1 / 75

RINGKASAN MATERI

RINGKASAN MATERI. BAHASA INDONESIA MKU. Resmi. ». Lisan. Tidak. Resmi. Ragam. Bahasa. Resmi. ». Tulis. Tidak. Resmi. Ragam Bahasa. 1. Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Bahasa. yang . baik. adalah. yang . sesuai. dengan. situasi. komunikasi. Bahasa. yang . benar.

efuru
Download Presentation

RINGKASAN MATERI

An Image/Link below is provided (as is) to download presentation Download Policy: Content on the Website is provided to you AS IS for your information and personal use and may not be sold / licensed / shared on other websites without getting consent from its author. Content is provided to you AS IS for your information and personal use only. Download presentation by click this link. While downloading, if for some reason you are not able to download a presentation, the publisher may have deleted the file from their server. During download, if you can't get a presentation, the file might be deleted by the publisher.

E N D

Presentation Transcript


  1. RINGKASAN MATERI • BAHASA INDONESIA MKU

  2. Resmi » Lisan Tidak Resmi Ragam Bahasa Resmi » Tulis Tidak Resmi Ragam Bahasa 1

  3. Bahasa Indonesia yang baik dan benar Bahasa yang baik adalah yang sesuai dengan situasi komunikasi Bahasa yang benar adalah yang sesuai dengan kaidah Bahasa yang baik dan benar adalah yang sesuai dengan situasi dan sekaligus sesuai pula dengan kaidah 2

  4. Kaidah Bahasa 1. Tata Tulis ( Ejaan ) 2. Tata Bentukan Kata 3. Tata Kalimat 4. Tata Paragraf 3

  5. Ejaan (EYD) adalah kaidah bahasa yang mengatur penulisan huruf , penulisan kata , dan penggunaan tanda baca . Misalnya , penempatan tanda baca pada kalimat berikut akan mempengaruhi informasi yang disampaikan . Menurut kabar burung Pak Amat mati EJAAN BAHASA INDONESIA 4

  6. 1. Huruf Miring a. Untuk menuliskan judul buku , nama majalah , dan nama surat kabar yang dikutip di dalam teks ; b. Untuk menuliskan huruf , kata , atau istilah yang dikhususkan/ditegaskan ; c. Untuk menuliskan kata atau istilah asing , termasuk istilah ilmiah , dan kata atau istilah dari bahasa daerah . Penulisan Huruf 5

  7. 2. Huruf Kapital Huruf kapital seluruhnya digunakan untuk menuliskan a. judul utama , b. judul bab , c. judul kata pengantar , daftar isi, dan daftar pustaka . 6

  8. Huruf Kapital Awal Kata pada setiap awal kata Huruf kapital digunakan untuk menuliskan a. judul - judul subbab , kitab b. nama Tuhan , nabi , agama, dan suci c. nama diri , d. nama tahun , bulan , dan hari , e. nama gelar , jabatan , dan pangkat , f. nama - nama geografi dan sapaan . 7

  9. Penulisan Kata Penulisan Gabungan Kata 1. a. Gabungan kata ditulis serangkai jika mendapat awalan dan akhiran sekaligus atau salah satu unsurnya berupa unsur terikat . b. Gabungan kata ditulis terpisah jika tidak berimbuhan atau hanya mendapat imbuhan awalan/akhiran . 2. Penulisan Bentuk dan di , per, pun 3. Penulisan Bentuk Ulang Bentuk ulang ditulis ulang dengan menggunakan tanda hubung . 8

  10. Penulisan Unsur Serapan 1. Penerjemahan shophouse --- ruko (rumah toko) à industrial estate --- kawasan industri à balanced budget --- anggaran à berimbang 2. Penyesuaian ejaan energy --- energi à standardization --- standardisasi à 3. Penerjemahan dan Penyerapan subdivision --- subbagian à inflation rate --- laju inflasi à 9

  11. Penulisan Singkatan Singkatan ialah kependekan yang berupa huruf atau gabungan huruf , baik yang dilafalkan huruf demi huruf maupun dilafalkan sesuai dengan bentuk lengkapnya . Misalnya : a. LHP [el - ha pe ] b. sdr . [saudara] PT [pe te] dst. [dan seterusnya] ka] BPK [be- - pe - dsb. [ dan sebagainya ] c. a.n . [ atas nama bukan a/n ], perhatian u.p . [ untuk ], bukan u/p d.a . [ alamat ], bukan d/a dengan s.d . [ sampai dengan bukan s/d ], 10

