1 / 18

Tujuh Cabang Fotografi Umum

Tujuh Cabang Fotografi Umum.

jack
Download Presentation

Tujuh Cabang Fotografi Umum

An Image/Link below is provided (as is) to download presentation Download Policy: Content on the Website is provided to you AS IS for your information and personal use and may not be sold / licensed / shared on other websites without getting consent from its author. Content is provided to you AS IS for your information and personal use only. Download presentation by click this link. While downloading, if for some reason you are not able to download a presentation, the publisher may have deleted the file from their server. During download, if you can't get a presentation, the file might be deleted by the publisher.

E N D

Presentation Transcript


  1. Tujuh Cabang Fotografi Umum FOTOGRAFI adalah sebuah medium. Dia netral sebagai alat ekspresi. Sama seperti bidang politik: mirip kendaraan juga netral, tak bisa begitu saja disimpulkan “kotor”, misalnya. Fotografi pun dapat dijuluki kendaraan untuk menyampaikan aneka gagasan, pesan atau kesan, setara dengan sektor Bahasa Kata atau tulis-menulis. Orang berkembang sesuai dengan potensi minatnya di bidang tulis-menulis — setelah belajar, tentu saja. Dan sejak awal belajar menulis, tidak pernah disebut-sebut bahwa orang harus punya bakat seni. Juga tidak pernah terdengar iming-iming: kalau pandai menulis nanti kau menjadi pujangga, misalnya. Warasnya, untuk belajar fotografi pun sama saja. Setelah ada minat mempelajari fotografi, lalu kelak berkembang menjadi seniman foto, ya bersyukurlah. Namun fakta menunjukkan cabang fotografi itu banyak, bukan melulu monopoli lorong kegiatan seni-menyeni. Cuma orang yang mau bikin kesan angker saja yang suka bilang belajar foto harus ada bakat seni. Ikuti uraian ringkas berikut ini.

  2. BERDASARKAN karya yang pernah dihasilkan oleh mereka yang bergiat di bidang ini, maka para pencatat sejarah merumuskan adanya lima cabang besar fotografi. Yaitu: Amatir, Profesional, Komersial, Seni, dan Polaroid Land Camera. Cabang-cabang itu terbentuk sesuai karakteristik karya sang fotografer. Dan sebagian lagi berdasarkan kehadiran kamera serta peragat pendukungnya. Untuk karakteristik jenis karya, maka pada tahun 1980-an, misalnya, mulai ada yang menyebut bidang Foto Jurnalistik sebenarnya adalah cabang tersendiri dalam rumpun fotografi. Lalu ada perkembangan paling mutakhir dari segi peragat, yakni masuknya sistem digital dalam teknologi fotografi, sejak awal 1990-an. Sangat fantastis. Sampai-sampai ada yang berkata: inilah tanda-tanda kiamat bagi kamera dan fotografi konvensional. Bisa ya, bisa tidak. Tapi lepas dari urusan tamat tidaknya riwayat benda-benda foto biasa, yang jelas sistem digital telah membawa sebuah revolusi dalam teknologi fotografi secara umum. Fotografi Digital pun patut dicatat sebagai cabang baru dalam dunia fotografi.

  3. Cabang Amatir Amateur, menurut kamus berarti mutu pekerjaan yang tidak begitu baik. Dalam kaitan dengan fotografi, orang sering menyederhanakan pengertiannya sebagai bertolak belakang dengan profesional. Menurut paham awam, amatir tidak terima bayaran, sedangkan profesional ya dapat duit dari pekerjaannya. Padahal, Mat Kodak taman ria yang jelas-jelas terima bayaran toh beken dijuluki tukang foto amatir juga…. Kini boleh diketahui, fotografer amatir bisa terdapat di semua lapisan masyarakat. Di antara mereka ada yang amat menggemari utak-atik mekanik kamera serta bahan kimia foto. Khusus di kalangan mereka yang berdompet tebal, ada semacam nafsu membeli kamera, tak peduli berapa pun harganya.

