Pertemuan 1
Download
1 / 155

PERTEMUAN 1 - PowerPoint PPT Presentation


  • 246 Views
  • Uploaded on

PERTEMUAN 1. GOVERNMENT RELATIONS. Referensi : Rhenald Kasali, 2000, Manajemen Public Relations, Grafiti, Jakarta. Hal. 115-126 Zainal Abidin Partao,2006, Teknik Lobi & Diplomasi untuk insan Public Relations, Indeks. Jakarta. Hal. 11 – 65.

loader
I am the owner, or an agent authorized to act on behalf of the owner, of the copyrighted work described.
capcha
Download Presentation

PowerPoint Slideshow about 'PERTEMUAN 1' - booker


An Image/Link below is provided (as is) to download presentation

Download Policy: Content on the Website is provided to you AS IS for your information and personal use and may not be sold / licensed / shared on other websites without getting consent from its author.While downloading, if for some reason you are not able to download a presentation, the publisher may have deleted the file from their server.


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - E N D - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Presentation Transcript
Pertemuan 1

PERTEMUAN 1

GOVERNMENT RELATIONS


Referensi :

Rhenald Kasali, 2000, Manajemen Public Relations, Grafiti, Jakarta. Hal. 115-126

Zainal Abidin Partao,2006, Teknik Lobi & Diplomasi untuk insan Public Relations, Indeks. Jakarta. Hal. 11 – 65.


Membina hubungan baik dengan pemrintah menjadi sangat penting dewasa ini karena pemerintah adalah pengatur kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Selain itu, karena pluralitas masyarakat Indonesia, dunia usaha memerlukan peran pemerintah selaku penengah dalam menangani krisis.

Perusahaan perlu membina hubungan baik dengan pemerintah untuk mengurangi ketidakpastian karena salah membaca peraturan, untuk memepercepat segala proses birokrasi untuk perijinan, untuk meningkatkan pemahaman satu sama lain dan untuk memeperoleh perlindungan pada saat perusahaan mengalami krisis.


Dalam kegiatan PR, pemerintah dianggap penting bukan saja karena pemerintah adalah pengatur negara dan pembuat keputusan penting, tetapi lebih dari itu. Pemerintah terdiri atas orang-orang yang mempunyai pengaruh yang sangat besar bagi masyarakat dan kegiatan bisnis.

Adanya pejabat PR yang khusus berhubungan dengan pihak-pihak pemerintahan untuk kepentingan perusahaan bukanlah hal yang dilarang, pemerintah membutuhkan kalangan perusahaan begitu juga sebaliknya dalam menyukseskan beberapa program yang dibuat untuk kepentingan masyarakat luas pada umumnya dan perusahaan khususnya.


Tugas yang diemban oleh PR karena pemerintah adalah pengatur negara dan pembuat keputusan penting, tetapi lebih dari itu. Pemerintah terdiri atas orang-orang yang mempunyai pengaruh yang sangat besar bagi masyarakat dan kegiatan bisnis. dalam kaitannya dengan government relations adalah:

1. Meningkatkan komunikasi dengan pejabat pemerintah dan lembaga tinggi negara.

2. Memantau lembaga pembuat keputusan dan peraturan pada area yang mempengaruhi bidang usaha mereka.

3. Mendorong partisipasi para pemilih (rakyat) pada setiap lapisan masyarakat.

4. Mempengaruhi undang-undang yang berdampak pada ekonomi rakyat dan pelaksanaanya.

5. Meningkatkan kesadaran dan pemahaman para pembuat keputusan.

6. Mengurangi ketidakpastian karena tidak dapat membaca tanda-tanda peraturan.


7. Mempercepat keluarnya keputusan yang berkaitan dengan operasi perusahaan, seperti ijin eksploitasi hasil alam dan sebagainya.

8. Meningkatkan pemahaman satu sama lain.

9. Mendapatkan perlindungan dan pembelaan pada saat perusahaan menghadapi krisis.


Kepentingan pemerintah terhadap dunia usaha antara lain; operasi perusahaan, seperti ijin eksploitasi hasil alam dan sebagainya.

1. Dunia usaha adalah penggerak pembangunan yang memutar roda perekonomian. Dunia usaha diharapkan mampu menciptakan lapangan pekerjaan kepada orang banyak.

2. Dunia usaha dipungut pajak. Semakin besar perusahaan tentu akan semakin besar pula pajak yang dapat disetorkan kepada pemerintah.

3. Dunia usaha adalah mitra pemerintah untuk mengelola hasil bumi dan kekayaan negara.

Kepentingan pemerintah yang besar pada dunia usaha sering dimanfaatkan oleh dunia usaha ketika menghadapi krisis. Misalnya, adanya masalah perburuhan, isu kesalahan produksi, dsb.


Arti Penting Hubungan dengan Pemerintah operasi perusahaan, seperti ijin eksploitasi hasil alam dan sebagainya.

Menurut H. Frazier Moore hubungan pemerintah perlu mendapat perhatian karena:

Pertama, kebijakan pemerintah yang tidak tepat bisa membuat perusahaan menghadapi perubahan biaya yang tidak terduga, perpajakan yang tinggi dan sebagainya, sehingga dapat mematikan gerak perusahaan.

Kedua, undang-undang/ peraturan pemerintah dapat membuat banyak pembatasan bagi ruang gerak perusahaan.

Dengan demikian government relations menduduki posisi yang sangat penting dan vital karena perusahaan dapat memberikan fakta / bujukan kepada pemerintah, parlemen untuk melindungi bisnis perusahaan.


Government relations, pada dasarnya dilakukan perusahaan bertujuan untuk:

1. Mengubah berbagai peraturan yang menyulitkan ruang gerak perusahaan.

2. Membatalkan rancangan regulasi yang sedang disiapkan oleh legislatif atau eksektif.

Dengan demikian melakukan lobi adalah suatu keharusan, yang diperhatikan dalam kegiatan government relations. Lewat lobi tidak berarti segala sesuatu bisa dibeli, karena itu meski lobi perlu dan ditujukan pada orang penting dalam pemerintahan maka lakukanlah dengan profesionalisme tinggi.


Melobi Pemerintah bertujuan untuk:

Kegiatan hubungan dengan pemerintahan oleh pejabat PR biasa dilakukan dengan cara melakukan lobi. Pe_lobi muncul dari tuntutan perusahaan yang tidak dapat dipenuhi oleh geverment relations-nya. Kadang karena tidak adanya pelobi yang tangguh maka perusahaan menyewa PR (konsultan PR) beserta timnya untuk melobi pemerintah.

Peran para pelobi di Indonesia belakangan cukup menonjol. Para mantan pejabat pemerintah umumnya dikenal sebagai anggota dwan komisaris suatu perusahaan yang banyak memerlukan lobi dengan pemerintah.


Melobi diartikan “melakukan pendekatan secara tidak resmi”

Pelobian diartikan sebagai “bentuk partisipasi politik yang mencakup usaha individu atau kelompok untuk menghubungi para pejabat pemerintah atau pemimpin politik dengan tujuan mempengaruhi keputusan atau masalah yang dapat menguntungkan sejumlah orang”.

Menurut Tarsis Tarmudji, Lobi adalah “sebuah (bentuk) pressure group yang mempraktikan seni mendapatkan teman yang berguna dan mempengaruhi orang lain”.

A.B Susanto menyebutkan melobi pada dasarnya merupakan “usaha yang dilaksanakan untuk mempengaruhi pihak-pihak yang menjadi sasaran agar terbentuk sudut pandangan positif terhadap topik lobi, dengan demikian diharapkan memberikan dampak positif bagi pencapaian tujuan”.


Selanjutnya menurut Tarsis Tarmudji dikemukakan pokok pikiran yang menjelaskan tentang lobi sebagai berikut:

1. Kegiatan lobi melibatkan beberapa pihak yaitu pihak pelobi dan pihak yang dilobi.

2. Sasaran pelobi, orang atau pihak yang dilobi adalah para pembuat undang-undang, pejabat pemerintah, pimpinan politik dan sejumlah tokoh yang memiliki pengaruh dan kekuasaan.

3. Kegiatan lobi dapat dilakukan individual atau berkelompok dengan sasaran lobi juga individual atau lembaga.

4. Kegiatan lobi juga dimaksudkan untuk memperoleh teman yang berguna bagi pelobi maupun organisasi

5. Pelobi melakukan kegiatan lobinya dengan tujuan untuk mempengaruhi mereka yang menjadi sasaran lobi.

6. Ada unsur pressure (tekanan) pada saat kegiatan lobi tengah berlangsung

7. Lobi adalah kegiatan yang bersifat informal.


Alasan untuk melakukan lobi oleh PR terhadap pemerintah pikiran yang menjelaskan tentang lobi sebagai berikut:

Menurut Frank Jefkins adalah:

1. Segala bentuk campurtangan pemerintah, seperti kebijakan ekonomi, peraturan perpajakan, dan sebagainya akan memebrikan dampak bisnis perusahan

2. Beberapa bisnis menjadi sukses karena mereka telaten mengadakan dialog dengan pemerintah

3. Suatu aspek penting dalam pemerintahan demokratis adalah pendiskusian berbagai rencana dan rancangan undang-undangnya dengan pihak-pihak terkait yang akan terkena dampaknya.

4. Dipihak parlemen juga ada kelompok lobi.


5. Penting untuk mendapatkan informasi dan bahkan mengadakan pertemuan serta mengenal para anggota parlemen, terutama yang berkepentingan pada bidang bisnis perusahaan dan memerlukan informasi tentang apa yang perusahaan kerjakan.

6. Anggota parlemen adalah pembentuk opini. Kalau anda tidak tahu mereka, maka jangan salahkan mereka jika mereka tidak tahu anda.


Pertemuan 2

PERTEMUAN 2 pertemuan serta mengenal para anggota parlemen, terutama yang berkepentingan pada bidang bisnis perusahaan dan memerlukan informasi tentang apa yang perusahaan kerjakan.

MEMAHAMI BUDAYA

LEMBAGA PEMERINTAHAN


Referensi: pertemuan serta mengenal para anggota parlemen, terutama yang berkepentingan pada bidang bisnis perusahaan dan memerlukan informasi tentang apa yang perusahaan kerjakan.

Zainal Abidin Partao,2006, Teknik Lobi & Diplomasi untuk insan Public Relations, Indeks. Jakarta. Hal 135 – 147.


Kerangka berpikir Pimpinan Pemerintahan pertemuan serta mengenal para anggota parlemen, terutama yang berkepentingan pada bidang bisnis perusahaan dan memerlukan informasi tentang apa yang perusahaan kerjakan.

Dalam terminologi pemerintahan, peran pemerintah terhadap BUNM ( Badan Usaha Milik Negara) ada tiga yaitu;

1. Sebagai regulator

2. Sebagai operator

3. Sebagai owner.

Yang paling terkait dengan perusahaan adalah perannya sebagai regulator. Ada dua point yang harus dipahami oleh pejabat PR dalam kaitannya dalam melakukan Lobi terhadap pemerintah adalah;


Pertama, pertemuan serta mengenal para anggota parlemen, terutama yang berkepentingan pada bidang bisnis perusahaan dan memerlukan informasi tentang apa yang perusahaan kerjakan.setiap pemimpin dan adanya pergantian pemimpin dalam instansi pemerintah akan berbeda dan mempengaruhi dalam memimpin, dalam berkomunikasi termasuk dalam menanamkan nilai-nilai pelayanan kepada anak buahnya saat melayani stakeholder-nya.

