1 / 35

HUKUM LAUT INTERNASIONAL Preview

HUKUM LAUT INTERNASIONAL Preview. FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS BRAWIJAYA Dhiana Puspitawati, SH, LLM, PhD. Pictured by: Kresno Buntoro. DHIANA P WARDANA, SH, LLM, PhD. DOSEN TETAP FH UHT KETUA FKK-M UHT LAW OF THE SEA AND MARITIME LAW SPECIALIST DOSEN LB UB. Pendidikan

carlyn
Download Presentation

HUKUM LAUT INTERNASIONAL Preview

An Image/Link below is provided (as is) to download presentation Download Policy: Content on the Website is provided to you AS IS for your information and personal use and may not be sold / licensed / shared on other websites without getting consent from its author. Content is provided to you AS IS for your information and personal use only. Download presentation by click this link. While downloading, if for some reason you are not able to download a presentation, the publisher may have deleted the file from their server. During download, if you can't get a presentation, the file might be deleted by the publisher.

E N D

Presentation Transcript


  1. HUKUM LAUT INTERNASIONALPreview FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS BRAWIJAYA Dhiana Puspitawati, SH, LLM, PhD Pictured by: Kresno Buntoro

  2. DHIANA P WARDANA, SH, LLM, PhD DOSEN TETAP FH UHT KETUA FKK-M UHT LAW OF THE SEA AND MARITIME LAW SPECIALIST DOSEN LB UB Pendidikan S1 : FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA S2 : LAW FACULTY MONASH UNIVERSITY AUSTRALIA S3 : LAW SCHOOL, BEL FACULTY THE UNIVERSITY OF QUEENSLAND AUSTRALIA DIPL. IN SHIPPING, BI NORWAY-UWM CURRICULUM VITAE

  3. LETAK HUKUM LAUT INTERNASIONAL • Salah satu cabang Hukum Internasional • Karakteristik Hukum Internasional • Sumber Hukum Internasional • Subyek Hukum Internasional • Prinsip-prinsip dalam Hukum Perjanjian Internasional

  4. RUANG LINGKUPKELAUTAN VS. KEMARITIMAN • Hukum Laut vs. Hukum Maritim

  5. SEJARAH HUKUM LAUT INTERNASIONAL • Klaim negara2 atas wilayah laut (Hugo de Grotius, John Selden, Bynkershoek) • Kendala: Yurisdiksi vs. hak pemanfaatan SDA laut (Mc. Dougal: 1960) • UNCLOS I (4 Konvensi), II (nothing) dan III (UNCLOS 1982/LOSC/KHL 1982) • Evolusi zona-zona maritim • UNCLOS III: Sovereignty dan Resources

  6. 200 Nm Baseline 24 Nm 12 Nm Exclusive EconomicZone Territorial Waters Contiguous Zones Continental Shelf Air space Upper limits are Unspecified Territorial Sea Air Space EEZ Air Space International Air Space EEZ Superjacent Waters High Seas Territorial Sea 12 Nm Contiguous Zones 12 Nm Internal Waters Baseline EEZ (air space, superjacent waters and seabed) 188 Nm Outer Continental Shelf Deep Seabed Legal Continental Shelf (Continental Margin) Zona Mariitim menurut KHL 1982

  7. BASELINES (Garis Dasar/Garis Pangkal) • Dari mana zona-zona maritim tsb. Diukur? • Bentuk Geografis Negara: • Coastal State • Archipelagic State (mid-ocean archipelago and coastal archipelago) • Land-Locked State • Geographically disadvantaged state

  8. Coastal archipelago

  9. Mid-Ocean archipelago

  10. BENTUK BASELINE • NORMAL BASELINES • STRAIGHT BASELINES • ARCHIPELAGIC BASELINES

  11. NORMAL BASELINES

  12. ARCHIPELAGIC BASELINES

  13. PERAIRAN PEDALAMAN Dasar hukum: Pasal 8 UNCLOS 19182 Wilayah Perairan di sebelah dalam garis pangkal, kecuali dalam hal negara kepulauan Kedaulatan negara pantai – identik dengan kedaulatan yang dimiliki di wilayah daratan – surface, middle dan bottom -- termasuk eksplorasi SDL Konsekuensinya tidak boleh ada hak lintas kapal asing