  4. Dunia fotografi umum mengenal istilah hobbyist. Artinya, orang memotret cuma sebagai hobi, atau buat mengisi waktu senggang. Sebagai penggemar (dilettante) fotografi yang terbilang berduit, mereka serius bergaul dengan benda-benda foto. Termasuk melakukan aneka eksperimen obat pengembang di kamar gelap — ketika fotografi konvensional masih berjaya. Mereka sering punya literatur atau bacaan yang kaya mengenai fotografi, hingga terbilang mahir bicara soal kodak-mengodak. Di kalangan para penggemar foto ini ada pula kelompok unik. Satu tempo mereka jepret sana jepret sini. Namun sebuah kamera adakalanya tidak berguna lama serentak dia selesai memakainya. Benda itu kalau bukan masuk lemari koleksinya, atau ditukar tambah dengan model paling mutakhir. Jadi, tidaklah aneh bila dia punya hubungan yang mesra dengan para dealer benda-benda foto. Di negeri sono, kalangan ini bukan lagi dijuluki diletan, melainkan gadgetter alias pecinta peragat, dalam hal ini benda-benda foto. Menurut sejarah, sebenarnya sumbangsih kaum amatir terbilang penting dalam kemajuan fotografi pada masa dini. Misalnya, di abad ke-19 belum ada pabrik kimia foto. Material obat pengembang film atau untuk proses cetak foto, diramu oleh kaum amatir. Jerih payah mereka itu kelak berkembang menjadi industri tersendiri. Bahan kimia foto siap pakai kini tersedia dalam jumlah besar, dan mutu seragam pula. Kaum diletan kini sudah punah? Masih ada kok. Cuma gairahnya lebih sebagai kepuasan pribadi. Yakni unjuk kebolehan dalam memotret untuk mengekspresikan citarasa estetikanya

  5. Cabang Polaroid Land Camera Jauh sebelum merasuknya sistem digital di bidang kodak-mengodak, perubahan radikal pernah terjadi setengah abad sebelumnya. Yaitu, saat lahirnya jenis kamera Polaroid Land. Kehadirannya minimal mempertegas latar belakang terbentuknya suatu cabang dalam dunia fotografi. Benda mekanik ini lengkapnya bernama Polaroid Land Camera, sesuai nama juragannya — Edwin Herbert Land (1909-1991) — wajahnya di samping ini. Ia seorang pengusaha di Amerika, melahirkan kamera ini tahun 1947. Mencogoknya kamera Polaroid Land, waktu itu, dicatat sebagai semacam terobosan dalam teknologi fotogafi.

  6. Pada zaman itu, untuk melakukan pengembangan film negatif diperlukan ruangan khusus. Juga peralatan serta bahan kimia yang mesti diramu oleh ahlinya. Proses film sampai jadi foto, total waktu mencapai satu bulan. Menurut riwayatnya, suatu hari di tahun 1940 adalah sang putri sehabis difoto lalu merengek. Dia ingin segera bisa melihat hasilnya. Nah, kalau orang kita direngek anak, ya si anak dicubit. Tapi bagi seorang Land justru merupakan inspirasi untuk menciptakan kamera instamatik ini. Tujuh tahun kemudian, impian sang anak menjadi kenyataan. Eksperimen kamera sejenis, pernah dilakukan orang sekitar tahun 1890. Namanya, Nodark. Tapi hasilnya baru sampai tahap jadi foto negatif. Dan pihak Kodak sempat sewot urusan nama yang mirip itu, sampai akhirnya Nodark harus gulung-tikar. Akan halnya Polaroid buatan Land — sang inventor, langsung menghasilkan foto dalam bentuk tercetak — dan tanpa film samasekali. Land melansirnya pertama kali di Boston, masih dalam bentuk foto hitam putih. Jepretan dalam tatawarna baru dicapainya tahun 1963. Produk Land ini diakui sebagai revolusi dalam teknologi fotografi. Dan jurucatat sejarah pun menobatkannya sebagai cabang baru dunia kodak-mengodak.

