Saya masih teringat ketika duduk dibangku sekolah dasar, guru saya
This presentation is the property of its rightful owner.
Sponsored Links
1 / 2

saya masih teringat ketika duduk dibangku sekolah dasar, guru saya PowerPoint PPT Presentation


  • 133 Views
  • Uploaded on
  • Presentation posted in: General

saya masih teringat ketika duduk dibangku sekolah dasar, guru saya mengajarkan saya tentang kejujuran, kebaikan, kesabaran dsbx. Itu semua telah terekam kuat dalam benak saya. Guru juga menyontohkan beberapa sifat tak jujur

Download Presentation

saya masih teringat ketika duduk dibangku sekolah dasar, guru saya

An Image/Link below is provided (as is) to download presentation

Download Policy: Content on the Website is provided to you AS IS for your information and personal use and may not be sold / licensed / shared on other websites without getting consent from its author.While downloading, if for some reason you are not able to download a presentation, the publisher may have deleted the file from their server.


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - E N D - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Presentation Transcript


Saya masih teringat ketika duduk dibangku sekolah dasar guru saya

saya masih teringat ketika duduk dibangku sekolah dasar, guru saya

mengajarkan saya tentang kejujuran, kebaikan, kesabaran dsbx. Itu semua telah

terekam kuat dalam benak saya. Guru juga menyontohkan beberapa sifat tak jujur

diantaranya menyontek hasil pekerjaan teman. Ini jelas merupakan suatu yang lumrah

karena memang belajar adalah suatu proses yang kelak akan mengubah pola pikir

seseorang dan diharapkan pola pikir tersebut akan menjurus kepada hal-hal yang

bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain. Namun dalam seiring perjalanan ternyata saya menemukan hal-hal yang

mengganjal dalam melalui prosese pendidikan di negeri ini. Sejak Mendiknas

menggulirkan adanya Unas, berbgai dekadensi moralpun mulai tercipta. Ya, apa yang

saya maksud adalah hilangnya paham kejujuran yang selama ini di junjung tinggi oleh

para guru (mual'lim). Kenapa bisa begitu?, kita melihat dan menyaksikan sendiri beberapa statement

dari kepala sekolah, bahwa sekolah harus bisa meluluskan sisiwa sebanyak-

banyaknya tanpa diimbunhi dengan label halal. Ya, apapun akn dilakukan pihak

sekolah agar siswanya dapat lulus 100% terlepas dari haram halalnya. Memang sulit menjadi pendidik, apalagi seorang guru. Guru dituntut untuk

membuat sisiwanya lulus, dan lulus harus memenuhi kriteria penilaian yang sudah

ditentukan pemerintah. Jika guru tak dapat meluluskan siswanya, ini berimbas pada

citra buruk sekolahan tersebut, nah kalau sekolah sudah memiliki citra buruk,

otomatis tidak akan laku dimasyarakat karena diklaim tidak becus mendidik anak

karena banyaknya yang tidak lulus. Disaat inilah muallim dihadapkan pada sesuatu yang sangat membingungkan,

diantaranya tentang makna kejujuran yang telah ia kampanyekan dalam pembelajaran.

Bingungnya, kalau guru tetap mempertahankan paham kejujuran, ditakutkan akan

banyak siswa yang tidak lulus. Apalagi tidak semua siswa memiliki otak yang

cemerlang, saya yakin itu. Dan kalu banyak sisiwa yang tak lulus maka citra guru

tersebut akan jatuh beserta citra sekolahnya. Otomatis karena terjebak dalam masalah

ini, gurupun akan menghalalkn segala cara agar siswanya lulus, termasuk

menghalalkan contekan ataupun memberi bocoran dan sebagainya. Padahal kita tahu,

menyontek sama dengan mencuri, dan mencuri salahsatunya korupsi. Mungkin

disinalah secara tidak langsung lahirlah benih-benih koruptor. Karena jika seseorang

sudah sukses berbuat hal yang kecil, maka dia akan berusaha akan berbuat hal yang

lebih besar, termasuk dalam praktek kejahatan. Dalam ilmu pembelajaran, siswa diharapkan memenuhi tiga aspek yaitu:

kognitif, psikomotorik dan afektif. Namun pada prakteknya pemerintah hanya

memfasilitasi yang kognitif saja, salah satunya dengan menggelar Unas. Ini jelas

membuat muallim bingung bagaimana agar tiga aspek tersebut bisa berjalan, jika pada

puncaknya hanya aspek kognitif yang dikedepankan. Misal, seorang sisiwa akan


Saya masih teringat ketika duduk dibangku sekolah dasar guru saya

diterima di SMA favorit jika nilainya memenuhi standart, tanpa dibuktikan murni

tidaknya nilai itu. Sementara mereka yang memiliki nilai pas-pasan ataupun nilai

kecil, seperti di deskriminasikan dalam pendidikan kita. Padahal bisa jadi pada apek

psikomotorik ataupun afektif merka lebih hebat. Kalau melihat hal-hal berikut.ini jelas jika menjadi muallim sangatlah penuh

dengan dilema, disisi lain muallim ingin menghadirkan lulusan yng kompeten dengan

menempatkan kejujuran sebagai jiwa mereka, seperti jika jiwanya A, maka dia akan

lulus A, tidak seperti yang kita lihat selama ini, mereka yang jiwanya A, akhirnya

lulus dengan jiwa B. Ini jelas sudah tidak sesuai dengan jiwa siswa tersebut dan

akhirnya siswa akan kebingungan mengenali kemampuannya. Faktanya, sekolah yang

seharusnya menjadi simbol intelektualitas dan pondok perbaikan manusia, kini seperti

sebuah instansi yang menghalalkan yang haram dan mendidik para calon yang berjiwa

pencuri dsb. o


  • Login