  12. Penulisan Akronim ialah kependekan Akronim yang berupa gabungan huruf awal , suku kata , atau huruf awal dan suku kata yang ditulis dan dilafalkan seperti kata biasa . Misalnya : a. raker b. SIM rapim FISIP taplus IKIP b. Bappenas Depdiknas Kadin 11

  13. BENTUK KATA 1. Kata Dasar 2. Kata Bentukan a. Penggabungan kata dasar dan kata dasar b. Penggabungan unsur terikat dan kata dasar c. Pengulangan d. Pengakroniman e. Pengimbuhan 12

  14. PILIHAN KATA Kriteria Pemilihan Kata 1. Ketepatan 2. Kecermatan 3. Keserasian 13

  15. Ketepatan Agar pilihan kata yang digunakan tepat, hal-hal berikut perlu dipahami • Perbedaan makna denotasi dan konotasi • Perbedaan makna kata-kata yang bersinonim • Penggunaan kata atau ungkapan eufisime • Penggunaan kata-kata generik dan spesifik • Penggunaan kata-kata konkret dan abstrak, baik yang spesifik maupun yang spesifik 14

  16. Kecermatan Agar cermat dalam pemilihan kata, penyebab kemubaziran kata berikut ini perlu dipahami a. Penggunaan kata yang bermakna jamak secara ganda b. Penggunaan kata yang fungsi dan maknanya bermiripan secara ganda c. Penggunaan kata yang bermakna saling secara ganda d. Konteks kalimatnya 15

  17. Agar pilihan kata yang digunakan serasi, hal-hal berikut perlu dipahami a. P enggunaan bentuk gramatikal suatu kata b. P enggunaan idiom c. P enggunaan kata atau ungkapan idiomatik d. P enggunaan majas e. P enggunaan kata atau ungkapan yang lazim f. Penggunaan kata yang sesuai dengan konteksnya Keserasian 16

  18. Pengertian Kalimat Penanda Informasi Kalima t S ruk r t tu 17

  19. Penanda Kalimat (dalam ragam tulis) diawali dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik, tanda tanya, atau tanda seru. Informasi Kalimat merupakan rangkaian kata yang mengandung informasi relatif lengkap 18

  20. Contoh Kasus 1. Surat tugas itu sudah ditandatangani. 2. Surat tugas yang sudah ditandatangani itu Catatan Rangkaian kata (1) sudah merupakan kalimat karena informasinya sudah lengkap, sedangkan (2) belum menjadi kalimat karena informasinya belum lengkap 19

  21. Struktur Kalimat sekurang-kurangnya mengandung dua unsur, yaitu subjek dan predikat. Namun jika predikatnya berupa kata kerja transitif, sebuah kalimat selain memerlukan unsur subjek dan predikat juga memerlukan unsur lain, yaitu objek, misalnya: PT Sekar Ayu memproduksi jamu cap Kelinci 20

  22. O S P Pel K UNSUR-UNSUR KALIMAT 21

  23. Ciri-Ciri Unsur Kalimat 1. Subjek (S) merupakan jawaban pertanyaan apa atau siapa . 2. Predikat (P) merupakan jawaban pertanyaan bagaimana atau apa yang dilakukan ( oleh S). 3. Objek (O) keberadaannya bersifat wajib dan dapat menjadi S dalam kalimat pasif . 4. Pelengkap ( Pel .) keberadaannya bersifat wajib dan tidak dapat menjadi S dalam kalimat pasif . 5. Keterangan (K) keberadaannya bersifat opsional ( tidak wajib ) dan posisinya dapat dipindah - pindah tanpak mengubah informasi . 22

  24. Contoh Kasus 1. Dalam bab ini akan membahas metode pengumpulan data. 2. Pembangunan itu untuk menyejahterakan masyarakat Kalimat (1) tidak lengkap karena , tidak ada subjeknya sedangkan (2) tidak ada predikatnya . Perhatikan Perbaikannya di bawah ini 1a. B ab ini akan membahas metode pengumpulan data. 1b. Dalam bab ini akan dibahas metode pengumpulan data. 2a. Pembangunan itu bertujuan menyejahterakan masyarakat 23