  7. Cabang Komersial Kegiatan ini tumbuh karena adanya orang yang memanfaatkan fotografi dari segi komersial tulen. Memang, kodak-mengodak sah dan halal saja dijadikan sebagai satu-satunya jalan buat cari duit. Mereka yang bergiat di cabang ini terdiri dari berbagai kalangan. Mulai dari Mat Kodak yang menawarkan jasa foto di taman-taman rekreasi. Lalu Mat Kodak album, misalnya untuk rekaman berbagai resepsi. Sampai pada mereka yang melakukan pemotretan model untuk iklan. Atau sekalian membuka studio foto. Kecuali mereka yang beroperasi di tempat-tempat rekreasi atau resepsi, umumnya Mat Kodak yang bergiat di cabang ini memakai jenis kamera format besar. Atau jenis kamera medium. Mereka piawai mengoperasikan kamera serta aneka lampu, yang harganya bisa mencapai ratusan juta rupiah.

  8. Beda lainnya dengan sekadar Mat Kodak taman atau resepsi, para Mat Kodak model patut dicatat memiliki citarasa khas. Sebutlah punya selera estetika — dan di bagian ini mereka sering dijuluki seniman foto, seraya tetap ramah melayani maunya para pemesan foto. Dalam Cabang Komersial, Mat Kodak terbilang halal melakukan aneka trick ataupun gimmick alias manipulasi teknis. Kelonggaran yang sama pun dapat dinikmati oleh mereka yang bergiat di Cabang Amatir atau pun Seni. Bedanya adalah jika di Cabang Komersial sang Mat Kodak sering harus berkompromi dengan maunya pihak pemesan, maka dalam Cabang Amatir geraknya lebih leluasa sebagai kesenangan sendiri. Apa lagi di Cabang Seni, mana boleh orang lain ikut campur?

  9. Cabang Seni Adanya Cabang Seni dalam rumpun fotografi, kian memperjelas pengertian bahwa fotografi adalah netral sebagai medium ekspresi. Ya, setara dengan kegiatan di sektor Bahasa Kata, orang berkembang sesuai dengan potensi minatnya. Ingat, misalnya, ketika awal belajar menulis di sekolah dasar dulu, kan tidak pernah disebut-sebut bahwa orang harus punya bakat seni. Juga tidak pernah terdengar iming-iming: kalau pandai menulis nanti kau jadi pujangga, misalnya.

  10. Begitu pula halnya dengan kegiatan kodak-mengodak. Setelah ada minat mempelajarinya, lalu kelak berkembang menjadi seniman foto, ya bersyukurlah. Namun dari hadirnya ragam cabang lain, tentu bisa dipahami bahwa fotografi bukanlah hanya monopoli lorong kegiatan seni-menyeni. Lantas, seni itu apa sih? Menurut ahlinya, konsep seni-menyeni itu sendiri beragam adanya, bahkan seba-nyak rambut di kepala. Dari sinilah agaknya lahir ungkapan terkenal: seni adalah tiang demokrasi. “Seni adalah anak sebuah zaman,” kata pelukis asal Russia, W. Kandinsky (1866-1944). Pelukis ekspresionis yang berkibar di Munich, Jerman, ini meninggal di Paris. Dalam ‘rumus’nya, Kandinsky menyatakan, kerja kreatif merupakan pembebasan komplet dari warna dan bentuk-bentuk yang ter-dapat di alam. Rumusan lainnya kita dengar lagi dari dramawan W.S. Rendra. Pada suatu hari di tahun 1968, ia bilang: “berseni-seni itu persis seperti orang buang hajat.” Yah, yang ke luar dari dalam perut tentu tidak sama dengan yang dimakan. Kalau sampai sama, itu tandanya alat pencernaan tidak beres. “Seni adalah dusta, dan seniman bekerja meyakinkan dustanya menjadi kebenaran,” kata pelukis beken Pablo Picasso (1881-1973). Dan banyak lagi rumusan lainnya. Silakan untuk setuju atau tidak bersetuju.