  14. PERAIRAN KEPULAUAN Dasar Hukum: Pasal 49 UNCLOS 1982 Kedaulatan negara kepulauan diperpanjang sampai wilayah perairan disebelah dalam garis pangkal kepulauan (archipelagic baselines) yang disebut ARCHIPELAGIC WATERS (Perairan Kepulauan) – meliputi wilayah perairan, wil. udara diatasnya dan dasar laut serta sumber daya laut yang terkandung didalamnya – baik di middle maupun bottom. AKAN TETAPI……

  15. PERAIRAN KEPULAUAN Kedaulatan Negara Kepulauan --TIDAK TAK TERBATAS Dibatasi oleh Hak Lintas Kapal Asing Hak Lintas Damai Hak Lintas ALK

  16. LAUT TERITORIAL Dasar Hukum: Bagian II Pasal 2 UNCLOS 1982 Kedaulatan negara berpantai maupun negara kepulauan diperpanjang sampai 12 mil laut diukur dari garis dasar – laut teritorial meliputi wilayah perairan, wil. udara diatasnya dan dasar laut serta sumber daya laut yang terkandung didalamnya – baik di middle maupun bottom Dibatasi oleh Hak Lintas Damai Bagian III UNCLOS 1982

  17. ZONA TAMBAHAN IS A ZONE OF SEA CONTIGUOUS TO AND SEAWARD OF THE TERRITORIAL SEA IN WHICH STATES HAVE LIMITED POWERS FOR THE ENFORCEMENT OF CUSTOMS, FISCAL, SANITARY AND IMMIGRATION LAWS

  18. LEGAL STATUS OF CZ • LOSC: CZ is part of ZEE • TSC 1958: CZ is part of High Seas • LOSC: inclusion of both enforcement and legislative jurisdiction – dalam hal2 ttt

  19. ZEE Merupakan wilayah perairan disebelah luar laut teritorial Lebar ZEE: 200 mil laut diukur dari garis pangkal Tidak ada kewajiabn u/ klaim ZEE

  20. KEDAULATAN NEGARA PANTAI/KEPULAUAN DI ZEE Hanya Hak Berdaulat (Sovereign Right) bukan Kedaulatan (Sovereignty) Hak Berdauat dalam hubungannya dengan eksplorasi dan eksploitasi SDL baik hayati maupun non-hayati Dasar Hukum: Bagian V UNCLOS 1982

  21. HAK DAN KEWAJIBAN NEGARA PANTAI DI ZEE Living and Non-Living resources Other economic resources (ps. 56 LOSC) Construction of artificial islands and installations Marine scientific research Pollution control

  22. HAK DAN KEWAJIBAN NEGARA LAIN DI ZEE Navigation Overflight Laying of submarine cables and pipelines

  23. PENGERTIAN CONTINENTAL SHELF (LANDAS KONTINEN)Part VI, Pasal 76 KHL 1982 The continental shelf of a coastal state comprises the sea-bed and subsoil of the submarine areas that extend beyond its territorial sea throughout the natural prolongation of its land territory to the outer edge of the continental margin, or to a distance of 200 nautical miles from the baselines from which the breadth of territorial sea is measured where the outer edge of the continental margin does not extend up to that distance

  24. SEAWARD LIMIT OF CS • Biasanya 200 mil laut dari baselines (di bawah ZEE) • Akan tetapi karena CS berhubungan dengan geografis dasar laut mungkin saja kontinental slope yg membentuk suatu kontinental shelf melebihi dari 200 meter • Hal tsb diperbolehkan asalnya tidak melebihi 350 mil laut dari baselines

  25. LEGAL STATUS OF CS – Article 78 LOSC • The right of coastal state over its CS does not affect the legal status of the superjacent waters or of the airspace above the waters • The exercise of the rights of the coastal state over the continental shelf must not infringe or result in any unjustifiable interference with navigation and other rights and freedoms of other states as provided for in this convention