  25. Pola Dasar Kalimat 1. Pola SP Hasil pemeriksaan itu sudah dilaporkan . 2. Pola SPO Auditor BPK sedang melakukan pemeriksaan . 3. Pola SPPel . Mantan direktur bank itu sekarang menjadi auditor. 4. Pola SPOPel . Amerika mengirimi Indonesia bantuan tenaga ahli. 24

  26. Jenis-Jenis Kalimat - 1. Kalimat Tunggal 2. Kalimat Majemuk a. Majemuk Setara b. Majemuk Tidak Setara c. Majemuk Campuran 25

  27. Majemuk Setara Kalimat majemuk setara ditandai dengan penggunaan kata penghubung sebagai berikut . dan tetapi atau sedangkan lalu melainkan kemudian 26

  28. Contoh Kasus 1. Jenis KKP Indeks B hasil pemeriksaan proyek irigasi terdiri atas dokumen pembangunan dam. Sedangkan KKP Indeks B hasil pemeriksaan di BUMN terdiri atas dokumen kegiatan produksi . 1a. Jenis KKP Indeks B hasil pemeriksaan proyek irigasi terdiri atas dokumen pembangunan dam, sedangkan KKP pemeriksaan BUMN Indeks B hasil di terdiri atas dokumen kegiatan produksi . 27

  29. Majemuk Bertingkat Penanda Ketidaksetaraan Jika agar meskipun Kalau supaya walaupun Apabila sebab akibat Andaikata akibat sesudah Seandainya karena setelah Bahwa sehingga seusai 28

  30. Contoh Kasus 1. Karena biaya produksinya tinggi sehingga perusahaan itu sering rugi . Struktur kalimat majemuk tersebut tidak tepat di dalamnya terdapat dua kata penghung yang fungsinya sama . Kata penghubung tersebut seharusnya satu saja yang digunakan , seperti pada perbaikannya berikut ini . 1a. Karena biaya produksinya tinggi , perusahaan itu sering rugi . 1b. B iaya produksinya tinggi sehingga perusahaan itu sering rugi . 29

  31. PENGERTIAN PARAGRAF Rangkaian beberapa kalimat yang mengandung satu kesatuan gagasan . 30

  32. PENANDA 1. Bertakuk ………………… …………………… .. …………………… .. 2. Merenggang ……………………… ……………………… ………… ……………………… ……………… . 31

  33. PARAGRAF YANG BAIK 1. Kesatuan 2. Kepaduan 3. Ketuntasan 4. Konsistensi sudut pandang 5. Keruntutan 32

  34. KESATUAN Sebuah paragraf yang baik harus memiliki satu gagasan utama sebagai pengikat kalimat dalam paragraf tersebut. Artinya, dalam paragraf mungkin terdapat beberapa gagasan tambahan, tetapi gagasan tambahan itu harus terfokus pada satu gagasan utama sebagai pengendali 33

  35. KEPADUAN Untuk mendukung satu kesatuan gagasan utama , kalimat - kalimat di dalam sebuah paragraf harus terpadu dan berkaitan satu sama lain. Sarana Pemadu Kalimat dalam Paragraf 1. Pengulangan ( kata kunci ) 2. Penggantian 3. Penghubung antarkalimat 4. Keparalelan struktur 34

  36. Pengulangan Kepaduan paragraf dapat dibangun dengan mengulang kata yang sama yang merupakan kata kunci. Kata atau ungkapan yang sama itu sesekali dapat diulang kembali dalam kalimat berikutnya. Misalnya: Minggu lalu kami mengadakan rapat. Dalam rapat itu ada berbagai hal yang kami bicarakan. Salah satu di antaranya adalah masalah pemeriksaan yang telah dilakukan di PT Agung Sedayu. 35

  37. Penggantian Selain dengan mengulang kata kunci, kepaduan paragraf juga dapat dibangun dengan menggunakan penggantian atau kata lain yang bersinonim dengan kata kunci, misalnya virus HIV sesekali dapat disebut virus itu, virus penyebab AIDS, virus tersebut, atau virus yang mematikan itu. Penggantian dapat pula dilakukan dengan menggunakan kata ganti dan kata penunjuk. 36

  38. Penghubung Antarkalimat Selain dengan menggunakan pengulangan kata kunci dan penggantian, kepaduan paragraf juga dapat dibangun dengan menggunakan penghubung antarkalimat. Misalnya: Oleh karena itu, Oleh sebab itu, Dengan demikian, Meskipun demikian, Jadi, Namun, Akan tetapi, Di samping itu. Selain itu, Dengan kata lain, dsb. 37

