOMPLEKS Company name

  5. Titrasi Pengendapan • Berdasar pada pembentukan endapan yang terjadi antara titran dan titer • Titik akhir titrasi ditandai dengan perubahan warna endapan Company name

  6. Titrasi Pengendapan • Paling sering dilakukan untuk menetapan kadar Halogen : • Klorida • Bromida • Iodida • Sianida Company name

  7. Kurva Titrasi 50 ml larutan NaCl 0,10 M dititrasi dengan larutan AgNO3 0,10 M. Hitung konsentrasi ion klorida selama titrasi dan buat kurva pCl vs ml AgNO3. Ksp AgCl = 1 x 10-10. Awal sebelum titrasi : [Cl-] = 0,10 M, maka pCl = 1,00 Setelah penambahan 10 ml AgNO3 : Ag+ + Cl-→ AgCl (p) awal 1,00 mmol 5,00 mmol perubahan -1,0 mmol -1,0 mmol kesetimbangan - 4,0 mmol [Cl-] = 4,00 mmol / 60,0 ml = 0,067 M pCl = 1,17 Company name

  8. Setelah penambahan 49,9 ml AgNO3 : Ag+ + Cl-→ AgCl (p) awal 4,99 mmol 5,00 mmol perubahan -4,99 mmol -4,99 mmol kesetimbangan - 0,01 mmol [Cl-] = 0,01 mmol / 99,9 ml = 1,0 x 10-4 M pCl = 4,00 Pada titik ekivalen (TE) : Ag+ + Cl-→ AgCl (p) awal 5,00 mmol 5,00 mmol perubahan -5,00 mmol -5,00 mmol kesetimbangan - - [Ag+] = [Cl-] [Ag+][Cl-] = Ksp = 1,0 x 10-10 [Cl-] = 1,0 x 10-5 maka pCl = 5,00 Company name

  9. Setelah penambahan 60,0 ml AgNO3 : Ag+ + Cl-→ AgCl (p) awal 6,00 mmol 5,00 mmol perubahan -5,00 mmol -5,00 mmol kesetimbangan 1,00 mmol - [Ag+] = 1,00 mmol / 110 ml = 9,1 x 10-3 M pAg = 2,04 maka pCl = 10,00 – 2,04 = 7,96 Secara umum untuk halida : Ag+ + X-→ AgX (p) Tetapan kesetimbangan : K = 1 / [Ag+][X-] = 1 / Ksp Makin kecil Ksp makin besar K suatu titrasi. Company name

  10. Kurva Titrasi Company name

  11. Metode titrasi pengendapan 􀂃 Argentometri 􀂃 Merkurimetri 􀂃 Titrasi Kolthoff Company name

  12. ARGENTOMETRI Titrasi pengendapan yang paling banyak dipakai adalah Argentometri, karena hasil kali kelarutan garam perak halida (pseudohalida) sangat kecil : Ksp AgCl = 1,82 . 10-10 Ksp AgCN = 2,2 . 10-16 Ksp AgCNS = 1,1 . 10-12 Ksp AgI = 8,3 . 10-17 Ksp AgBr = 5,0 . 10-13 Tiga cara penentuan titik akhir titrasi : • cara Mohr indikator CrO4-2 • cara Volhard indikator Fe3+ • cara Fajans Fluorescein (indikator adsorpsi) Company name

  13. ARGENTOMETRI – MOHR Titrasi Mohr digunakan untuk menentukan kadar halida atau pseudohalida di dalam larutan. Kromat (CrO42-) sbg indikator titik akhir karena membentuk endapan Ag2CrO4 berwarna merah saat bereaksi dengan ion perak. Ksp Ag2CrO4 = 1,2 . 10-12 mol3.L-3 Ksp AgCl = 1,82 . 10-10 mol2.L-2 [ Perhatikan satuan stoikiometrinya ] Meskipun tetapan hasilkali kelarutan (Ksp)AgCrO4 hampir sama dengan Ksp perak (pseudo)halida, tetapi kelarutan kedua garam perak tsb berbeda. Company name

  14. Titrasi Mohr dilakukan pada pH 7-9 (netral hingga basa lemah). Jika pH terlalu kecil (asam) kesetimbangan kromat-dikromat akan menurunkan kepekaan [CrO42-] shg menghambat pembentukan endapan Ag2CrO4. Jika pH terlalu besar (larutan basa) akan terbentuk endapan Ag2O. Company name

  15. Ag+ + Cl- AgCl (p) Ag+ + CrO42- Ag2CrO4 (p) merah Kelarutan Ag2CrO4 > Kelarutan AgCl (8,4 x 10-5 M) (1,35 x 10-5 M) Jika larutan Ag+ ditambahkan ke dalam larutan Cl- yang mengandung sedikit CrO42-, maka AgCl akan mengendap lebih dulu, sementara itu Ag2CrO4 belum terbentuk, dan [Ag+] naik hingga hasilkali kelarutan melampaui Ksp Ag2CrO4 (2,0 x 10-12) sehingga terbentuk endapan merah. Company name