  26. LAUT INDONESIA BUKTI KEBAHARIAN INDONESIA 1. ADANYA 10 RELIEF KAPAL LAYAR YANG TERPAHAT DI CANDI BOROBUDUR (ABAD 7 DAN 8) 2. KERAJAAN SRIWIJAYA (683 – 1030) 3. KERAJAAN SINGASARI DAN MAJAPAHIT (1923 – 1978) 4. BANYAKNYA PELAUT ULUNG (BUGIS, WAJO, BANTEN, MADURA, AMBON, TERNATE/TIDORE, SANGIR TALAUD, RIAU/MELAYU) Penjelajah Bahari – Robert Dick-Read

  27. POTENSI SUMBER DAYA KELAUTAN DAN PERIKANAN 17.480 pulau (9.634 blm bernama, 12.000 berpenduduk) 95.181 km garis pantai (WRI,2001) dan 5,8 juta km2 laut 80 % industri dan 75 % kota besar berada di wil pesisir Potensi jasa kelautan berupa : transportasi laut, industri maritim BMKT Energi alternatif (ombak,angin) Perikanan tangkap  6,817 Juta ton ikan (2005) Potensi lahan budidaya 1.137.756 Ha (2005) Dari 60 Cekungan Migas Indonesia, 70% berada di laut Cadangan Minyak Bumi 9,1 Milyar Barel di laut Sumber: Prof. Dr. Ir. M syamsul Maarif, M.Eng, Memupuk Jiwa Bahari: Membangun Kelautan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil

  28. KEUNGGULAN KELAUTAN INDONESIA WILAYAH KEPULAUAN JALUR PELAYARAN INTERNASIONAL KEANEKARAGAMAN HAYATI POSISI GEOTECHTONIC VARIASI IKLIM DAN DINAMIKA OSEANOGRAFI Sumber: Prof. Dr. Ir. M syamsul Maarif, M.Eng, Memupuk Jiwa Bahari: Membangun Kelautan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil

  29. HUKUM LAUT NASIONAL • Jaman Belanda – Grotius – The Territoriale Zee en Maritieme Kringen Ordonantie 1939 (Kringen Ordonantie 1939) • 3 mil masing2 pulau • Kemerdekaan – tidak sesuai • 1958 Deklarasi Djuanda (Unilateral Declaration/pernyataan sepihak) – leading to UNCLOS I • UU No. 4/Prp/1960 – leading to UNCLOS II • Indonesia sbg Leading Proponent atas Konsep Negara Kepulauan

  30. INDONESIA SEBAGAI NEGARA KEPULAUAN Mempunyai karakteristik tersendiri dalam menarik zona-zona maritimnya Mengikat pulau-pulaunya dalam satu kesatuan melalui garis dasar kepulauan – archipelagic baselines, dari garis inilah zona2 maritim ditarik Tonggak Sejarah : TZMKO 1939 UNCLOS I 1958 UNCLOS II 1960 UNCLOS III – UNCLOS 1982/LOSC – Diakuinya prinsip negara kepulauan (Archipelagic States) bukan Islands States) – Bagian IV UNCLOS 1982 Deklarasi Djuanda 1957 UU No. 17/1985

  31. NEGARA KEPULAUAN (ARCHIPELAGIC STATE) Archipelago – bahasa Italia ‘archi’, artinya chief or the most important; dan ‘pelago’ artinya sea/pool – the most important sea Beberapa ahli mendefinisikan archipelago sebagai ‘an expanse of water with many scattered islands ora group of islands’; an ‘island-studded sea’; or a ‘sea interspersed with many islands’ – lebih banyak wilayah perairan dibanding wilayah daratan – Indonesia 2:1 Kriteria Negara dapat disebut sebagai negara kepulauan menurut UNCLOS 1982 --- (Pasal 46 UNCLOS 1982)

  32. Wilayah Perairan Indonesia WIL PERAIRAN : 5.800.000 KM² Laut Territorial : 800.000 KM² Perairan Kepulauan : 2.300.000 KM² ZEE : 2.700.000 KM² JML BASE POINT : 184 BUAH PANJ BASE LINE : 13.179 KM JML PULAU : 17.499 PULAU GRS PANTAI : 80.791 KM

  33. TERIMA KASIH

More Related