Kedua, Fungsi regulator atau pembuat regulasi ini dapat dimaknai sebagai amanah yang harus dilakukan dengan baik untuk kesejahteraan masyarakat.

Perlu dipahami bahwa para pemegang jabatan pemerintah tersebut memiliki kecenderungan mempunyai ego kuat bahkan mungkin ada sedikit kesombongan. Perlu disadari walaupun sering mengumandangkan transparansi atau perlunya keberpihakan kepada dunia usaha dan masyarakat luas nyatanya mengubah karakter dan kepribadian birokrat tersebut tidak mudah. Dibutuhkan keahlian membangun relationship yang kuat.


Kebiasaan-kebiasaan dan pemikiran yang biasa diperlihatkan oleh para pemimpin yang duduk dipemerintahan adalah:

1. Merasa kepemimpinan pendek (jangka waktu terbatas); implikasinya 2 hal yaitu: Memanfaatkan prinsip aji mumpung atau kedudukan/jabatan sebagai suatu amanah.

2. Pola hitung untung rugi

3. Gaji mereka sebagai pejabat negara / pegawai negeri kecil dan terbatas, tatapi tanggung jawab pada konstituen harus mereka pegang.

4. Tanggungjawab pada pribadi dan keluarga, kesejahteraan mereka sebagai pejabat pemerintah yang notabene public figure tidak cukup jika hanya mereka peroleh dari gaji normal mereka.


Bahwa ada kecenderungan setiap pergantian jajaran pimpinan di suatu instansi pemerintahan selalu menjelek-jelekan pimpinan lama dan mengelu-elukan pimpinan baru. Kemudian adanya pergantian pimpinan tertinggi maka sebagian jajaran bawahanyapun diganti.

Tentang penggantian supplier atau distributor sebagai pelobi setiap penggantian pimpinan ada peluang dan ancaman. Jika kita belum masuk maka bisa jadi peluang dan jika kita merupakan rekenan pimpinan yang lama maka kita sudah harus melakukan ancang-ancang dan mempersiapkan strategi pendekatan sehingga posisi kita tidak sampai diganti.


Ketika terjadi konflik didalam organisasi/instansi akibat pergantian yang ada maka seorang pelobi tidak boleh bersifat memihak, harus netral. Demikian juga jiga terjadi adanya ketidak puasan dan saling mendiskriditkan para pelobi harus pula menyadari kondisi ini.

Antara Pengambil Keputusan dan Eksekutor

Bahwa pengambil keputusan dan eksekutor dalam lembaga pemerintahan tidak sekaligus. Juga harus dibedakan dengan peran supporting staff.

Ada pejabat yang menandatangani sebuah kebijakan, ada eselon dibawahnya yang melaksanakan, dan ada pejabat yang menyediakan equipment. Jika lobi kita ingin sukses dan hasilnya sesuai dengan yang kita rencanakan, ketiga jenjang tersebut harus kita perhatikan.


Harus pula dipahami terkadang kita sudah berhasil menghubungi tokoh untuk di lobi sudah berhasil menetapkan waktu, tempat dan topik pembicaraan saat lobi, maka kita tidak boleh berpikiran bahwa hasilnya akan mudah diramal, bahwa dinamika organisasi bergerak cepat, sulit diprediksi, maka hasil lobi kitapun yang sudah disetujui bersama bisa saja tiba-tiba dibatalkan.

Perubahan atas apa yang sudah diputuskan bersama itu bisa terkadi karena alasan sederhana. Dalam bisnis ada stakeholder, dimana stakeholder terus bergerak, semua memiliki motif, semua memiliki kepentingan. Pergeseran yang satu bisa menggeser yang lain. Perubahan ini harus diikuti, dimonitor dan dicermati.


Perlu menjadi perhatian pelobi bahwa para pimpinan yang dilobi bukanlah orang yang ahli dalam bidangnya, mungkin saja jabatannya sebagi jabatan politis, mereka juga bukan orang yang memiliki cukup informasi soal bisnis anda. Bila mereka mengambil keputusan yang salah tentang industri anda itu bukanlah karena salah mereka . Karena itu berikanlah informasi yang memadai dan cukup tentang industri dan bisnis kita.


Pertemuan 3

PERTEMUAN 3 dilobi bukanlah orang yang ahli dalam bidangnya, mungkin saja jabatannya sebagi jabatan politis, mereka juga bukan orang yang memiliki cukup informasi soal bisnis anda. Bila mereka mengambil keputusan yang salah tentang industri anda itu bukanlah karena salah mereka . Karena itu berikanlah informasi yang memadai dan cukup tentang industri dan bisnis kita.

AKTIFITAS LOBI KE PEMERINTAH


Referensi : dilobi bukanlah orang yang ahli dalam bidangnya, mungkin saja jabatannya sebagi jabatan politis, mereka juga bukan orang yang memiliki cukup informasi soal bisnis anda. Bila mereka mengambil keputusan yang salah tentang industri anda itu bukanlah karena salah mereka . Karena itu berikanlah informasi yang memadai dan cukup tentang industri dan bisnis kita.

Rhenald Kasali, 2000, Manajemen Public Relations, Grafiti, Jakarta. Hal. 115-126


Di Indonesia, peran untuk melobi pemerintah masih sering dilakukan oleh pemimpin puncak atau pemilik perusahaan. Kebanyakan pelobi menjalin hubungan yang dekat dengan para pejabat pemerintahan.

Meskipun demikian, pada beberapa perusahaan investasi asing di Indonesia, ditemui bahwa peran tersebut dilakukan oleh spesialis PR yang disebut government relations. Tugas mereka dalah melobi pemerintah agar investasi mereka aman disini, menembus izin-izin investasi, perluasan impor, pemakaian tenaga kerja asing, pengurusan pajak, dan sebagainya.


Hal-hal Penting dalam Melobi dilakukan oleh pemimpin puncak atau pemilik perusahaan. Kebanyakan pelobi menjalin hubungan yang dekat dengan para pejabat pemerintahan.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan bila melakukan lobi dengan pemerintah;

1. Setiap keputusan politik pasti menguntungkan bisnis tertentu dan akan merugikan bisnis yang lain.

2. Bisnis anda tidak bisa tidak terpengaruh keputusan politik. Karena itu harus dikenali bagaimana, kapan, dan mengapa keputusan politik diambil. Baik di negara sendiri atau dinegara lain yang berhubungan dengan bisnis anda.


3. Kekuatan lobi dalam mempengaruhi orientasi politik parpol pemerintah dan sebagainya juga dipengaruhi oleh sejauh mana pelobi memiliki network dengan tokoh-tokoh atau key person di negara tersebut.

4. Sejauh mana lobi anda bisa langsung ke pusat organisasi pemerintah (legislatif, eksekutif, yudikatif) sejauh itu pula anda mengetahui apa yang akan diputuskan terhadap: bisnis, peraturan, kompetitor dan sebagainya.


  • Aktifitas Melobi pemerintah dan sebagainya juga dipengaruhi oleh sejauh mana pelobi memiliki network dengan tokoh-tokoh atau key person di negara tersebut.

  • Hal-hal yang bisa dilakukan oleh Pelobi ke pemerintah sangat bervariasi sesuai dengan sifat dari industri dan kelompok yang diwakili.

  • Kebanyakan hal-hal yang dilakukan adalah :

  • Mengumpulkan data dan fakta

  • Pemerintah adalah pemilik dat yang lengkap tetapi seringkali tidak terkoordinasi. Di Indonesia hampir setiap departemen melakukan penelitian dan tabulasi data tahunan. Data-data ini disampaikan kepada pusat-pusat dokumentasi, humas dan juga dipegang oleh para individu yang menangani suatu komoditas/peraturan. Selain itu, pemerintah juga menyimpan data-data statistik, ekonomi,opini dan keputusan.


2. Interpretasi terhadap langkah pemerintah pemerintah dan sebagainya juga dipengaruhi oleh sejauh mana pelobi memiliki network dengan tokoh-tokoh atau key person di negara tersebut.

Keputusan pemerintah umumnya adalah merupakan penjabaran dari opini orang-orangnya. Fungsi utama pelobi adalah menerjemahkan opini tersebut kedalam kebutuhan perusahaan. Pelobi melakukan prediksi yang didugaakan terjadi secara hukum dan memberi rekomendasi agar perusahaan dapat menyesuaikan diri atau memanfaatkan ketentuan baru tersebut.

3. Interpretasi terhadap langkah perusahaan

melalui kontak regular dengan pejabat pemerintahan, pelobi menginformasikan bagaimana suatu regulasi dirasakan oleh perusahaan atau oleh kelompk masyarakat tertentu.


4. Membangun posisi pemerintah dan sebagainya juga dipengaruhi oleh sejauh mana pelobi memiliki network dengan tokoh-tokoh atau key person di negara tersebut.

Adakalanya seorang pelobi melakukan tindakan untuk menunda suatu peraturan agar perusahaan tidak mengalami kesulitan serius atau agar semua pihak siap melaksanakan peraturan tersebut.

5. Melemparkan berita nasional

istilah yang dipakaia adalah publicity springboard, yaitu menggunakan tempat lobi sebagai pusat peerdaran berita. Tempat lobi umumnya dalah suatu pusat yang selalu dikunjungi oleh para wartawan dan jurnalis media. Berita yang dilemparkan melalui para pejabat di tempat lobi akan dengan segera beredar secara nasional dan akan dikutip oleh media lainnya.


6. Mendukung kegiatan pemasaran pemerintah dan sebagainya juga dipengaruhi oleh sejauh mana pelobi memiliki network dengan tokoh-tokoh atau key person di negara tersebut.

tepatnya dalah melobi agar pemerintah menggunakan jasa atau membeli produk yang diahsilkan perusahaan. Pemerintah adalah pembeli yang paling besar. Pelobi tidak hanya menawarkan barang/jasa, melainkan juga mengajukan proposal untuk dianggarkan oleh pemerintah.


Ada dua hal yang bisa dipelajari dari perkembangan teknik melobi yang banyak diterapkan oleh perusahaan internasional dewasa ini, yaitu:

  • Grass-root lobbying

    lobi kepada pemerintah dilakukan secara tidak langsung, yaitu dengan meningkatkan kesadaran warga negara untuk menyampaikan aspirasinya kepada pemerintah, agar pemerintah mau membela kepentingannya. Para pelobi menggerakkan masyarakat karena masyarakatlah yang memilih langsung para pembuat kebijakan sehingga ada tanggung jawab bagi pembuat kebijakan untuk mewujudkan aspirasi masyarakat.


  • Political Action Committees (PAC). melobi yang banyak diterapkan oleh perusahaan internasional dewasa ini, yaitu:

    Cara ini dilakukan di negara-negara yang masyarakatnya sudah maju. Perusahaan mendukung kandidat politik yang mempunyai filosofi yang sama dengan filosofi perusahaan.

    Cara yang lebih halus misalnya dengan memberikan beasiswa kepada calon-calon pemimpin yang diharapkan dapat memberi kontribusi bagi pembangunan, denagn mendukung tim-tim olah raga nasional yang berkompetisi di tingkat internasional dan sejenisnya.