  16. Pada TE : pAg = pCl = 5,00 [Ag+][CrO42-] = 2,00 x 10-12 [ CrO42-] = 2,00x10-12 / (1,0x10-5)2 = 0,02 M Konsentrasi tersebut terlalu tinggi karena warna kuning CrO42- akan mengganggu pengamatan terbentuknya endapan Ag2CrO4 (merah). Dalam praktek biasanya digunakan 0,005 s/d 0,01 M supaya kesalahan titrasi diperkecil, dan masih bisa dikoreksi dengan titrasi blanko indikator, atau dengan membakukan AgNO3 terhadap suatu garam klorida yang murni (titrasi dilakukan dalam kondisi yang sama dengan titrasi sampel). Company name

  17. Titrasi Mohr terbatas pada pH 6-10 (atau 7-9). Dalam larutan basa akan terjadi reaksi : Ag+ + OH-→ 2AgOH → Ag2O + H2O Dalam larutan asam, jumlah [CrO4]2- turun sehingga hanya sedikit HCrO4- yang terionisasi, karena reaksi akan berlanjut sbb : 2H+ + CrO4 2- 2HCrO4- Cr2O72- + H2O (kromat)(dikromat) Jika [CrO42-] terlalu rendah ( < 0,005 M) akan memerlukan penambahan [Ag+] yang berlebih untuk mengendapkan Ag2CrO4; hal itu akan menjadi sumber kesalahan titrasi. Cr2O72- tidak dapat digunakan sebagai indikator argentometri karena Ag2Cr2O7 mudah larut. Company name

  18. Metode Mohr dapat digunakan untuk titrasi Br- dan CN- dalam larutan basa lemah, sedangkan untuk I- dan CNS- tidak feasible karena akan terjadi adsorpsi oleh endapan. Ag+ tidak dapat dititrasi langsung oleh Cl menggunakan indikator CrO42-, karena Ag2CrO4 akan terbentuk lebih awal dan melarut lambat menjelang TE. Untuk hal tsb dapat digunakan teknik titrasi balik : Ag+ ditambah Cl- baku (berlebih), kemudian Cl- sisa dititrasi dengan larutan Ag+ baku menggunakan indikator CrO42-. Company name

  19. ARGENTOMETRI - VOLHARD • Titrasi Volhard merupakan teknik titrasi balik, digunakan jika reaksi berjalan lambat atau jika tidak ada indikator yang tepat utk pemastian TE. • Prinsip titrasi : Larutan perak ditambahkan berlebih ke dalam larutan (pseudo)halida Br- + Ag+→ AgBr (endapan) berlebih • Setelah reaksi sempurna endapan disaring, kemudian larutan dititrasi dengan larutan baku tiosianat Ag+ + SCN-→ AgSCN (larutan) Company name

  20. Indikator Fe(III) akan membentuk senyawa larut berwarna merah hasil reaksi Fe3+ dgn ion tiosianat : Fe3+ + SCN-→ [Fe(SCN)]2+ • Reaksi harus suasana asam, karena jika basa akan mudah sekali terbentuk endapan Fe(OH)3. Ksp Fe(OH)3 = 2.10-39 mol3L-3 (dalam titrasi biasa digunakan [Fe3+] = 10-2 M) Soal : Larutan mengandung sejumlah tertentu KBr dititrasi secara Volhard. Diperlukan penambahan 100 ml [AgNO3] 0,095 M berlebih, kemudian dititrasi dengan 18,3 ml larutan KSCN 0,100 M menggunakan indikator Fe3+. Hitung berapa konsentrasi Br- yang terdapat dalam larutan awal. Company name

  21. Metode Volhard banyak digunakan untuk reaksi Ag+ dan Cl- karena selain kelarutan endapannya kecil, suasana asam akan mencegah hidrolisis indikator Fe3+. Jika metode ini dilakukan dalam suasana netral akan terganggu oleh endapan kation-kation lain. • Metode Volhard digunakan pada titrasi langsung Ag+ dengan larutan CNS- atau titrasi tidak langsung pada penentuan kadar Cl-, Br- dan I-. • Pada titrasi tidak langsung Br- dan I- tidak terganggu oleh CNS- karena kelarutan AgBr = kelarutan AgCNS sedangkan kelarutan AgI < kelarutan AgCNS. Company name

  22. Kesalahan titrasi Cl- dapat terjadi jika endapan AgCl bereaksi lanjut dengan CNS- : AgCl(p) + CNS-→ AgCNS + Cl- Karena kelarutan AgCNS < kelarutan AgCl maka reaksi di atas akan bergeser ke arah kiri, sehingga hasil analisis Cl- menjadi lebih kecil. Hal tsb dapat dicegah dengan penyaringan endapan AgCl atau dengan penambahan nitrobenzen (racun !) sebelum titrasi dengan CNS-. Nitrobenzen menjadi lapis minyak yang memisahkan endapan dari CNS-. Company name