  39. Keparalelan Keparalelan yang dimaksud adalah adanya kesejajaran bentuk atau struktur pengungkapannya. Jika pada bagian yang satu bentuknya aktif, bagian yang lain pun harus demikian. Begitu pula sebaliknya, jika bagian yang satu berbentuk pasif, agar sejajar, bagian yang lain pun harus berbentuk pasif, seperti yang tampak pada contoh berikut. Misalnya : Setelah mendapat izin dari pemerintah daerah, warga mulai membangun fasilitas umum di lahan itu. Konon untuk membangun fasilitas umum yang berupa gedung olah raga itu, warga harus mengeluarkan tidak kurang dari 500 juta rupiah yang digali dari dana swadaya murni 38

  40. KETUNTASAN Sebuah paragraf yang baik juga harus dapat mengungkapkan gagasan secara tuntas. Artinya, paragraf itu harus dapat menyaji kan informasi secara lengkap sehingga pembaca tidak dibuat bertanya - tanya tentang kelanjutannya. Sebagai contoh, kalau dalam perinci an atau penjelasan digunakan kata berarti sekurang - pertama, kurangnya harus ada dan bisa juga ada tidak seperti kedua, ketiga, pada paragraf berikut: ada kata tetapi kata tidak pertama, kedua ada. Misalnya : Ada beberapa cara yang dapat mencegah penyebaran demam berdarah. Pertama, memberantas tempat berkembang biak nyamuk penyebar demam berdarah. Seperti kita ketahui bersama, nyamuk demam berdarah biasanya berkembang biak di air yang menggenang 39

  41. KONSISTENSI SUDUT PANDANG S udut pandang adalah cara yang digunakan penulis untuk menempatkan diri di dalam tulisannya. Sudut pandang itu harus konsisten, termasuk dalam pelibatan pembaca. Sebagai contoh, kalau penulis mewakili dirinya dengan menggunakan kata peneliti atau penulis , kata itu hendaknya tetap digunakan secara konsisten sampai dengan akhir tulisannya. Sebaliknya, dengan maksud melibatkan kalau ia menggunakan kata kita — pembaca dalam tulisannya — kata itu pun sebaiknya digunakan secara konsisten sampai pada akhir tulisannya. Begitu pula, untuk menjaga objektivitas — kalau penulis tidak ingin menampilkan dirinya dalam tulisan — bentuk pasif dapat digunakan secara konsisten sampai dengan selesai. 40

  42. KERUNTUTAN Informasi disajikan secara runtut dalam Informasi disajikan secara runtut dalam pola urutan yang mudah diikuti pembaca. pola urutan yang mudah diikuti pembaca. Ada beberapa model urutan penyajian Ada beberapa model urutan penyajian informasi dalam paragraf, dan tiap model informasi dalam paragraf, dan tiap model mempunyai kelebihannya masing - masing. mempunyai kelebihannya masing - masing. Model yang dimaksud, antara lain, adalah Model yang dimaksud, antara lain, adalah model urutan waktu, urutan tempat, urutan model urutan waktu, urutan tempat, urutan umum - khusus atau khusus - umum, urutan umum - khusus atau khusus - umum, urutan pertanyaan dan jawaban, serta urutan pertanyaan dan jawaban, serta urutan sebab - akibat. sebab - akibat. 41

  43. : JENIS PARAGRAF Berdasarkan Fungsinya Paragraf Pengantar Paragraf pengantar/pembuka merupakan jenis paragraf yang berfungsi mengantarkan pembaca pada pokok persoalan yang akan dikemukakan . Sebagai pengantar , paragraf ini hendaknya dibuat semenarik mungkin agar dapat memikat perhatian atau minat pembaca . Di samping itu , paragraf ini hendaknya juga mempunyai kemampuan menghubungkan pikiran pembaca dengan pokok masalah yang akan disajikan selanjutnya . 42

  44. Paragraf Pengembang Paragraf pengembang merupakan jenis paragraf yang berfungsi mengembangkan pokok persoalan yang telah ditentukan . Di dalam paragraf ini pula penulis menyatakan pokok pikiran yang akan disampaikan dan sekaligus menerangkan atau mengembang - kannya . Pengembangan itu dapat dilakukan dengan cara menganalisis permasalahan yang dikemukakan dan sekaligus dapat pula memberikan bukti - buktinya . 43