Pertemuan 31

PERTEMUAN 3 melobi yang banyak diterapkan oleh perusahaan internasional dewasa ini, yaitu:

LANGKAH DAN STRATEGI LOBI

(I)


Referensi : melobi yang banyak diterapkan oleh perusahaan internasional dewasa ini, yaitu:

Zainal Abidin Partao,MM. 2006. Teknik Lobi dan Diplomasi, Indeks, Jakarta. hal 69-113


A. Persiapan Yang diperlukan saat Melobi melobi yang banyak diterapkan oleh perusahaan internasional dewasa ini, yaitu:

Seorang pejabat PR yang bertanggung jawab terhadap government relations mutlak memahami strategi lobying dan persiapan apa yang dibutuhkan agar sukses melaksanakan fungsinya.

1. Langkah-langkah persiapan Lobi

point-poin yang penting diketahui agar proses lobi berjalan lancar yaitu:

1. Pahami prinsip-prinsip kegiatan lobi

2. Kenali sasaran lobi

3. Pahami prinsip-prinsip membangun kepercayaan sasaran lobi terhadap diri anda

4. Berikan gambaran manfaat yang didapat bila mendukung atau mengabulkan permintaan anda.

5. Persiapkan berbagai fasilitas pendukung.


Lobi adalah aktivitas komunikasi yang dilakukan individu maupun kelompok kecil yang bertujuan memperoleh rekan yang bermanfaat guna mempengaruhi para pimpinan organisasi lain maupun orang yang memiliki kedudukan penting dalam organisasi dan pemerintahan sehingga dapat memberikan keuntungan buat diri sendiri atau organisasi atau perusahaan pelobi.

Untuk itu prinsip-prinsip yang haru dipegang teguh dalam melobi adalah:

1. Diluar pembicaraan formal masih diperlukan pembicaraan informal.

2. Pelobi harus mampu menetralisir berbagai keadaan yang bisa menghambat proses pembicaraan informal.


3. Pelobi harus membangun keyakinan pada sasaran lobi bahwa hasil apapun yang diputuskan tidak menyebabkan hubungan kedua belah pihak menjadi negatif.

4. Pelobi hrus mampu membantu orang itu mengambil keputusan.

  • Memahami kondisi yang bersifat politis

  • Memegang prinsip saling menguntungkan, dan bisa saling membutuhkan.

  • Kunci keberhasilan lobi terletak kepada kemampuan memodifikasi struktur psikologis internal orang yang dilobi.


2. Ukuran Keberhasilan : hasil apapun yang diputuskan tidak menyebabkan hubungan kedua belah pihak menjadi negatif.

Lobi bisa untuk mencapai tujuan jangka pendek dan jangka panjang. Tujuan lobi bervariasi bisa berupa mempengaruhi sasaran lobi agar berbagai usulan, rencana dan program kerja anda, mendapatkan pengertian, pemahaman, persetujuan hingga pada dukungan. Bisa saja tujuan lobi hanya sekedar tercipta hubungan kerja yang kondusif, saling memahami, tidak saling mengganggu. Oleh karena itu terlebih dahulu harus ditetapkan suatu parameter yang jelas terhadap pencapain tujuan lobi..


3. Siapa yang di Lobi hasil apapun yang diputuskan tidak menyebabkan hubungan kedua belah pihak menjadi negatif.

Siapa yang dilobi bukan pekerjaan yang mudah untuk menjawabnya seiring dngan berjalannya waktu, berubahnya lingkungan bisnis serta semakin kompleknya perkembangan yang terjadi maka lembaga, institusi, organisasi atau perusahaan yang menjadi sasaran lobipun bergeser. Dalam upaya memahami sasaran/target lobi maka kita harus mengajukan 2 pertanyaan yaitu :

1. Apa lembaga atau organisasi yang harus kita lobi ?

2. Siapa orang dalam lembaga, organisasi yang mempunyai pengaruh atas kelancaran pencapaian tujuan oraginasai atau perusahaan ?


B. Mengorganisasikan dan Merencanakan Lobi hasil apapun yang diputuskan tidak menyebabkan hubungan kedua belah pihak menjadi negatif.

1. Menetapkan Bentuk Kegiatan

Bentuk kegiatan lobi dipilih dipengaruhi banyak faktor. Siapa sasaran lobi, apa hobi dan kesukaanya, apa posisi atau kedudukannya dalam organisasi, apa latar belakangn budanya/sukunya, apa latar belakang pendidikannya dan luas lingkup pengalamannya.

bentuk kegiatan hanyalah sebuah sarana untuk mencapai tujuan, yang harus dirancang untuk memmpermudah mencapai tujuan. Bentuk kegiatan alternatif yang umum adalah :

Kunjungan ke pabrik, Makan siang/malam bersama, seminar, workshop dihotel berbintang, mengikuti kegiatan hobi target yang dilobi.


2. Menetapkan tempat hasil apapun yang diputuskan tidak menyebabkan hubungan kedua belah pihak menjadi negatif.

Dasar pemilihan tempat untuk melakukan lobi adalah:

a. Suasana

b. Privasi

c. Bila dibutuhkan penginapan ?

d. Restoran atau hotel ?

e. Pertimbangkan faktor lokasi tempat lobi berlangsung

f. Alternatif tempat lobi harus dipersiapkan

g. Persetujuan pihak yang akan di lobi

h. Dapat dikaitkan dengan lokasi dekat dengan hobinya

i. Dari pertemuan pertama atur pertemuan berikutnya

j. Setelah tempat disetujui adakankoordinasi dengan pihak yang terkait.


3. Menetapkan Waktu hasil apapun yang diputuskan tidak menyebabkan hubungan kedua belah pihak menjadi negatif.

Menetapkan waktu lobi harus dilihat situasi dan kondisi pihak yang dilobi. Waktu makan, acara seminar, melakukan kegiatan hoby, adalah waktu yang bisa tepat untuk melaksanakan lobi.

4. Menetapkan Tim Lobi

Tim lobi jumlahnya berapa orang, yang terlibat didalam tim kita siapa saja dan berapa orang ? Hal yang sama juga perlu ditanyakan dari tim sasaran lobi, jumlahnya berapa orang dan siapa saja yang hadir.ada pihak lain yang perlu diundang? Siapa saja yang diundang ?

Sesuaikanlah jumlah tim sesuai dengan jumlah tim sasaran lobi.


5. Menetapkan Tujuan Lobi hasil apapun yang diputuskan tidak menyebabkan hubungan kedua belah pihak menjadi negatif.

Apa yang anda pikirkan akan anda peroleh itulah yang akan anda dapatkan.Tujuan yang anda tetapkan akan membimbing anda sampai pada tujuan tersebut.

Ada beberapa contoh dari tujuan lobi diantaranya;

1.Mengajak sasaran lobi untuk terjun langsung dan mengamati kegiatan industri perusahaan anda

2. Saling mengenal satu sama lain dan memahami secara personal.

3. Menjalin hubungan yang lebih harmonis

4. Memahami dan membina hubungan yang lebih baik

5. Melakukan perkenalan terhadap pejabat yang baru dilantik, naik jabatan dan sebagainya.


6. Menetapkan Anggaran hasil apapun yang diputuskan tidak menyebabkan hubungan kedua belah pihak menjadi negatif.

Anggaran tergantung banyak variabel, antara lain tujuan dan sasaran akhir lobi yang akan capai, siapa yang diundang, lokasi atau tempat lobi anda berlangsung. Jumlah yang diundang, pilihan menu, tahapan lobi dan publikasi. Lobi dapat berlangsung beberapa hari, juga mungkin menyiapkan souvenir dan biaya terhadap rencana darurat perlu diperhitungkan.

7. Pentingnya Persiapan

Persiapan lobi yang baik akan menghasilkan:

- Kelancaran

- Lobi berjalan efektif sesuai tujuan yang diharapkan

- Mengurangi tingkat risiko dan kegagalan

- Memeroleh dukungan dan kepercayaan yang cepat.


Sebaliknya jika persiapan kurang baik maka : hasil apapun yang diputuskan tidak menyebabkan hubungan kedua belah pihak menjadi negatif.

1. Suasana informal dan santai yang bersifat kekeluargaan gagal dibangun.

2. Pembicaraan tertunda/ terganggu

3. Kepercayaan terganggu.

4. Lobi terhambat / tidak tuntas

5. Lobi gagal.

Hal yang perlu dan jangan dilupakan adalah perlu menyiapkan rencana darurat (convergency plan) jika rencana semula mengalami hambatan dan tidak bisa diteruskan.


C. Menetapkan Strategi Lobi yang Efektif hasil apapun yang diputuskan tidak menyebabkan hubungan kedua belah pihak menjadi negatif.

1. Urutan prioritas

Urutan prioritas berhubungan dengan tahapan-tahapan dalam pelaksanaan lobi.

penetapan prioritas ini maksud dan tujuannya adalah untuk memperoleh efek domino atau efek bola salju.” bila satu sudah ditangan yang lain akan mengikuti” untuk itu kita harus mengingat lima aktivitas yang menjadi fungsi melobi yaitu;

- Membangun koalisi dengan organisasi-organisasi lain, berbagai kepentingan dan tujuan-tujuan untuk melakukan usaha bersama dalam mempengaruhi wakil-wakil legislatif.


- Mengumpulkan informasi dan mempersiapkan laporan untuk legislator yang mewakili posisi organisasi dalam isu-isu kunci.

- Melakukan kontak dengan individu-individu yang berpengaruh dan wakil-wakil dari agensi yang menyatu.

- Mempersiapkan pengamat dan pembicara ahli untuk mewakili posisi organisasi terhadap legislator.

- Memusatkan debat pada isi kunci, fakta dan bukti- bukti yang mendukung posisi organisasi.

Situasi yang akan dibangun, siapa yang akan dilobi, tujuan yang akan dicapai, akan menentukan dari lima aktivitas tersebut mana yang harus didahulukan.


Siapa yang dilobi akan menentukan tempat dan waktu lobi. Dan itu terkait dengan :

  • Posisi jabatan, kewenangan dalam memutuskan.

  • Juga terkait dengan situasi psikologis dan sosiografis yang akan dibangun maupun yang harus kita siapkan.

  • Anggaran yang disediakan.

  • Waktu dan tempat

  • Kedalaman pesan, fakta dan data yang harus dan memungkinkan diberikan saat itu ( tidak semua fakta dan data dapat diberikan disembarang tempat) dan sebagainya.


2. Menyiapkan Argumen itu terkait dengan :

Lobi yang berhasil adalah lobi yang didasari dengan pendekatan yang baik, itu benar. Akan tetapi lobi yang mampu membantu upaya pencapain tujuan organisasi atau perusahaan tidaklah sesederhana itu berbagai persyaratan atau data pendukung sangat diperlukan.

3. Merumuskan Ide dan Usulan

Setelah rencana dirumuskan maka kunci terakhirnya adalah bagaimana anda menjual idenya. Lobi adalah teknik komunikasi. Bagaimana anda menjual pesan agar pesan tersebut dibeli dibeli sasaran lobi, itu sangat tergantung pada pedoman dibawah ini;


Keberhasilan jualan ide anda akan ditentukan : itu terkait dengan :

1. Bagaimana anda membungkus idenya, komponennya adalah :

a Bagaimana agar menjadikan ide seolah-olah datang dari mereka.

b. Ide anda mendukung ide-ide sasaran lobi

c. Ide-ide anda seolah meringankan tugas mereka

d. ide anda tersebut memberikan manfaat yang besar buat masyarakat.