  23. ARGENTOMETRI – FAJANS • Titrasi Fajans menggunakan indikator adsorpsi, yakni senyawa organik yg teradsorpsi ke permukaan padat endapan (koloidal) selama proses titrasi berlangsung. Contoh : Fluoresens sbg anion fluoresenat (hijau kuning) bereaksi dg Ag+ membentuk endapan merah intensif yg teradsorpsi ke permukaan endapan koloidal krn adanya pasangan muatan ion. Company name

  24. Adsorpsi senyawa organik berwarna pada permukaan endapan dapat menginduksi pergeseran elektronik intramolekuler yang mengubah warna. • Gejala tsb digunakan untuk mendeteksi titik akhir titrasi pengendapan garam-garam perak. Company name

  25. Suatu endapan cenderung mengadsorpsi lebih mudah ion-ion yang membentuk senyawa tidak larut dengan satu dari ion-ion dalam kisi endapan. • Jadi, Ag+ ataupun Cl- akan lebih mudah diadsorpsi oleh endapan AgCl daripada oleh ion Na+ ataupun NO3-. Anion yang ada dalam larutan akan tertarik membentuk lapisan sekunder. • Fluoresein adalah asam organik lemah, membentuk anion fluoreseinat yang tidak dapat diadsorpsi oleh endapan koloidal AgCl selama Cl- berlebih. Akan tetapi saat Ag+ berlebih akan terjadi adsorpsi anion fluoreseinat ke lapisan Ag+ yang melapisi endapan, diikuti dengan perubahan warna menjadi pink. Company name

  26. Faktor-faktor yang dipertimbangkan dalammemilih indikator adsorpsi : 1) Pada TE jangan dibiarkan AgCl menggumpal menjadi partikel besar, karena akanmenurunkan dengan tajam daya adsorpsi permukaan endapan terhadap indikator. Jika itu terjadi, diatasi dengan penambahan dextrin, sebagai koloid pelindung agar endapan terdispersi lebih banyak. Dengan adanya dextrin maka perubahan warna menjadi reversibel, dan setelah lewat TE dapat dilakukan titrasi balik dengan larutan baku Cl-. Company name

  27. 2) Adsorpsi indikator harus mulai terjadi sesaat sebelum TE dan makin cepat pada TE. Indikator yang jelek performansinya akan teradsorpsi kuat sehingga mensubstitusi ion-ion yang telah teradsorpsi sebelum TE. 3) pH larutan harus terkontrol agar dapat mempertahankan konsentrasi ion dari indikator asam lemah ataupun basa. Misalnya,fluoresein (Ka = 10-7) dalam larutan yang lebih asam dari pH 7 melepas fluoreseinat sangat kecil sehingga perubahan warna tidak dapat diamati. Fluoresein hanya dapat digunakan pada pH 7-10, sedangan difluoresein (Ka=10-4) digunakan pada pH 4-10. Company name

  28. 4) Sebaiknya dipilih ion indikator yang muatannya berlewanan dengan ion penitrasi. Adsorpsi indikator tidak terjadi sebelum terjadi kelebihan titran. Pada titrasi Ag+ dengan Cl- dapat digunakan metil violet (garam klorida dari suatu basa organik) sebagai indikator adsorpsi. Kation tidak teradsorpsi sebelum terjadi kelebihan Cl- dan koloid bermuatan negatif. Dalam hal tersebut dapat digunakan indikator diklorofluoresein, tetapi harus ditambahkan sesaat menjelang TE. Company name

  29. Company name

  30. Company name

  31. TITRASI MERKURIMETRI Hg2+ + 2 Cl-→ HgCl2 (berlaku utk halida lain) Jika ion halida dititrasi dengan merkuri nitrat, pd TE tidak ada [Hg2+] karena selama titrasi terbentuk endapan HgCl2, namun setelah TE terjadi kenaikan [Hg2+] yg segera bereaksi dg indikator membentuk kompleks Hg-Indikator; mis. indikator nitroprusid membentuk endapan putih, indikator difenilkarbazid atau difenilkarbazon dlm asam membentuk warna ungu intensif. Diperlukan koreksi dg titrasi blanko : 0,17 ml Hg(NO3)2 0,1 N untuk 50 ml HgCl2 0,05 N. Volume titrasi blanko bervariasi sesuai besarnya [HgCl2] TE karena [Hg2+] berlebih akan beraksi dg HgCl2 : HgCl2 + Hg2+→ 2 HgCl+ Company name

  32. TITRASI KOLTHOFF Company name

  33. Selanjutnya….. titrasi pembentukan komplek www.themegallery.com

More Related