1 / 17

Cara Berfikir Etis

Cara Berfikir Etis. Ferly David, M.Si. Kasus Parlin. Parlin meminta ijin ayah dan ibunya untuk pergi ke pesta ulang tahun seorang temannya. Mereka mengijinkan dengan satu syarat: Parlin sudah harus kembali di rumah sebelum jam 11 malam. Parlin berjanji, lalu pergi.

gerald
Download Presentation

Cara Berfikir Etis

An Image/Link below is provided (as is) to download presentation Download Policy: Content on the Website is provided to you AS IS for your information and personal use and may not be sold / licensed / shared on other websites without getting consent from its author. Content is provided to you AS IS for your information and personal use only. Download presentation by click this link. While downloading, if for some reason you are not able to download a presentation, the publisher may have deleted the file from their server. During download, if you can't get a presentation, the file might be deleted by the publisher.

E N D

Presentation Transcript


  1. Cara Berfikir Etis Ferly David, M.Si.

  2. Kasus Parlin • Parlin meminta ijin ayah dan ibunya untuk pergi ke pesta ulang tahun seorang temannya. • Mereka mengijinkan dengan satu syarat: Parlin sudah harus kembali di rumah sebelum jam 11 malam. Parlin berjanji, lalu pergi. • Tetapi apa yang terjadi? Ia baru kembali pukul 2.00 pagi. Parlin mengatakan, ia tidak ingin melanggar janjinya, tetapi ia tidak mempunyai pilihan lain.

  3. Di Pesta, tidak ada seorangpun temannya yang pulang sebelum pukul 11. Ketika ia pamit, semua teman menertawakan dan mengejek dia. Karena itu, ia tidak jadi pulang. Ia tidak mau jadi malu. • Dan sesudah itu, walau ia tahu bahwa ia sudah terlambat, ia masih harus mengantar dua teman wanitanya pulang. Maklum rumah mereka jauh dan hanya Parlin yang yang membawa mobil. • Parlin berkata: “Saya mengakui salah, tetapi saya tidak bisa berbuat lain”.

  4. Mendengar itu, ayah Parlin berkata: “Parlin, aku memahami keadaanmu. Tetapi ketahuilah, bahwa janji adalah janji. Dan janji harus ditepati. • Apapun alasannya, engkau tetap bersalah. Dan karena itu, engkau harus dihukum.

  5. Ibu Parlin protes. “Aku tahu, bahwa si Parlin memang bersalah. Ia sudah mengakuinya. Tetapi mengapa ia harus dihukum. • Parlin toh tidak berbuat jahat. Maksudnya baik. Ia malah mengantar teman-teman wanitanya pulang. Ini kan perbuatan luhur?

  6. Siapa Yang paling Etis? Parlin, Ayahatau Ibunya?

  7. Memberi pegangan yang tegas dan jelas. Ayah Cara Berfikir Etis: Benar atau salah Tindakan benar jika sesuai dengan hukum atau aturan, dan salah jika melanggarnya Aturan / Hukum / Norma Kamu salah karena Tidak menepati janji Deontologis

  8. Pemikir Deontologis • Bertindaklah atas dalil bahwa apa yang anda lakukan itu sebagai hukum yang universal Immanuel Kant

  9. Persoalannya: Bagaimana membuat hukum bagi setiap kemungkinan tindakan? Hukum “jangan membunuh”  Bagaimana: ketika perang? ketika membela diri? Hukuman mati? Perjanjian Bisnis  Bagaimana diaturnya? Persoalan dan Ekses negatifBerfikir Deontologis • Hukum tidak melayani manusia, tetapi manusia melayani hukum. • Kasus Nenek yang tergelincir di salju atau • Kasus “safety belt” LEGALISME:

  10. Ibu Cara Berfikir Etis: Baik atau Jahat Tindakan dinilai sebagai baik jika tujuannya baik, atau jahat jika tujuannya jahat. Parlin memang salah, tapi tidakjahat. Tujuannya baik. Tujuan & Akibat. Teleologis • Hukum bukan diabaikan, tetapi itu bukan ukuran terakhir.

  11. Pemikir Teleologis • The greatest number good for the greatest number (Sebuah tindakan baik jika bertujuan dan berakibat membawa kebaikan paling besar bagi sebanyak mungkin orang) John Stuart Mill

  12. Persoalannya: Bagaimana menentukan ukuran obyektif tentang tujuan yang baik atau jahat. Baik untuk siapa? (Keputusan USA menyerang Irak?) Persoalan dan Ekses negatifBerfikir Teleologis • Menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan • Kasus Robin Hood. • Kasus Kekerasan agama HEDONISME:

  13. Parlin Cara Berfikir Etis: Tepat atau Tidak Tindakan disebut tepat atau tidak tepat sesuai dengan situasi dan kondisi. Situasi & Kondisi Saya mengakui salah, Tapi tidak bisa berbuat lain. Kontekstual • Meletakkan situasi dan kondisi tertentu sebagai pertimbangan pokok.

  14. Pemikir Kontekstual • Yang paling penting bukanlah “apa yang secara universal benar atau baik”, tetapi apa yang secara kontekstual paling “bertanggung-jawab” Richard H. Niebhur

  15. Persoalan dan ekses negatifBerfikir Kontekstual • Persoalannya: Situasi dan kondisi itu bersifat subyektif, jadi bagaimana menentukan ukuran obyektif pada tindakan. • Relativisme (merelatifkan semua norma) dan subyektivisme (menempatkan pertimbangan diri sendiri secara mutlak) • Kasus pembuatan SIM / Tilang. • Kasus pengurusan pajak SITUASIONAL

  16. Jadi Bagaimana? • Tidak ada cara berfikir yang “paling etis” • Setiap cara berfikir punya kekuatan dan kelemahan. • Seseorang bisa saja (seharusnya!) untuk suatu masalah menggunakan beberapa cara berfikir yang berbeda-beda • Yang perlu diusahakan adalah tindakan apa yang paling benar, baik dan tepat.

  17. Pertanyaan Pengarah • Jelaskan Yang dimaksud dengan pengambilan keputusan etis! • Jelaskan cara berfikir deontolgis! Apa keunggulan cara berfikir ini, dan apa kelemahannya? • Jelaskan cara berfikir teleologis! Apa keunggulan cara berfikir ini, dan apa kelemahannya? • Jelaskan cara berfikir kontekstual! Apa keunggulan cara berfikir ini, dan apa kelemahannya? • Cobalah meliha satu kasus dengan menganalisis cara berfikirnya. Cara berfikir mana yang digunakan seseorang untuk menilai suatu tindakan.

More Related