2.Bagaimana anda mengkomunikasikannya. Ini menyangkut pilihan kalimat.contoh pilihan kalimat yang benar “ Anda akan memperoleh keuntungan 15% dari total modal anda setorkan” bukannya “kami akan mengajak anda kerjasama, mudah-mudahan tingkat keuntungan yang akan kita hasilkan sebesar 30 % sehingga anda pat 15 %, sisanya buat kami”


4. Memberi makan rohani pelobi itu terkait dengan :

Makanan rohani dimaksudkan untuk tetap membuat anda mampu mengisi kegiatan lobi dengan pemikiran – pemikiran yang brilian.

Memberi makan rohani berarti banyak membaca, banyak berdiskusi, banyak mengikuti seminar dan sebagainya.juga harus tahu cara penanganan, cara pelayanan dan cara mengkonsumsi minuman, table manner, memahami berbagai jenis menu makanan, tempat untuk memperoleh makanan, dan mampu mencari tema-tema pembicaraan yang cocok dengan sasaran lobi.


Pertemuan 4

PERTEMUAN 4 itu terkait dengan :

LANGKAH DAN STRATEGI LOBI

(II)


Referensi : itu terkait dengan :

Zainal Abidin Partao,MM. 2006. Teknik Lobi dan Diplomasi, Indeks, Jakarta. hal 241-268


A. Pentingnya Fungsi Mendengarkan Untuk Lobi itu terkait dengan :

Ada tiga alasan mengapa kemampuan mendengarkan ini amat penting untuk keberhasilan kita:

1. Menurut David K Berlo, komunikasi akan berhasil apabila antara komunikator dan komunikanterdapat kecocokan atau kesamaan satu sama lain. Kesamaan dalam budaya, sitem sosial, pendidikan, pengalaman, harapan, dan sebagainya.

2. Hasil riset menunjukan tentang mendengarkab menyebutkan aktivitas terbesar yang dilakukan manusia dalam kegiatan sehari-hari nya adalah mendengarkan.

3. Dengan mendengarkan kita memberikan sentuhan emosional, perhatian, penghargaan padanya.


Mendengarkan adalah proses aktif menerima rangsangan (stimulus) telinga (aural =isyarat).

Istilah Listening menurut Devito harus dibedakan dengan hearing, Pada konsep hearing mendengar disini sebuah proses fisiologis. Sedangkan pada listening ada proses pemberian arti atau makna.

Melalui penangkapan makna dan pemahamannya selanjutnya si penerima rangsangan melakukan aksi sesuai makna yang ditangkapnya.

Nichols menyatakan bahwa didengarkan berarti ditanggapi dengan serius, bahwa gagasan dan perasaan dimengerti dan bahwa yang diutarakan penting. Mendengarkan selain gabungan dari proses fisiologis ada aktivitas fisik didalamnya, ia juga mengandung aktivitas psikologis dan sosiologis.


Dalam memahami konsep mendengarkan harus diperhatikan berbagai dimensi yang berlaku di wilayah fisiologis (berbagai aktivitas fisik seperti mendengar, melihat dan berprilaku), dimensi psikologis ( mengerti, merasa dan memahami), serta dimensi hubungan (hubungan antar sesama manusia).

B. Tujuan Mendengar

Aktivitas mendengarkan menurut Devito memiliki tujuan:

1. Mendengar untuk kesenangan:

Orang mendengarkan sandiwara radio, mendengar kan musik dsb.


2. Mendengarkan untuk mendapatkan informasi berbagai dimensi yang berlaku di wilayah fisiologis (berbagai aktivitas fisik seperti mendengar, melihat dan berprilaku), dimensi psikologis ( mengerti, merasa dan memahami), serta dimensi hubungan (hubungan antar sesama manusia).

Memiliki fungsi antara lain :

- Untuk mendapatkan fakta dan detail informasi

- Untuk mendapatkan arahan dan istruksi dari pimpinan

- Mencoba memahami sudut pandangan orang lain

- Mencari solusi untuk menyelasaikan konflik dalam tim dan memecahkan problem.

3. Mendengarkan untuk membantu

Mendengarkan keluh kesah teman atau kerabat

Yang paling penting bagi seorang pelobi adalah mendengar kan untuk mendapatkan kepastian, memperkokoh informasi dan kepercayaan diri.


Jenis mendengar yang terakhir adalah sangat penting bagi pelobi karena informasi yang didapat akan menjadi bahan keputusan strategis manjemen, akan menjadi bahan pengambilan kebijakan serta dapat mempengaruhi nasib organisasi atau perusahaan tempat bekerja.

C. Mendengarkan Lebih sulit daripada bicara

Tentang sulitnya mendengar dalam konsep listening, dijabarkan menurut Devito, yang bisa digunakan saat lobi adalah sebagai berikut:

1. Mendengarkan adalah proses yang aktif, bukan pasif. Dikaitkan dengan lobi maka disini mendengarkan dalam konsep listening(aktif) bukan hearing (pasif).


2. Mendengarkan tidak terjadi begitu saja, tetapi kita harus melakukannya.

3. Mendengarkan menuntut tenaga dan komitmen

4. Listening beda dengan hearing.

D. Hambatan dalam Mendengarkan

Perlu juga disadari tentang hambatan – hambatan yang ada dalam mendengar dalam kegiatan lobi, dan harus dihindari dan perlu diperhatikan strategi penanggulangannya yaitu:

1. Sibuk dengan diri sendiri;

2. Sibuk dengan masalah eksternal

3. Mempertajam hal yang tidak esensial


4. Melakukan Asimilasi melakukannya.

5. Terjebak untuk menempatkan orang yang berbicara sebagai kawan atau lawan

6. Hanya mendengarkan pesan yang diharapkan.

E. Fungsi Umpan Balik dalam Mendengarkan

Antara kegiatan mendengarkan dan memberikan feedback sangat erat kaitannya. Pada sisi sebagai pelobi perlu mendengarkan dengan baik agar bisa memberikan feedback yang tepat pada sasaran lobi. Mengapa dari sudut pelobi ? Ada dua alasan;

Pertama sebagai pelobi anda berada pada pihak yang membutuhkan. Berada pada pihak yang sangat tergantung pada keputusan sasaran lobi.

Kedua pada sasaran lobi kita, umpan balik yang kita


berikan lewat proses mendengarkan yang kita lakukan, sasaran lobi dapat menyesuaikan pesannya, memodifikasi, memperkuat atau mengubah isi atau bentuk pesannya.

Manfaat yang bisa diraih dalam mendengar dikaitkan dengan umpan balik maka lewat mendengar kita akan dapat;

1. Menangkap informasi yang diharapkan, dikehenadaki sasaran lobi sehingga mengabulkan keinginan kita ketika melobinya.

2. Menangkap kekecewaan sasaran lobi pada kita agar kita tidak mengulangi kembali, diikuti dengan pemberian service recovery, servis tambahan untuk meredakan kekecewaannya pada kita atau perusahaan kita.

3. Menangkap kesalahpahaman yang mungkin telah terjadi sebelumnya sehingga kita bisa mengklarifikasi dan meredakan mungkin amarah yang timbul sebagai akibat kesalah pahaman.


Agar manfaat mendengarkan dapat efektif berfungsi harus memperhatikan prinsip-prinsip antara lain:

1. Kesegeraan

2. Kejujuran

3. Kepatutan

4. Kejelasan

F. Mendengarkan yang Efektif

Untuk menguasai teknik-teknik mendengarkan, harus mengetahui beberapa dimensi tentang cara mendengar yang efektif, yaitu ;

1. Mendengarkan partisipatif dan pasif


2. Mendengarkan secara empatik dan secara objektif memperhatikan prinsip-prinsip antara lain:

3. Mendengarkan tanpa menilai dan mendengarkan secara kritis.

4. Mendengarkan secara dangkal dan secara dalam

G. Teknik-Teknik Mendengarkan Aktif

1. Ajukan pertanyaan dan ulangi pikiran pembaca.

2. Jangan menginterupsi

3. Berilah respon pada pendengar anda

4. Tatap mata pembicara

5. Jangan mengalihkan topik pembicaraan yang sednag dibangun pembicara.

6. Kendalikan emosi.


Mengapa mendengarkan secar aktif begitu penting bagi seorang pelobi, karena hal ini memiliki fungsi yang penting yaitu:

1. Memungkinkan pendengar mencocokan pemahamannya terhadap yang dibicarakan pembicara.

2. Pendengar mengutarakan akseptansinya

3. Mendorong pembicara untuk :

a. menggali dan mengutarakan perasaan dan pikirannya

b. Menghasilkan dialog yang memberikan pemahaman bersama.

c. Memecahkan sendiri permasalahan yang dihadapi pembicara.


H. Pelobi adalah Host, Pengarah Acara pelobi, karena hal ini memiliki fungsi yang penting yaitu:

Walaupun sasaran lobi berbicara panjang lebar, kendali proses lobi harus tetap ditangan kita sebagai pelobi Pelobi harus bisa mengarahkan jalannya proses lobi sesuai tujuan lobi yang telah ditetapkan. Bagaimana mengarahkan sasaran lobi anda :

1. Fokuskanlah secara bijak topik pembahasan.

2. Ajukan pertanyaan terbuka dengan baik

3. Selingi dengan pertanyaan tertutup untuk mengarahkan

4. Simpulkan topik yang sednag menjadi pembahasan anda berdua atau bersama tim. Bacakan secara perlahan namun mantap yang bertujuan mendapatkan pengesahan.


Pertemuan 5

PERTEMUAN 5 pelobi, karena hal ini memiliki fungsi yang penting yaitu:

STRATEGI MENGHADAPI ORANG “SULIT”

DALAM LOBI


Referensi : pelobi, karena hal ini memiliki fungsi yang penting yaitu:

Zainal Abidin Partao,MM. 2006. Teknik Lobi dan Diplomasi, Indeks, Jakarta. hal 191-209


Definisi “Orang Sulit” dalam lobi pelobi, karena hal ini memiliki fungsi yang penting yaitu:

Adakah orang sulit ? Pada intinya tidak ada orang sulit, yang terjadi hanya ketidakcocokan kepribadian antara pelobi dan sasaran lobi.

Manusia dilahirkan dengan kepribadian dasar dan kepribadian ini tidak akan pernah hilang sampai meninggal. Pengalaman hidup, pendidikan, teman bergaul, perubahan status sosial ekonominya tidak pernah mengubah kepribadian dasarnya, yang ada hanya memperkaya , menambah dan memberi warna.

Charles J. Keating mengemukakan bahwa kesulitan dalam menghadapi orang lain bukan karena orang itu memang sulit untuk didekati atau sulit untuk diajak kerjasama. Orang tersebut dirasa sulit karena ada faktor konflik kepribadian antara kita dengannya.


Untuk itu perlu juga kita memahami tipe-tipe kepribadian yang ada. Menurut Myers-Briggs, tipe-tipe kepribadian adalah:

1. Kepribadian Introvet

Orang yang tidak mudah mengungkapkan perasaannya kepada orang lain.

2. Kepribadian Ekstrovet

Orang yang senag bersama orang lain, tidak ada rahasia yang disembunyikan.

3. Kepribadian mengindera

Orang yang serba cermat, peduli hal-hal yang detail, sadar akan lingkungan fisik dan sangat praktis. Loyal kepada perusahan memiliki perhatian terhadap masalah yang dihadpi atasan.


4. Kepribadian intuitif yang ada. Menurut Myers-Briggs, tipe-tipe kepribadian adalah:

Penyusun konsep dan pengkhayal didalam organisasi. Cenderung melihat kemungkinan dibandingkan realitas.