  11. Namun dari aneka rumusan tadi — kalau boleh disebut begitu, kiranya ada yang mungkin cocok dengan “ajaran alam yang terkembang.” Yaitu, pada sosok kupu-kupu. Aslinya kan berupa ulat yang mungkin bikin kita merinding. Tapi setelah dia bermetamorfosis dalam kepompong, Sang Tangan Agung menjelmakannya menjadi kupu- kupu nan elok cantik menawan. Cuplikan ringkas ihwal seni-menyeni ini mengisyaratkan satu hal. Yakni suatu karya yang bernilai seni bukanlah sekadar wujud teknis reproduksi. Tapi ada proses pencerapan serta pengolahan batin terhadap aneka subjek yang menjadi bagian pengalaman hidup. Setelah melewati suatu proses penghayatan yang intens, ketika diekspresikan kembali dia tersaji dalam sosok yang unik. Ada sentuhan batin, ada getaran sukma. Di bagian ini ada ungkapan jitu: apa yang berasal dari hati akan sampai ke hati. Tapi jika hanya bicara dari perut, sampainya hanya ke pelimbahan…… Begitulah. Menurut riwayatnya, hasrat untuk berkreasi atawa mencipta merupakan satu di antara kekuatan paling ajaib dalam diri manusia. Kemampuan daya cipta alias kreativitas — tarafnya berbeda pada satu orang dengan orang lainnya. Inilah sebentuk anugerah Ilahiyah buat makhluk yang dimuliakan-Nya. Ya hanya untuk manusia! Sifat kreatif tidak terdapat pada satwa yang tergolong paling cerdas sekali pun. Potensi kreatif, dengan demikian, terlepas dari urusan status, pangkat, jabatan atau profesi. Dan menurut para ahli, kreativitas — ibarat pisau — hanya bakal tajam jika rajin mengasahnya.

  12. Cabang Profesional Istilah profesi sejauh ini luas dipahami identik dengan lapangan kerja untuk mencari sesuap nasi ( …. dan secangkir berlian). Agar tidak terperangkap dalam paham awam semacam itu, mari kita pahami makna sebenarnya dari istilah asing itu. Profesi (profession, kata orang Inggris), berasal dari kata Latin: professio. Artinya, jenis pekerjaan yang menuntut keahlian tertentu. Menurut riwayatnya di zaman Yunani Kuno, yang disebut profesi terdiri dari tiga bidang kegiatan. Yaitu keagamaan, ketabiban dan kesenian.

  13. Di tiga bidang besar ini kita lihat kaitan eratnya dengan hajat hidup orang ramai. Sebagai profesi, maka produk atau hasilnya mampu memberi “sesuatu” buat orang awam. Dimaksud dengan “sesuatu” bisa menyangkut kebutuhan fisik, bisa pula nonfisik — memberi pencerahan spiritual dan intelektual. Dan mutunya teruji hingga diakui oleh kalangan ahli. Berangkat dari cikal-bakal pengertian profesi semenjak zaman Yunani Kuno tadi, satu hal patut dicatat. Yaitu, sekali kita memilih sebuah lapangan pekerjaan sebagai profesi, maka siap-siaplah secara mental untuk tidak mengenal istilah bekas ataupun pensiunan. Jangan pula sampai disebut “mantan”, karena artinya cuma “manusia restan”. Di bidang keagamaan, misalnya. Mana ada sih bekas ulama atau bekas rohaniwan? Biasanya, adalah bekas buaya yang menjadi abuya — sapaan untuk seorang ulama. Lalu, di bidang kesenian. Kalau ikut pakemnya, tentu tidak ada istilah bekas pelukis. Atau bekas pengarang, bekas penyair, dan seterusnya. Begitu pula di bidang ketabiban alias kedokteran, mana ada sih bekas dokter? Atau bekas insinyur, bekas profesor, misalnya. Jelas tidak ada! Akan halnya status pensiunan, boleh jadi seorang ulama, dokter atau pelukis pensiun sebagai pegawai di suatu kantor pemerintah atau swasta.

  14. Namun sebagai dokter, ulama atau pelukis, niscaya gelar itu menyatu dengan namanya. Dan terus melekat hingga akhir hayatnya, bahkan terpahat sampai di batu nisannya. Beda profesional dengan amatir, dengan demikian, bukanlah hanya berkisar pada paham kebendaan. Tapi lebih esensial, yakni menyangkut sikap dan tanggung-jawab secara kemasyarakatan. Di dalamnya terkandung amanah membangun harkat dan martabat manusia serta kemanusiaan. Itu sebabnya, seorang profesional senantiasa memelihara sikap dasar dalam dirinya — bak kata peribahasa: di balik langit banyak langit lain. Artinya, selain dia masih banyak orang yang lebih ahli. Artinya lagi: seorang profesional tidak pernah berhenti belajar.

