![]() |
||||
Download Policy: Content on the Website is provided to you AS IS for your information and personal use only and may not be sold or licensed nor shared on other sites. SlideServe reserves the right to change this policy at anytime.
While downloading, If for some reason you are not able to download a presentation, the publisher may have deleted the file from their server.
1. ZAT ADITIF MAKANAN — CODEX Presentasi Mikrobiologi Analitik
2. FOOD ADDITIVES
3. What Is a Food Additive? any substance added to food.
used in the production, processing, treatment, packaging, transportation or storage of food.
2 types of food additives:
Direct food additives? added to a food for a specific purpose in that food
Indirect food additives? become part of the food in trace amounts due to its packaging, storage or other handling
4. When evaluating the safety of a substance and whether it should be approved, FDA considers:
1) the composition and properties of the substance,
2) the amount that would typically be consumed,
3) immediate and long-term health effects, and
4) various safety factors.
5. If new evidence suggests that a product already in use may be unsafe? FDA prohibit its use or conduct further studies to determine if the use can still be considered safe.
6. groups of ingredients Under the Food Additives Amendment:
GROUP I (Prior-sanctioned substances )
substances that FDA or USDA had determined safe for use in food prior to the 1958 amendment
Ex. sodium nitrite and potassium nitrite used to preserve luncheon meats.
GROUP II (GRAS (generally recognized as safe ingredients)
those that are generally recognized by experts as safe, based on their extensive history of use in food before 1958 or based on published scientific evidence.
Ex. salt, sugar, spices, vitamins and monosodium glutamate (MSG).
7. Codex General Standard vs. FDA US
8. Actual News (December 31, 2009) Common foods, herbs, nutrients, amino acids, homeopathic and other natural remedies ? called drugs ?Potencies would be limited ? prescriptions would be required for their use, some would be banned altogether.
In contrast, about 300 dangerous food additives ?will be allowed (including aspartame, BHA, BHT, potassium bromate, and tartrazine).
(Lendman, 2010)
9. Regulasi Food Additive
10. SCF / EFSA Peran :
Menjamin bahan pengawet lolos uji sebelum dipatenkan oleh EU
Mereview food additive berdasarkan informasi scientific
Re-evaluasi sistematik seluruh Food Additive yang sudah resmi di EU
Standar evaluasi :
Menguji level Food Additive terhadap hewan dan manusia (toksisitas ) ? NOAEL (no-observed-adverse-effect) ? ADI (Acceptable Daily Intake)
11. ADI (Acceptable Daily Intake) Mengestimasi level food additive yang dapat diterima tubuh berdasarkan berat badan (tanpa resiko)
Yang menentukan :
SCF ? diaprove oleh European Comittee Directives (member states) ? EFSA (publish opini) ? E-number
12. Authorization
13. Ringkasan Dokumen Tidak lebih dari 15 halaman
Part I : Data Administratif
1. Nama dari petitioner (perusahaan, organisasi, dll), alamat dan telefon
2. Nama pabrik yang menghasilkan substansinya berikut kerangannya
3. Nama dari orang yang bertanggung jawab pada dosis
4. Tanggal submit dokumen
5. Tabel yang tercantum dalam dokumen
14. Part II : Data Teknis
1. Identity of substance
2. Microbiological characteristics
3. Proposed chemical and microbiological specifications
4. Manufacturing process
5. Methods of analysis in food
6. Reaction and fate in food
7. Case of need and proposed uses
8. Exposure
9. Additives produced by microbiological processes
10. Additives produced from genetically modified organisms
11. Information on national authorisations
15. Part III : Data Toxixitas
1. General framework for the toxicological evaluation of food additives
2. Study protocols
3. Toxicological section of the dossier
3.1 Core studies
3.2 Other studies
4. Data reporting
5. Review of results and conclusions
Part IV : Referensi
APPENDIX I Flowchart proses penilaian dari SCF dalam dosis tertentu Food Additive
APPENDIX II Kriteria umum penggunaan Food Additives
16. Peraturan untuk Food Additive Framework Directive (89/107/EEC)
Berisi kriteria penilaian secara general dan teknis :
Directive 94/35/EC ? Pemanis
Directive 94/36/EC ? Pewarna
Directive 95/2/EC ? additives selain pemanis dan pewarna
Ketiga tujuan ini menyimpulkan additive mana yang aman dan level maksimum nya dalam makanan
17. Food Additives Approved by the EU
18. Food Additive yang digunakan di EROPA Antioxidan
Tocopherols (E 306-309), BHA (butylated hydroxyanisole or E 320
Preservatives
Nitrates and nitrites (sodium and potassium salts) (E 249-252) – digunakan sebagai pengawet pada proses pembuatan HAM dan daging lain ? mencegah C. Botulinum yang patogen
Pewarna
Penyedap
acesulfam K (E 950), aspartame (E 951) and saccharin (E 954) ? 130-200 kali, 200 kali and 300-500 kali lebih manis dari gula dan kalori nya 0.