5. Kepribadian pemikir

Melihat segala sesuatu menurut akal dan logika. Bersifat kognitif, menghargai intelektual, dan segala yang masuk akal. Emosi atau perasaan dinilai tidak penting.

6. Kepribadian perasa

Cenderung hangat dan mudah didekati, terbuka terhadap pendapat orang lian. Pengambilan keputusan cenderung berdasarkan perasaan.


7. Kepribadian pengatur yang ada. Menurut Myers-Briggs, tipe-tipe kepribadian adalah:

Paling senag dengan aturan dan jadwal, meski tidak menyukai rutinitas, ia tidak senang menghadapi hal-hal yang diluar perkiraannya.

8. Kepribadian mengerti:

Kepribadian yang dimiliki oleh orang yng menikmati hidup sebagaimana adanya.


Namun harus disadari bahwa kepribadian yang ditunjukan oleh individu kadang-kadang tidak menunjuk salah satu kepribadian yang ada.maksudnya ada orang yang memiliki kepribadian menonjol di dua tipe kepribadian, yang sering disebut “orang di tapal batas” , sebagai pelobi tidak perlu bingung maka kita harus benar-benar mencermati pada saat lobi berlangsung tipe kepribadian mana yang paling menonjolkan dari sasaran lobi.

Sementara itu, Mitchael Le Boeuf memberikan gambaran kepribadian sebagai pemicu konflik adalah;

1. Pengkritik

2. Si Agresif

3. Tukang gosip


4. Sang moralis individu kadang-kadang tidak menunjuk salah satu kepribadian yang ada.maksudnya ada orang yang memiliki kepribadian menonjol di dua tipe kepribadian, yang sering disebut “orang di tapal batas” , sebagai pelobi tidak perlu bingung maka kita harus benar-benar mencermati pada saat lobi berlangsung tipe kepribadian mana yang paling menonjolkan dari sasaran lobi.

5. Si Martir

6. Tuan perfeksionis

7. Penggemar hal-hal sepele

8. Si sumbu pendek

9. Si pembual

10. Orang yang sinis.

11. Seniman merendahkan diri untuk meremehkan orang lain

12. Penipu


Beberapa cara yang bisa diterapkan untuk menghadapi kepribadian pemicu konflik :

1. Terhadap pengkritik:

Tenangkan hati dan perasaan anda, tetap fokus pada topik lobi.

2. Si Agresif :

Siapkan data dan informsi, tetap ingatkan terhadap komitmen yang disepakati bersama.

3. Si tukang gosip, ingatkan dirinya untuk lebih fokus pada tofik lobi.

4. Sang moralis

Hadapi dengan kerendahan hati, sampaikan kita perlu banyak belajar dari dirinya.


5. Terhadap si martir ; ucapkan terima kasih, setelah itu agenda lobi harus tetap berjalan sesuai topik yang akan didiskusikan.

6. Tuan perfeksionis, berikan senyum penuh kasih, setiap sarannya kita catat katakan padanya sarannya dicata tetapi dalam waktu singkat ini mohon pengertiannya untuk menerima apa adanya.

7. Penggemar hal-hal sepele ; maklumi keterbatas yang dimilikinya, ajak fokus pada tofik lobi.

8. Si sumbu pendek; perlu mencari informasi hal-hal apa yang bisa menyebabkan dia cepat “meledak’ ciri mereka adalah ingin mengerjakan hal yang bukan prioritas.

9. Si pembual : utarakan kekaguman anda padanya, hanya itu, kemudian jangan anda tanggapi lebih lanjut. Ajak dia untuk bicara soal agenda lobi.


10. Orang yang sinis; perlu dimaklumi, jangan terpengaruh kembali arahkan ke topik dan agenda lobi.

11. Terhadap seniman yang suka merendahakan diri untuk meremehkan orang lain, anda hanya perlu membesarkan hati anda sendiri. Jangan mudah tersinggung, besarkan hati karena kita membutuhkan dia.

12. Terhadap penipu; berhati-hatilah. Jangan lupa untuk meminta perjanjian tertulis atau meminta bukti-bukti otentik manakala harsu berhubungan dan mengikat janji dengannya.


Menciptakan Kerjasama kembali arahkan ke topik dan agenda lobi.

Kini yang menjadi pertanyaan bagaimana menciptakan kerjasama. Mengelola bisnis adalah mengelola orang.

Lobi adalah bagian dari tugas-tugas dalam organisasi, bagian dari usaha pencapaian tujuan organisasi. Maka suksesnya lobi adalah dengan cara mengelola dan menangani orang.

Membaca orang adalah membaca kepribadiannya, membaca kecerdasannya serta membaca pola dan cara belajarnya adalah salah satu alat untuk keberhasilan lobi kita.


Berikut adalah tips untuk menciptakan kerjasama: kembali arahkan ke topik dan agenda lobi.

1. Berikan kesan pertama yang positif

2. Bangun kepercayaan dalam dirinya

3. Buatlah mereka kagum pada diri kita

4. Cari tahulah hobi mereka.

5. Apabila mereka sudah suka kepada kita maka akan senang bersahabat dengan kita.


Untuk menjadikan sasaran lobi senang bekerjasama dengan anda berikut adalah rumusannya;

1. Bila anda punya ide ingin bekerjasama dengannya, buatlah seolah-olah ide anda adalah idenya.

2. Ketika kita ingin bekerjasama dan mendapatkan dukungan penuh dari seseorang, berikan kerjasama dan dukungan penuh kepadanya terlebih dahulu.

3. Lebih sulit mempertahankan kerjasama daripada menciptakan kerjasama.

4. Ketahuilah keinginan mereka, ketahuilah kebutuhan mereka.

5. Penuhilah keinginan dan kebutuhan mereka

6. Bila telah terbina kerja sama yang baik, bicaralah selalu tentang kesamaan-kesamaan, kurangi bicara tentang perbedaan-perbedaan.


Pertemuan 9

PERTEMUAN 9 anda berikut adalah rumusannya;

COMMUNITY RELATIONS


Referensi: anda berikut adalah rumusannya;

Yosal Iriantara, 2004. Community Relations. Simbiosa Rekatama Media, Bandung. (Hal.19-43)


I. anda berikut adalah rumusannya;Pengertian Community Relations

Suatu prinsip yang hendak dikembangkan melalui community relations adalah mengembangkan hubungan bertetangga yang baik.

Jerold mendefinisikan Community Relations sebagai

“Peningkatan partisipasi dan posisi organisasi dalam sebuah komunitas melalui berbagai upaya untuk kemaslahatan bersama bagi organisasi dan komunitas”

DeMartin menyatakan Community Relations sebagai “cara berinteraksi dengan berbagai publik yang saling terkait dengan operasi organisasi”.


Pemahaman Komunitas (Community) anda berikut adalah rumusannya;

Dalam kontek PR makna komunitas itu tidak bersifat tunggal. Menurut Frank Jefkins komunitas adalah “kelompok orang yang tinggal disekitar wilayah operasi satu organisasi” atau disebut Jefkins sebagai tetangga (melihat dari aspek lokalitas).

Dengan perkembangan yang ada saat ini komunitas dapat diartikan bukan sekedar sebagai “kumpulan orang orang yang tinggal pada lokasi yang sama tapi juga menunjukkan terjadinya interaksi diantara kumpulan orang tersebut”. artinya komunitas bukan menunjuk pada lokalitas saja melainkan juga struktur.

Sedangkan De Martin memberikan pemahaman dari konsep yang diajukan oleh Hallahan, yaitu bahwa Komunitas adalah semua stakeholder yang dilayani organisasi.



Stewart E Perry anda berikut adalah rumusannya;, memandang ada 2 makna komunitas yaitu;

Pertama, Komunitas sebagai kategori yang mengacu pada orang yang saling berhubungan berdasarkan nilai –nilai dan kepentingan bersama yang khusus.

Kedua, Secara khusus menunjuk pada satu kategori manusia yang berhubungan satu sama lain karena didasarkan pada lokalitas tertentu yang sama yang karena kesamaan lokalitas itu secara tak langsung membuat mereka mengacu pada kepentingan dan nilai-nilai yang sama.


Menurut anda berikut adalah rumusannya;Carol Anne Ogdin menunjukan 5 hal yang membedakan antara komunitas dengan kelompok manusia yaitu:

  • Pembatasan dan ekslusivitas

  • Tujuan

  • Aturan

  • Komitmen

  • Kemandirian

    Untuk kepentingan PR kita bisa memandang komunitas berdasarkan lokalitas sebagai kelompok orang yang berdiam pada lokal yang sama. Selain itu, komunitas dapat juga dipandang sebagai interaksi dalam struktur sosial yang berdiam pada lokasi yang berbeda atau mungkin berjauhan namun dipersatukan oleh kepentingan dan nilai-nilai sama.


Komunitas secara lebih rinci dapat dipandang berdasarkan karateristik relasi didalam komunitas :

1. Komunitas sebagai pengelompokan lokal yang didasarkan pada kedekatan dan relasi tatap muka.

2. Komunitas sebagai kelompok kepentingan seperti dalam komunitas penelitian, komunitas bisnis, atau karakteristik tertentu.

3. Kualitas relasi didalamnya dalam bentuk keterikatan moral dan emosional seperti mengacu pada identitas, nilai-nilai dan tujuan bersama, pengambilan keputusan secara partisipatif dan poduksi simboliknya.


II. Hubungan Organisasi dengan Komunitas karateristik relasi didalam komunitas :

Hubungan antara organisasi dan komunitas bukanlah sekedar soal bertertangga, hubungan ini lebih tepat dipandang sebagai wujud tanggung jawab sosial organisasi atau perusahaan atau dalam istilah populernya saat ini disebut sebagai Corporate Social Responsibility (CSR).

Dengan tanggung jawab sosial berarti organisasi dapat dipandang dari 2 sisi yaitu : Sebagai lembaga bisnis yang mencari keuntungan, disisi lain dipandang juga sebagai lembaga sosial lantaran memikul beban tanggung jawab bagi masyarakat.


Godeke karateristik relasi didalam komunitas : menyebutkan ada beberapa faktor yang mempengaruhi perubahan hubungan antara organisasi dan komunitasnya, antara lain adalah;

  • Globalisasi

  • Peningkatan harapan

  • Menguatnya masyarakat madani dan sektor LSM yang makin berdaya.

  • Pengaruh meningkatnya gerakan lingkungan yang menekankan pada transparansi dan keberlanjutan

  • Pasar untuk tenaga kerja berbakat , yang bergerak menuju pemberian hukuman bagi perusahaan yang mengabaikan masalah kemasyarakatan.


Hubungan antara komunitas dan perusahaan lebih tepat dipandang sebagai relasi yang dikembangkan untuk membuka ruang bagi terwujudnya tanggungjawab sosial perusahaan. Tanggung jawab sosial tersebut terus berevolusi sampai menemukan bentuk yang menunjukan keseimbangan dan kesetaraan posisi antara perusahaan dan komunitas.

D. Peran Komunitas bagi Keberhasilan Perusahaan

Perusahaan apapun perlu menjalin hubungan yang baik dengan komunitasnya sehingga terbentuk sikap positif komunitas pada perusahaan.


Fakta telah membuktikan bahwa masyarakat paling tidak suka jika perusahaan tidak berkomunikasi dengan mereka; bersifat arogan dan tidak memberikan kontribusi atau manfaat bagi lingkungan sekitar.

Masyarakat tidak ingin melihat perusahaan merugikan karyawan, merusak lingkungan, mengabaikan masalah sosial, dsb.