  45. Paragraf Penutup Paragraf penutup merupakan jenis paragraf yang berfungsi mengakhiri tulisan atau sebagai penutup karangan . Isinya dapat berupa suatu simpulan atau rangkuman yang menandai berakhirnya suatu bahasan . 44

  46. Berdasarkan Struktur Informasinya Paragraf Induktif Paragraf induktif adalah suatu jenis paragraf yang menempatkan informasi utama — yang terkandung pada kalimat topik — pada akhir paragraf. Dengan demikian, struktur paragraf ini diawali dengan beberapa kalimat penjelas yang mendukung informasi utama. Setelah itu, baru informasi utama ditampilkan pada bagian akhir. Paragraf ini sering disebut sebagai paragraf yang diawali dengan informasi yang umum ke informasi yang khusus. Sebagai contoh, perhatikan paragraf berikut. Komputer dapat dijadikan alat hiburan. Banyak komputer yang dilengkapi dengan fasilitas gambar tiga dimensi dan tata suara yang memukau. Hal itu sejalan dengan perkembangan dunia internet. Oleh beberapa komputer kini dirancang dengan mutu dan karena itu, fungsi yang makin meningkat sesuai dengan aplikasinya. 45

  47. Paragraf Deduktif Paragraf deduktif boleh dikatakan sebagai kebalikan dari paragraf induktif. Kalau paragraf induktif menampilkan informasi utama pada akhir paragraf, paragraf deduktif menampilkan informasi utama pada awal paragraf. Informasi utama itu kemudian diikuti dengan informasi penjelas yang terungkap pada kalimat - kalimat pengembang. Orang sering menyebut paragraf ini diawali dengan hal yang umum ke hal yang bersifat khusus. Sebagai contoh, perhatikan paragraf berikut. Kondisi kebun binatang Taru, Solo, makin memprihatinkan. Koleksi satwa di objek wisata tepian Bengawan Solo itu banyak yang tidak terawat. Beberapa binatang di sana tampak kurus. Kemarin seekor komodo bantuan Presiden pun mati. 46

  48. Berdasarkan Gaya Penyajiannya Paparan/Eksposisi Paparan merupakan corak tulisan yang bertujuan menginformasikan, menerangkan, dan menguraikan suatu gagasan. Oleh karena itu, par ragraf menerangkan, dan menguraikan suatu gagasan. Oleh karena itu, par agraf eksposisi harus dapat memberikan tambahan pengertian dan eksposisi harus dapat memberikan tambahan pengertian dan pengetahuan pembacanya. pengetahuan pembacanya. Obat ini mengandung bahan - bahan yang secara klinis telah terbukti Obat ini mengandung bahan - bahan yang secara klinis telah terbukti mempunyai khasiat tinggi dan efektif untuk mengatasi flu dan sin usitis. Di mempunyai khasiat tinggi dan efektif untuk mengatasi flu dan sin usitis. Di samping itu , obat yang dimaksud juga tidak efek samping bagi kesehatan . samping itu , obat yang dimaksud juga tidak efek samping bagi kesehatan . 47

  49. Kisahan/Narasi Kisahan merupakan corak tulisan yang bertujuan menceritakan peristiwa atau pengalaman manusia berdasarkan perkembangannya dari waktu ke waktu agar pembaca terkesan. Gadis itu bernama Ratih Kulitnya kuning langsat Rambutnya dipotong pendek ala Demi More. Setiap pagi kulihat ia lewat di depan rumahku. Setiap kali kusapa, ia tampak enggan di depan rumahku. Setiap kali kusapa ia tampak enggan menjawab. Meskipun begitu, senyumnya merekah di bibir mungilnya yang indah. . 48

  50. Pemerian/Deskripsi Pemerian atau deskripsi merupakan gaya tulisan yang bertujuan menggambarkan sejelas - jelasnya suatu objek sehingga pembaca seolah - olah mengalami sendiri sesuatu yang digambarkan itu. Sebuah mobil bercat biru yang ditumpangi oleh sepasang muda - mudi meluncur dengan pelan menyusuri jalan kampung. Kondisi jalan sudah sepi. Sesekali saja ada truk yang lewat. Udara di sekitar jalan itu masih terasa lembab dan basah akibat hujan sore tadi. 49

More Related