19. PEWARNA MAKANAN
20. Pewarna makanan Pigmen/substrat yang mewarnai makanan, obat-obatan, kosmetik atau tubuh manusia ? atraktif, menarik, berselera, dan informatif
21. Klasifikasi pewarna makanan Straight colors : tidak dicampur/direaksikan secara kimia dengan substrat lain. Contoh : FD&C Blue No. 1 or Blue 1.
23. Informasi yang dibutuhkan Identitas pewarna makanan
Properti fisika, kimia, dan biologis
Spesifikasi kimia
Deskripsi proses manufaktur
Stabilitas data
Batasan penggunaan
Labeling
Toleransi dan limitasi
24. Informasi yang dibutuhkan (2) Metode analitik untuk spesifikasi kimia
Metode analitik determinasi pewarna makanan pada produk
Identifikasi dan determinasi substansi yang terbentuk pada produk karena penggunaan pewarna makanan
Pembelajaran keselamatan
Estimasi kemungkinan pendedahan
Regulasi yang diajukan
Pengecualian yang diajukan dari beberapa sertifikasi
Perkiraan pencemaran lingkungan
27. Pewarna Makanan di Indonesia Penggunaan pewarna makanan di Indonesia diatur dalam SK Menteri Kesehatan RI No. 235/MenKes/Per/VI/79 dan direvisi melalui SK Menteri Kesehatan RI No. 722/MenKes/Per/VI/88 mengenai bahan tambahan makanan.
Warna berarti bahan yang dapat meningkatkan pewarnaan pada makanan (pasal I)
28. Bahan Tambahan Makanan diizinkan dengan pemakaian maksimum terlimit dalam makanan tertentu
29. Bahan Tambahan Makanan selain dari yang ditetapkan dapat digunakan sebagai bahan tambahan makanan setelah mendapat persetujuan sebelumnya dari Direktur Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan berdasarkan evaluasi
30. Tanda khusus
31. Eropa Zat aditif makanan yang telah disetujui penggunaannya di negara-negara Uni Eropa diberi kode yang bernama “E numbers”
Safety assessment dan persetujuan dilakukan oleh European Food Safety Authority (EFSA)
Nomor yang diberikan pada zat aditif mengikuti nomor pada International Numbering System (INS) dari Codex Alimentarius, namun diberi awalan E-
Tidak semua zat aditif yang disetujui oleh Codex Alimentarius disetujui oleh EFSA
33. PENGAWET MAKANAN
34. Pengertian dan tujuan Zat aditif pengawet: bahan tambahan pangan yang dapat mencegah atau menghambat fermentasi, pengasaman atau penguraian dan perusakan lainnya terhadap pangan yang disebabkan oleh mikroorganisme.
Tujuan penambahan zat pengawet makanan:
Agar mutu dan kestabilan makanan tetap terjaga.
Agar makanan lebih tahan lama disimpan.
35. Zat pengawet Alami
Garam dapur, bawang putih, asam cuka.
Buatan/sintetis
Natrim benzoat dan asam benzoat, natrium nitrit, asam propionat, asam sorbat.