Padahal, sikap positif masyarakat akan mempengaruhi sikap karyawan terhadap organisasi dan adanya ras kebanggaan terhadap perusahaan tempatnya bekerja

Dengan memposisikan perusahaan sebagai mitra dalam pandangan masyarakat dan masyarakat dipandang sebagai mitra oleh perusahaan dalam mencapai tujuan masing-masing maka dapat bermanfaat bagi perusahaan seperti; nama baik, pencapaian tujuan perusahaan dan moral kerja karyawan.


Dalam kemitraan ini, perusahaan juga akan terlibat dalam permasalahan sosial yang bisa diatasi bersama masyarakat.

Keterlibatan perusahaan dapat melalui kegiatan yang mencakup:

1. Prakarsa-prakarsa komersial yang sasarannya adalah kelompok komunitas tertentu yang menjadi sasaran kepentingan bisnis perusahaan namun memberikan manfaat signifikan dalam komunitas itu.

2. Investasi ekonomi, termasuk pemberian hadiah, sumbangan, kesukarelaan perusahaan atau karyawan dan pengembangan ekonomi masyarakat.


Tekanan dalam pelaksanaan Community Relations permasalahan sosial yang bisa diatasi bersama masyarakat.

Berkaitan dengan fungsi Community relations organisasi ada beberapa tantangan atau tekanan baik internal maupun eksternal menurut Waddock dan Boyle yaitu:

Tekanan lingkungan internal datang dari teknologi, restrukturisasi, desentralisasi, keterbatasan sumber daya, dan tekanan lain yang datang dari karyawan dan komunitasnya.

Tekanan lingkungan eksternal datang dari : globalisasi, aliansi, kompetisi, dan aturan pemerintah.


Pertemuan 10

PERTEMUAN 10 permasalahan sosial yang bisa diatasi bersama masyarakat.

TANGUNG JAWAB SOSIAL KORPORATE (CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY)


Referensi: permasalahan sosial yang bisa diatasi bersama masyarakat.

Yusuf Wibisono.2007. Membedah Konsep dan Aplikasi CSR –Corporate Social Responsibility. Fascho Publishing, Gresik


Corporate Social Responsibility (CSR) permasalahan sosial yang bisa diatasi bersama masyarakat.

Hubungan antara organisasi dan komunitas bukanlah sekedar soal bertetangga, hubungan ini lebih tepat dipandang sebagai wujud tanggung jawab sosial organisasi atau perusahaan atau dalam istilah populernya saat ini disebut sebagai Corporate Social Responsibility (CSR).

A. Pengertian CSR

CSR merupakan bentuk perhatian suatu perusahaan atau organisasi terhadap kepentingan-kepentingan masyarakat dengan bertanggung jawab pada dampak yang ditimbulkan dari aktifitas operasional perusahaan.


The World Business Council for Sustainable Development (WBCSD) mendefinisikan CSR adalah:

“ komitmen dunia usaha untuk terus menerus bertindak secara etis, beroperasi secara legal, dan berkontribusi untuk peningkatan ekonomi, bersamaan dengan peningkatan kualitas hidup dari karywan dan keluarganya, sekaligus juga peningkatan kualitas komunitas lokal dan masyarakat secara lebih luas”

sedangkan Yusuf Wibisono mendefinisikan CSR sebagai tanggung jawab perusahan kepada para pemangku kepentingan untuk berlaku etis, meminimalkan dampak negatif dan memaksimalkan dampak positif yang mencakup aspek ekonomi, sosial dan lingkungan dalam rangka mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan.


B. Perkembangan Konsep CSR (WBCSD) mendefinisikan CSR adalah:

Wujud tanggung jawab sosial organisasi berkembang di awal tahun 60-an, sebagai respon terhadap nilai-nilai sosial yang berubah, dengan munculnya perdebatan tentang isu-isu sosial yang mengharuskan organisasi untuk mematuhi tanggung jawab hukum yang baru.

Isu-isu bisa berupa kesempatan kerja, lingkungan hidup atau keamanan produk dan sebagainya.

Dengan tanggung jawab sosial berarti organisasi dapat dipandang dari 2 sisi yaitu : Sebagai lembaga bisnis yang mencari keuntungan, disisi lain dipandang juga sebagai lembaga sosial lantaran memikul beban tanggung jawab bagi masyarakat.


Create Profit Inc. menggambarkan 3 tahapan perkembangan konsep tanggung jawab sosial organisasi bisnis dalam konteks community relations :

1. Th 1960-1970-an, pemberian sumbangan sebagai respon atas kebutuhan lokal dan manajemen CEO

2. Th.1980-1990-an, berkembang model kewarga negaraan korporat

3. Th.1999 berkembang konsep aliansi strategis yang terkait dengan tujuan organisasi.

Konsep CSR (Corporate Social Responsibility) seringkali dikaitkan dengan isu GCG (good corporate governance) dan Triple Bottom Line.


C. Hubungan CSR dengan GCG konsep tanggung jawab sosial organisasi bisnis dalam konteks community relations :

Good corporate governance (GCG), dalam arti sempit dipahami sebagai suatu sistem dan seperangkat aturan yang mengatur hubungan antara berbagai pihak yang berkepentingan, terutama antara pemegang saham dan dewan komisaris serta dewan direksi demi tercapainya tujuan perusahaan.

Sedangkan dalam arti luas, GCG digunakan untuk mengatur hubungan seluruh kepentingan stakeholders secara proporsional dan mencegah terjadinya keslahan-kesalahan yang signifikan dalam strategi perusahaan sekaligus memastikan bahwa kesalahan yang terjadi bisa diperbaiki dengan segera.


Dalam tataran praktis, GCG merupakan tatakelola perusahaan yang baik agar perilaku para pelaku bisnis mempunyai arahan yang bisa dirujuk.

Terdapat lima prinsip GCG yang dijadikan pedoman bagi pelaku bisnis, yaitu:

  • Transparency (keterbukaan informasi

  • Accountability (Akuntabilitas)

  • Responsibility (Tanggung Jawab)

  • Independency (kemandirian)

  • Fairness (Kesetaraan dan Kewajaran)


Berdasarkan prinsip-prinsip GCG tersebut, terutama prinsip yang baik agar perilaku para pelaku bisnis mempunyai arahan yang bisa dirujuk.responsibility, dapat ditarik benang merah keterkaitan antara CSR dan GCG. Penerapan prinsip responsibility tersebut, perusahaan memperhatikan kepentingan stakeholdernya sebagai bentuk konsekuensi dari operasional perusahaannya.

Penerapan CSR adalah salah satu bentuk implementasi dari konsep Good Corporate Governance (GCG).

Konsep CSR juga sering dikaitkan dengan konsep Triple Bottom Line, yaitu bahwa perusahaan tidak hanya mengedepankan aspek ekonomi saja, tetapi juga aspek sosial dan lingkungannya


D. Konsep Triple Bottom Line yang baik agar perilaku para pelaku bisnis mempunyai arahan yang bisa dirujuk.

John Elkington mengembangkan konsep triple bottom line dalam istilah economic prosperity, environmental quality dan social justice.

Menurut Elkington, perusahaan yang ingin berkelanjutan harus memperhatikan ‘3P’ (Profit, People, Planet), yaitu bahwa selain mengejar keuntungan (profit), perusahaan juga harus memperhatikan dan terlibat pada pemenuhan kesejahteraan masyarakat (people) dan turut berkonstribusi aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan (planet)


Semakin disadari bahwa kondisi keuangan saja tidak cukup menjamin perusahaan tumbuh secara berkelanjutan. Keberlanjutan akan terjamin apabila perusahaan memperhatikan dimensi terkait lainnya, termasuk dimensi sosial.

Dengan demikian, CSR adalah salah satu bentuk investasi masa depan. Karena melalui hubungan yang harmonis dan citra baik, timbal baliknya, masyarakat juga ikut menjaga eksistensi perusahaan.


  • E. Prinsip-prinsip CSR menjamin perusahaan tumbuh secara berkelanjutan. Keberlanjutan akan terjamin apabila perusahaan memperhatikan dimensi terkait lainnya, termasuk dimensi sosial.

  • Prof. Alyson Warhurst mengajukan prinsip-prinsip CSR adalah sebagai berikut:

  • Prioritas Korporat

  • Manajemen Terpadu

  • Proses Perbaikan berkesinambungan

  • Pendidikan Karyawan

  • Pengkajian Dampak Sosial

  • Produk dan Jasa

  • Informasi Publik

  • Fasilitas dan Operasi


  • Penelitian menjamin perusahaan tumbuh secara berkelanjutan. Keberlanjutan akan terjamin apabila perusahaan memperhatikan dimensi terkait lainnya, termasuk dimensi sosial.

  • Prinsip Pencegahan

  • Kontraktor dan Pemasok

  • Siaga Menghadapi darurat

  • Transfer best practice

  • Memberi Sumbangan

  • Keterbukaan

  • Pencapaian dan Pelaporan


Signifikansi program coorporate social responsibility

SIGNIFIKANSI PROGRAM menjamin perusahaan tumbuh secara berkelanjutan. Keberlanjutan akan terjamin apabila perusahaan memperhatikan dimensi terkait lainnya, termasuk dimensi sosial.COORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY

PERTEMUAN 11


Referensi : menjamin perusahaan tumbuh secara berkelanjutan. Keberlanjutan akan terjamin apabila perusahaan memperhatikan dimensi terkait lainnya, termasuk dimensi sosial.

Yusuf Wibisono.2007. Membedah Konsep dan Aplikasi CSR –Corporate Social Responsibility. Fascho Publishing, Gresik


Implementasi CSR di perusahaan pada umumnya dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:

Pertama, terkait dengan komitmen pimpinannya. Perusahaan dengan pemimpin yang memiliki sensitifitas dan kepedulian sosial yang tinggi akan memiliki komitmen tinggi terhadap CSR, begitu pula sebaliknya.

Kedua, terkait dengan ukuran dan kematangan perusahaan. Perusahaan yang besar dan stabil lebih berpotensi untuk melaksanakan CSR.

Ketiga, regulasi dan sistem perpajakan yang diatur pemerintah. Semakin kondusif regulasi dan semakin besar insentif pajak yang diberikan, akan lebih berpotensi memberi semangat kepada perusahaan untuk berkonstribusi kepada masyarakat.


A. Arti Penting CSR beberapa faktor, yaitu:

Ada tiga alasan penting mengapa perusahaan harus mengembangkan isu tanggung jawab sosial sejalan dengan operasi usahanya.

1. Perusahaan adalah bagian dari masyarakat sehingga harus memperhatikan kepentingan masyarakat. Kegiatah sosial ini berfungsi sebagai kompensasi atau upaya timbal balik atas penguasaan sumber daya alam dan sumber adaya ekonomi oleh perusahaan yang kadang bersifat ekspansif atau eksploratif.

2. Kalangan bisnis dan masyarakat sebaiknya memiliki hubungan simbiosa mutualisme. Hal tersebut penting untuk mewujudkan harmonisasi hubungan dan erat kaitannya dengan citra dan performa perusahaan.



B. Beberapa Alasan Implementasi CSR oleh Perusahaan untuk meredam atau bahkan menghindari konflik sosial. Potensi konflik itu bisa akibat dari operasional perusahaan atau akibat kesenjangan struktural dan ekonomis yang timbul antara masyarakat dengan komponen perusahaan.