  15. Cabang Fotografi Jurnalistik Semula dimasukkan dalam Cabang Profesional, karena kegiatan fotografi kewartawanan memang menyangkut kepentingan orang banyak. Ini sesuai dengan watak dasar bidang kerjanya secara umum, yakni: media massa. Tapi dibandingkan dengan berbagai kegiatan kodak-mengodak lainnya, ada yang unik pada dunia Fotografi Jurnalistik. Yakni corak kerjanya yang menggedor “mitos” tapal batas cabang demi cabang fotografi. Misalnya, karya Mat Kodak pers punya nilai seni juga. Sah saja, sekali pun bukan merupakan prasyarat.

  16. Mau dibilang Komersial, ya bisa juga. Kan ada proses jual beli foto. Dan media massa itu sendiri secara keseluruhan memang sebuah usaha bisnis. Namun penting diingat, bisnis media massa pada hakikatnya merupakan jenis bisnis “cuci-otak” — secara mendasar mengandung karakteristik yang berbeda dengan sembarang bisnis. Fotografi Jurnalistik bisa masuk Cabang Amatir, dengan pengertian para Mat Kodaknya tidak membiarkan diri bagai kodok di bawah batok. Rasa ingin tahunya bukan cuma seputar benda-benda foto mutakhir. Lebih dari itu, rajin mengikuti perkembangan — dan memperkaya pengetahuan umum dengan beragam bacaan. Tiap cabang foto tadi awalnya mungkin terkesan eksklusif. Tapi jika disimak baik-baik, tampak bahwa batasnya adalah ibarat tabir yang cuma setipis kulit bawang. Nah, Fotografi Jurnalistik secara nyata telah menembus tapal-batas itu. Dari kenyataan inilah kemudian ada yang menyimpulkan Fotografi Jurnalistik patut ditahbiskan sebagai cabang baru dalam peta fotografi umum.

  17. Cabang Fotografi Digital Kehadiran kamera digital merupakan sensasi baru dalam dunia kodak-mengodak, melebihi revolusi yang pernah dicapai Polaroid Land Camera. Lembar seluloid serta aneka bahan kimia dipinggirkan, untuk disilih dengan proses serba elektronis, yang mampu mewujudkan hasil dalam tempo seketika. Seluruh citra gambar disimpan dengan sistem compact disk (CD system), yang dijuluki sebagai album magnetik. Tapi lebih dari sekadar sosok kamera, digital itu sendiri sebagai sistem perekam serta pengolahan citra gambar, telah melahirkan revolusi khas dalam industri multimedia umumnya.

  18. Ada yang kegirangan malahap teknologi mutakhir ini, ada pula yang terpekik pilu. Ini pernah kejadian di Taiwan. Ceritanya, para cewek model iklan terancam kehilangan pekerjaan. Sosok mereka yang mungkin aduhai, digeser oleh cewek-cewek imajiner buatan komputer. Tampilannya lebih cihuy, dan tarifnya jauh di bawah model betulan. Khusus untuk fotografi umum, perlu diketahui bahwa gambar yang sudah ditukangi ini bukan fotografi lagi namanya, tapi disebut composography. Atau karya gafis hasil rajutan sejumlah gambar. Dalam pada itu, orang Jepang sejak lama berupaya keras ‘masuk sejarah’ fotografi. Misalnya, mereka sudah membuat kamera semenjak tahun 1903, atau tak lebih dari 20 tahun setelah Kodak melansir kameranya yang pertama. Sampai hari ini Jepang sudah melansir 400 lebih model kamera, berikut rupa-rupa sistem mekaniknya. Dan kini mereka kian menggiatkan aneka generasi kamera digital, sehingga masa-masa dekat di depan kita boleh dijuluki Era Fototronik. Sekaligus mengukuhkan Fotografi Digital sebagai cabang baru dalam rumpun fotografi.

More Related