36. Data pengaturan bahan pengawet dari Codex Alimetarius Commission (CAC), USA (CFR), Australia dan New Zealand (FSANZ) tercatat 58 jenis bahan pengawet yang dapat digunakan dalam produk pangan.
Indonesia : Peraturan Menteri Kesehatan No. 722 tahun 1988 ?26 jenis bahan pengawet dan batas maksimum penggunaan bahan pengawet untuk masing – masing jenis / bahan makanan.
37. Pengawet yang diizinkan berdasarkan Permenkes No.722/1988
38. Contoh pengawet yang tidak diizinkan
39. Permenkes No. 722/MENKES/PER/IX/1988 tentang Bahan Tambahan Makanan diubah dengan PerMenKes Nomor. 1168/MENKES/PER/X/1999
Peraturan tersebut menyebutkan bahwa bahan kimia tertentu diijinkan untuk dipergunakan, misalnya Asam Askorbat (Ascorbic Acid) untuk jenis bahan makanan tepung dengan batas maksimum penggunaan 200mg/kg.
40. Contoh Jumlah maksimum pengawet yang dianjurkan K-sorbat ? 0,05 – 0,3 % (diaplikasikan langsung) dan 10 – 20 % (disemprotkan pada permukaan makanan).
Asam benzoat ?1000 ppm atau 1 gram per kg bahan
Nitrit ? produk akhir daging proses adalah200 ppm.
41. Pengaruh beberapa bahan pengawet terhadap kesehatan
42. Alternatif Pengawet Pangan
43. Contoh Zat Pengawet: DIMETIL DIKARBONAT Dimetildicarbonate (DMDC) ? pengawet makanan, sterilisasi minuman dan makanan (ex: wine, jus buah, produk obat2an, beer, dll)
lebih baik dari dietil dikarbonat ? lebih aktif menghambat mikroba, solubilitas yang tinggi pada cairan.
44. Terdaftar pada codex General Standard for Food Additives (GSFA) dan European union (EU) sebagai food additive
Dalam standar international :
45. Pada Negara Lain Australia & new zealand ? mengajukan amandemen food additive menjadi processing aid; ketidak cocokan dalam terjemahan antar food additive dan pembuatan obat
EU ? diizinkan oleh EU directive 95/2/EC, sebagai:
food additive, minuman berasa non-alkohol; alcohol-free wine; liquid-tea concentrate pada batas 250mg/L. residu DMDC tidak terdeteksi
US ? FDA mengijinkan DMDC sebagai pengawet makanan; mencegah pertumbuhan yeast pd wine; menghambat yeast dlm wine bebas alkohol serta alkohol rendah dengan kadar penambahan 200 mg/L
Indonesia ? mengikuti standar internasional dari Codex Alimentarius
46. DETEKSI MAKANAN MENGANDUNG PENGAWET Dikenal :sodium borate, sodium tetraborate / disodium tetraborate
Tekstur khas pada mie basah, dan pengawet makanan
Berwarna putih, sedikit larut dalam air
Deteksi akurat di uji laboratorium
48. FORMALIN
51. PENYEDAP MAKANAN
52. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1996 Tentang Pangan, Yang dimaksud "bahan tambahan pangan/Food additive" adalah bahan yang ditambahkan ke dalam pangan untuk mempengaruhi sifat atau bentuk pangan, antara lain, bahan pewarna, pengawet, penyedap rasa, anti gumpal, pemucat dan pengental.
53. Kinds of Flavor 1. Full/complete flavor ? Jenis flavor yang dapat menghasilkan atau menimbulkan bentuk flavor yang khas dan lengkap. Contoh : flavor buah-buahan : strawbery2. Flavor enhancer/flavor atau modifier/flavor entensifier ? Jenis flavor yang ditambahkan untuk memperkuat dan membangkitkan flavor lain. Contoh : asetaldehid dapat membangkitkan flavor jeruk3. Flavor extender ? jenis flavor yang tidak memiliki rasa tetapi dapat mereduksi rasa lain yang tidak menguntungkan. Contoh : flavor pada bubuk coklat4. Flavor potensiator ? Jenis flavor yang dapat meningkatkan rasa yang diinginkan dan dapat menekan rasa yang tidak diinginkan contoh : MSG, IMP, GMP.