Ada tiga kategori alasan perusahaan melaksanakan CSR, yaitu:

Pertama, karena alasan keterpaksaan, maksudnya CSR dipraktekan karena adanya dorongan eksternal.

Misalnya, tanggung jawab PT. Lapindo Brantas kepada para korban lumpur di Sidoarjo terjadi karena adanya faktor lingkungan dan faktor sosial.

Selain itu, CSR yang diterapkan untuk dorongan membangun citra perusahaan (faktor reputasi). Misalnya berbagai bentuk program CSR yang diarahkan untuk membentuk citra atau opini publik yang positif.


Kedua, karena alasan pemenuhan kewajiban, maksudnya CSR dipraktekan karena adanya regulasi, hukum dan aturan yang memaksanya. Misalnya yang terjadi pada perusahaan-perusahaan di Amerika.

Selain itu, CSR yang diterapkan karena adanya penghargaan atau reward yang diberikan oleh segenap institusi atau lembaga. Misalnya CSR award.

ketiga, karena alasan tanggung jawab sosial yang tulus. Maksudnya CSR diaplikasikan dengan kesadaran perusahaan terhadap tanggung jawab sosial dan lingkungan.


B. Benefit Implementasi CSR dipraktekan karena adanya regulasi, hukum dan aturan yang memaksanya. Misalnya yang terjadi pada perusahaan-perusahaan di Amerika.

Ada beberapa keuntungan yang bisa diraih perusahaan dari penerapan program CSR, yaitu:

  • Mempertahankan atau mendongkrak reputasi dan brand image perusahaan

  • Layak mendapatkan social license to operate

  • Mereduksi resiko bisnis perusahaan

  • Melebarkan akses sumber daya

  • Membentangkan akses menuju market

  • Mereduksi biaya

  • Memperbaiki hubungan dengan stakeholder


Rogovsky menyusun manfaat keterlibatan komunitas perusahaan adalah sebagai berikut

Komunitas pada Perusahaan dipraktekan karena adanya regulasi, hukum dan aturan yang memaksanya. Misalnya yang terjadi pada perusahaan-perusahaan di Amerika.

Reputasi dan citra lebih baik

Lisensi untuk beroperasi secara sosial

Bisa memanfaatkan pengetahuan dan tenaga kerja lokal

Keamanan yang lebih besar

Infrastruktur dan lingkungan sosial ekonomi yang lebih baik

Menarik dan menjaga personel yang kompeten untuk memiliki komitmen yang tinggi

Menarik tenaga kerja, pemasok, pemberi jasa, dan pelangan lokal yang bermutu

Laboratorium pembelajaran untuk inovasi organisasi

Rogovsky menyusun manfaat keterlibatan komunitas-perusahaan adalah sebagai berikut:


Perusahaan pada Komunitas dipraktekan karena adanya regulasi, hukum dan aturan yang memaksanya. Misalnya yang terjadi pada perusahaan-perusahaan di Amerika.

  • Peluang penciptaan kesempatan kerja, pengalaman kerja dan pelatihan

  • Pendanaan investasi komunitas pengembangan infrastruktur

  • Keahlian komersial

  • Kompetisi teknis dan personal individual pekerja yang terlibat.

  • Representatif bisnis sebagai jurus promosi bagi prakarsa-prakarsa komunitas.


Rogovsky menunjukan profil organisasi yang menjalankan konsep tanggung jawab social ( CSR), seperti berikut:

1. Pendekatan yang menggabungkan nilai dan strategi

organisasi yang mampu memadukan antara etika korporat yang ada, yang berkenaan dengan keterlibatan komuniatas yang besar dengan strategi baru.

2. Yakin bahwa keberhasilan korporat hanya bisa dicapai bila komunitasnya pun berhasil.

Tingginya kinerja perusahaan-perusahaan ditunjukan dengan adanya hubungan simbiotis antara keberhasilan organisasi dan kesejahteraan komunitas.

3. Derajat intensitas tinggi

Memprioritaskan intensitas keterlibatan komunitas organisasi dan menyelaraskan tindakan-tindakan yang menunjang komitmen keterlibatan komunitas itu.



4. Derajat Integrasi Tinggi konsep tanggung jawab social ( CSR), seperti berikut:

Integrasi berarti communty relations dan kontribusi dijalankan secara bersama-sama dengan tujuan komplementer dan tanggung jawab komunitas dijalankan semua divisi opersional.

5. Program yang responsif terhadap stakeholder komunitas

Organisasi bersikap proaktif dan para manajer menjalankan kegiatan yang berempati pada komunitas.

6. Pendekatan kesatuan dalam perencanaan program

Mengakui bahwa setiap lokasi dan kelompok bisnis mungkin saja membutuhkan serangkaian program yang tepat untuk setiap lokasi dan kelompok bisnis.


7. Kemampuan dalam manajemen perubahan konsep tanggung jawab social ( CSR), seperti berikut:

Manajer corporate community relations adalah agen perubahan yang trampil dan membuat organisasi bisa menerima perubahan yang terjadi pd komunitas dan masyarakat.

8. Mendukung beberapa kegiatan

Perusahaan menyadari bahwa akan muncul dampak yang lebih besar bila perusahaan mendukung beberapa isu yang sedang berkembang.

9. Secara aktif bermitra dengan organisasi non profit

Perusahaan bekerjasama dengan organisasi pendukung untuk bersama-sama merumuskan tujuan , bukan hanya sekedar memberikan uang pada organisasi itu.


Pertemuan 12

PERTEMUAN 12 konsep tanggung jawab social ( CSR), seperti berikut:

BENTUK PROGRAM

COMMUNITY RELATIONS


Referensi: konsep tanggung jawab social ( CSR), seperti berikut:

Yosal Iriantara, 2004, Community Relations, Simbiosa Rekatama Media, Bandung. Hal 161 - 179


Semenjak diberlakukan otonomi daerah di Indonesai, tuntutan komunitas lokal pada organisasi bisnis meningkat. Komunitas lokal memiliki beberapa tuntutan, seperti memprioritaskan tenaga kerja lokal, memberikan bantuan pada komunitas lokal atau menuntut pembangunan fasilitas sosial.

Adapun harapan komunitas yang harus dipahami perusahaan adalah

  • Income atau pendapatan,

  • Kontribusi perusahaan

  • Kebanggaan


  • Kemitraan Bisnis-Komunitas komunitas lokal pada organisasi bisnis meningkat. Komunitas lokal memiliki beberapa tuntutan, seperti memprioritaskan tenaga kerja lokal, memberikan bantuan pada komunitas lokal atau menuntut pembangunan fasilitas sosial.

    Kemitraan dikembangkan sebagai wujud keterlibatan komunitas organisasi bisnis dan organisasi bisnis memandang dirinya bukan sekedar mesin ekonomi yang bekerja untuk mendapatkan keuntungan tapi juga memandang dirinya sebagai institusi sosial yang bisa memberikan manfaat secara sosial.

    Ada tiga bentuk pola kemitraan, yaitu:

  • Pola kemitraan Kontra Produktif

  • Pola kemitraan Semi produktif

  • Pola kemitraan Produktif


  • Pola kemitraan kontra produktif komunitas lokal pada organisasi bisnis meningkat. Komunitas lokal memiliki beberapa tuntutan, seperti memprioritaskan tenaga kerja lokal, memberikan bantuan pada komunitas lokal atau menuntut pembangunan fasilitas sosial.

    Pola ini terjadi jika perusahaan masih berpijak pada pola konvensional yang hanya mengutamakan kepentingan shareholders (pemegang saham). Fokus perusahaan bertumpu pada usaha meraih keuntungan yang sebesar-besarnya sehingga hubungan perusahaan, pemerintah dan masyarakat hanya sekedarnay.

    perusahaan berjalan dengan targetnya sendiri, pemerintah tidak peduli dan masyarakat tidak mempunyai akses kepada perusahaan.


  • Pola kemitraan semi produktif komunitas lokal pada organisasi bisnis meningkat. Komunitas lokal memiliki beberapa tuntutan, seperti memprioritaskan tenaga kerja lokal, memberikan bantuan pada komunitas lokal atau menuntut pembangunan fasilitas sosial.

    Pola kemitraan perusahaan dan komunitas ini masih mengacu pada kepentingan jangka pendek. Pemerintah dan masyarakat dianggap sebagai objek. Kemitraan masih belum strategis dan masih mengedepankan kepentingan diri perusahaan, bukan kepentingan bersama anatara perusahaan dengan mitranya.

  • Pola kemitraan produktif

    pola kemitraan ini menempatkan mitra sebagai objek dan dalam paradigma simbiosa mutualisme.


Dengan mengutip Criss Gribben, Rogovsky menunjukan tahapan-tahapan dalam pengembangan model kemitraan antara bisnis dan komunitas seperti berikut ini:

Tahap I

a. Pihak- pihak bermitra berkumpul untuk merumuskan kebutuhan bersama.

b. Bila pihak yang bermitra belum pernah bekerjamasama maka pihak-pihak bermitra itu mengawali dengan proses mengatasi perbedaan

c. Mungkin ada kebutuhan pelatihan untuk membangun pihak-pihak yang bermitra bisa beroperasi secara efektif

Tahap II

a. Lewat proses dialog dan diskusi, pihak-pihak yang bermitra membentuk landasan bersama dan berupaya menemukan visi dan misi yang disepakati bersama.


b. Kelompok inti awal dari pihak-pihak bermitra menyepakati perlunya melibatkan lebih banyak orang dan lebih banyak organisasi.

c. Pihak-pihak yang bermitra mengembangkan mekanisme untuk mengkaji kebutuhan dan ukuran tindakan yang diusulkan untuk dilaksanakan

d. Pihak-pihak bermitra memadukan informasi yang diperoleh dari kajian kebutuhan dengan visi dan misi untuk menyusun agenda kegiatan

Tahap III

a. Merancang dan menjalankan kerangka kerja formal dan struktur organisasi kemitraan

b. Pihak-pihak yang bermitra menyusun tujuan, sasaran, dan objektif tertentu terkait dengan agenda kegiatan


c. Bila memadai, eksekutif kemitraan menunjuk atau memilih tim manajemen (meski hanya seorang) untuk mengawasi pelaksanaan pekerjaan.

Tahap IV

a. Kemitraan menyampaikan rencana aksi, baik berupa pemberian layanan maupun beberapa fungsi lain.

b. Eksekutif kemitraan berupaya untuk menjaga keterlibatan-pihak-pihak yang bermitra , merumuskan kebijakan dan menjamin berjalannya akuntabilitas kemitraan

c. Ada proses yang terus berlangsung untuk menilai mengevaluasi dan menyempurnakan operasi kemitraan


Tahap V: tim manajemen (meski hanya seorang) untuk mengawasi pelaksanaan pekerjaan.

a. Bila diperlukan, para pihak yang bermitra hendak menyusun strategi penghentian kemitraan (exit stratgy). Strategy ini mencakup penyusunan sejumlah tujuan baru untuk mempertahankan dan melanjukan tugas kemitraan

b. Pihak-pihak yang bermitra sebaiknya menciptakan hidup sesudah mati dengan mengalihkan kembali aset-aset kemitraan pada komunitas tempt kemitraan dijalankan


B. Pengembangan Masyarakat tim manajemen (meski hanya seorang) untuk mengawasi pelaksanaan pekerjaan.

Bentuk lain kegiatan community relations yang dilakukan organisasi bisnis adalah pengembangan masyarakat (community development). Dimana masyarakat adalah partisipan sekaligus pemetik manfaat (beneficiaries) dari pembangunan. Kindervatter menyatakan komponen dari pengembangan masyarakat adalah :

a. Berorientasi pada kebutuhan baik material maupun non material.

b. Memanfaatkan kesejatian (endogenous) masyarakat setempat termasuk visi dan misi tentang masa depan

c. Mandiri yang berarti mendasarkan pada kekuatan dan sumber daya yang dimiliki.


d. Bersifat ekologis yang memanfaatkan sumber daya secara rasional dan penuh kesadaran.

e. Didasarkan pada transformasi struktural yang berarti adanya perubahan dalam relasi sosial, kegiatan ekonomi dan struktur kekuasaan.