54. APAKAH PENYEDAP RASA MSG ATAU VETSIN ITU? MSG (monosodium glutamat) atau mononatrium glutamat adalah garam sodium dari asam glutamat.
Asam glutamat adalah suatu asam amino yang merupakan salah satu komponen penting protein yang dibutuhkan tubuh kita.
Secara alami asam glutamat terdapat dalam makanan kita sehari-hari seperti daging, ikan, telur, susu (termasuk ASI), keju, tomat dan berbagai macam sayuran.
55. Cara Pengujian Cara uji sesuai dengan SNI 01-2894-1992, Cara uji bahan pengawet dan bahan tambahan yang dilarang untuk makanan.
Untuk asam benzoat, penguijian dilakukan dengan metode titrimetri, metode HPLC, dan metode spektropotometer.
Asam sorbat diuji dengan metode HPLC.
Asam propionat, natrium propionat dan kalsium propionat dengan kromatografi gas.
Xlitrit dengan metode griess I dan griess II.
Nitrat dan nitrit dengan metode xylenol.
Sulfit dengan metode titrimetri, metode monier-william, metode yodometri.
metode kolorimetri untuk buah-buahan kering.
56. Kadar Maksimum MSG Menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan di Amerika Serikat batas aman MSG yang bisa dikonsumsi adalah di bawah dua gram. Kalau sudah dua gram sampai tiga gram,sebagaimana hasil penelitian lembaga itu pada tahun 1995, MSG bisa menimbulkan alergi. Dan, bila sampai mengonsumsi lima gram MSG, ini bisa membahayakan orang yang menderita penyakit asma.
57. Peraturan Indonesia Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 722 Tahun 1988 tentang Bahan Tambahan Makanan, yang hanya menyatakan bahwa pemakaian MSG secukupnya—belum tegas ditentukan kadarnya.
Surat Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 235 Tahun 1979, MSG atau vetsin boleh dipakai, asalkan secukupnya.
58. UU Nomor 7 tahun 1996 tentang Pangan Pasal 10 ayat 1 dan 2 beserta penjelasannya erat kaitannya dengan bahan tambahan makanan yang pada intinya adalah untuk melindungi konsumen agar penggunaan bahan tambahan makanan tersebut benar-benar aman untuk dikonsumsi dan tidak membahayakan.
59. Untuk menghitung batas penggunaan maksimum bahan tambahan makanan, digunakan rumus sebagai berikut :
BPM = ADIxB x1.000 / K (mg / kg)
Di mana
BPM = batas penggunaan maksimum(mg/kg)
B = berat badan (kg)
K = konsumsi makanan (gr)
60. Pemanis buatan Merupakan susbtansi untuk memberikan rasa manis ke makanan atau sebagai pemanis ‘table-top’.
Pemanis ‘Table-top’ ? produk yang mengandung pemanis yang diizinkan dan ditujukan untuk penjualan (gula alternatif)
Labelling Pemanis ‘Table-top’ :
‘[Name of sweetener(s)]-based table-top sweetener’
Jika mengandung polyol /aspartane :
untuk polyols – ‘excessive consumption may induce laxative effects’
Untuk aspartame – ‘contains a source of phenylalanine’
61. Directive 94/35/EC
Tujuan dibuat pemanis buatan :
i) makanan rendah energi (kalori)
ii) makanan anti karies
iii)Makanan tanpa gula untuk penderita diabetes (diaetic product)
62. Contoh : Pemanis buatan :
Aspartane
Tidak toxic
Tidak Karsinogenik
ADI = 40 mg/kg berat badan
63. Persyaratan Directive 88/388/EC and Directive 91/71/EEC :
Nama penyedap harus tercantum di komposisi makanan pada label
"natural flavoring" hanya jika substansinya diekstraksi dari sayuran atau hewani
Penyedap yang dijual ? labelling tambahan yaitu :
daya tahan minimum
Kondisi penyimpanan dan pemakaian
Identifikasi substansi lain yang terdapat dalam penyedap
65. TERIMA KASIH