Metode yang digunakan untuk pengembangan masyarakat ini adalah PRA ( Participatory Rural Appraisal)

PRA adalah pendekatan dan metode yang mendorong masyarakat pedesaan untuk turut serta meningkatkan dan menganalisis pengetahuan mereka mengenai hidup dan kondisi mereka sendiri agar mereka membuat rencana dan tindakan(Robert Chambers).


PRA dijalankan dengan berpegang pada prinsip-prinsip dasar berikut ini:

1. Mengutamakan mereka yang terabaikan

2. Pemberdayaan (penguatan) masyarakat

3. Masyarakat sebagai pelaku, orang luar sebagai fasilitator

4. Saling belajar dan menghargai perbedaan

5. Santai dan informal

6. Triangulasi

7. Mengoptimalkan hasil

8. Orientasi praktis

9. Keberlanjutan dan selang waktu

10. Belajar dari kesalahan

11. Terbuka pada perubahan


Bahwa praktik community relations yang bernuansa kegiatan amal atau filantrofis dewasa ini mulai bergeser menjadi kegiatan strategis. Bukan lagi memberi melainkan bersama-sama mengembangkan, sehingga keberlanjutan organisasi menjadi terjaga.

Wujud tanggung jawab sosial korporat itu akhirnya memang bermuara pada pembuatan laporan sosial untuk mencerminkan transparansi dan akuntabilittas. Namun apa yang dilaporkan tentu saja merupakan kegiatan nyata yang dikembangkan dan dijalankan oleh organisasi bisnis bersama-sama dengan komunitas sekitarnya.


Pertemuan 13

PERTEMUAN 13 amal atau filantrofis dewasa ini mulai bergeser menjadi kegiatan strategis. Bukan lagi memberi melainkan bersama-sama mengembangkan, sehingga keberlanjutan organisasi menjadi terjaga.

PROSES COMMUNITY RELATIONS


Referensi : amal atau filantrofis dewasa ini mulai bergeser menjadi kegiatan strategis. Bukan lagi memberi melainkan bersama-sama mengembangkan, sehingga keberlanjutan organisasi menjadi terjaga.

Yosal Iriantara, 2004.Community relations, Simbiosa Rekatama Media. Bandung. Hal 73-91


Proses PR dalam Community Relations amal atau filantrofis dewasa ini mulai bergeser menjadi kegiatan strategis. Bukan lagi memberi melainkan bersama-sama mengembangkan, sehingga keberlanjutan organisasi menjadi terjaga.

Community relations pada dasarnya adalah kegiatan PR maka langkah-langkah dalam proses PR pun mewarnai langkah-langkah daam community relations

Fokus kegiatan community relations adalah permasalahan yang dihadapi komunitas, bukan permasalahan yang dihadapi organisasi. Namun dampak dari penyelasaian permasalahan yang dihadapi komunitas itu akan dirasakan juga oleh organisasi.

Proses kegiatan community relations bisa dipandang berdasarkan dua pendekatan :

Pertama, dalam konsep PR lama yang memposisikan organisasi sebagai pemberi donasi, maka program community relations hanyalah bagian dari aksi dan komunikasi dalam proses PR.


Kedua, amal atau filantrofis dewasa ini mulai bergeser menjadi kegiatan strategis. Bukan lagi memberi melainkan bersama-sama mengembangkan, sehingga keberlanjutan organisasi menjadi terjaga.pendekatan dengan memposisikan komunitas sebagai mitra dan konsep komunitasnya bukan sekedar kumpulan orang yang berdiam disuatu wilayah operasi organisasi. Disini organisasi menampilkan sisi dirinya sebagai satu lembaga sosial yang bersama-sama dengan komunitas berusaha memecahkan permasalahan yang dihadapi komunitas. Baik organisasi dan komunitas bersama-sama mengerahkan sumber daya yang dimilikinya untuk memecahkan masalah dan mencapai tujuan bersama.

Dengan pendekatan yang kedua maka tahapan dalam proses kegiatan community relations organisasi melalui tahapan-tahapan sebagai berikut:


1. Pengumpulan fakta amal atau filantrofis dewasa ini mulai bergeser menjadi kegiatan strategis. Bukan lagi memberi melainkan bersama-sama mengembangkan, sehingga keberlanjutan organisasi menjadi terjaga.

Pengumpulan fakta permasalahan sosial yang ada dapat ditemukan dari berbagai sumber seperti media massa, data statistik, obrolan warga masyarakat, keluhan langsung dari warga masyarakat atau hasil penelitian dan laporan dari lembaga sosial masyarakat (LSM/NGO).

2. Perumusan Masalah

Masalah adalah adanya kesenjangan antara apa yang diharapkan dengan yang dialami, yang untuk menyelesaikannya diperlukan kemampuan menggunkan pikiran dan ketrampilan secara tepat.

Dalam merumuskan masalah itu kita mulai memfokuskan pada komunitas organisasi apakah komunitasnya berdasarkan lokasi atau dipandang sebagai struktur interaksi maka komunitas lepas dari pertimbangan kewilayahan, tetapi lebih pada pertimbangan kesamaan kepentingan.


3. Perencanaan dan Pemrograman amal atau filantrofis dewasa ini mulai bergeser menjadi kegiatan strategis. Bukan lagi memberi melainkan bersama-sama mengembangkan, sehingga keberlanjutan organisasi menjadi terjaga.

Perencanaan adalah suatu perkiraan yang didasarkan pada fakta dan informasi tentang sesuatu yang akan terwujud atau terjadi nanti.

Untuk bisa mewujudkan apa yang diperkirakan maka dibuatlah suatu program. Program merupakan cara cara untuk mecapai tujuan tersebut. Setiap program biasanya diisi dengan berbagai kegiatan. Kegiatan sebagai bagian dari program merupakan langkah-langkah yangditempuh untuk mewujudkan program guna mencapai tujuan yang sudah ditetapkan.


4. Aksi dan Komunikasi amal atau filantrofis dewasa ini mulai bergeser menjadi kegiatan strategis. Bukan lagi memberi melainkan bersama-sama mengembangkan, sehingga keberlanjutan organisasi menjadi terjaga.

Aspek aksi dan komunikasi inilah yang menjadi watak yang membedakan kegiatan community relations dalam konteks PR dan bukan PR. Watak PR-nya ditampilkan lewat kegiatan komunikasi. Dalam community relations selalu ada aspek bagaimana menyusun pesan yang ingin disampaikan kepada komunitas serta melalui media apa dan dengan cara bagaimana.

Sedangkan aksi sebagai implementasi program yang sudah direncanakan pada dasarnya sama saja dengan implementasi program apapun.


5. Evaluasi amal atau filantrofis dewasa ini mulai bergeser menjadi kegiatan strategis. Bukan lagi memberi melainkan bersama-sama mengembangkan, sehingga keberlanjutan organisasi menjadi terjaga.

Evaluasi merupakan keharusan dalam konteks community relations perlu diingat bahwa evaluasi bukan hanya dilakukan terhadap penyelengaraan program atau kegiatannya belaka, melainkan juga dievaluasi bagaimana sikap komunitas terhadap organisasi, Evaluasi sikap publik itu diperlukan karena pada dasarnya community relations ini meski merupakan tanggung kawab sosial organisasi tetap merupakan kegiatan PR.


C. Langkah-Langkah Community Relations. amal atau filantrofis dewasa ini mulai bergeser menjadi kegiatan strategis. Bukan lagi memberi melainkan bersama-sama mengembangkan, sehingga keberlanjutan organisasi menjadi terjaga.

Kegiatan community relations saat ini tidaklah lagi dimaknai sebagai kegiatan filantropis yang memosisikan organisasi seolah-olah seorang dermawan yang membagi-bagi uang dan barang pada komunitas, sehingga komunitas merasakan ada manfaat kehadiran organisasi ditengah lingkungannya hanya melalui pemberian dari organisasi itu.

Menurut Waddock dan Boyle, kini pendekatan yang digunakan dituntut untuk bersifat “strategis”. Prgroam community relations organisasi kini bukan lagi sekedar penyangga antara organisasi dan lingkungannya melainkan menjalankan fungsi yang mesti mengintegrasikan kepentingan-kepentingan stake holder, khususnya karyawan dan komunitas kedalam kepentingan organisasi.


Dengan perubahan pendekatan yang ada maka membutuh kan staff PR yang menangani community relations adalah orang yang memiliki pengetahuan yang komprehensif mengenai komunitas lokal, kebutuhan-kebutuhan komunitas itu, memiliki keahlian menangani organisasi serta sifat bisnis dan teknologi orgnisasi komunitas lokal yang sangat beragam.

Hal lain yang juga harus diperhatikan adalah bagaimana organisasi dipandang oleh komunitasnya, karena hal ini akan sangat menentukan langkah-langkah membangun hubungan dengan komunitas tersebut.


Robert DeMartinis menjelaskan langkah-langkah dalam community relations bagi organisasi non profit sebagai berikut :

1. Merumuskan komunitas organisasi dan berbagai kelompok yang ada didalamnya.

2. Menentukan tujuan program community relations organisasi apa yang ingin dicapai organisasi pada masing-masing kelompok dalam komunitas tersebut.

3. Menyusun pesan yang hendak disampaikan

4. Memilih metode yang paling baik dalam penyampaian pesan.

5. Melaksanakan Program community relations

6. Menganalisis hasil


Liz Brown, selanjutnya menguraikan langkah-langkah community relations untuk organisasi bisnis yaitu;

1. Segmentasi

Dimana publik sasaran komunitas dibagi dan diidentifikasi berdasarkan, demografi ataupun psikografi.

2. Skala prioritas

Didasarkan pada komunitas yang paling memiliki kekuatan untuk mendukung atau menghambat pencapaian tujuan bisnis organisasi.

3. Penelitian

Untuk mengetahui bidang perhatian utama dikalangan komunitas yang menjadi sasaran diperlukan adanya suatu penelitan.


4. Pemuka Pendapat pada kelompok sasaran community relations untuk organisasi bisnis yaitu;

Cara lain mengetahui dan memahami permasalahan komunitas adalah dengan berbicara pada pemuka pendapatnya.

5. Penyelarasan

Perlunya penyelarasan terhadap permasalahan yang dihadapi dan harapan yang dirasakan komunitas terhadap organisasi, begitu juga sebaliknya tujuan organisasi dengan permasalahan komunitas.


Perbedaan langkah cr organisasi profit dan non profit
Perbedaan Langkah CR organisasi profit dan non profit community relations untuk organisasi bisnis yaitu;


Dengan demikian untuk melakukan kegiatan cummnity relations harus dipahami terlebih dahulu waktak organisasi ; apakah organisasi non profit ataukah organisasi bisnis yang berorientasi pada pencarian keuntungan. Perbedaan watak akan membawa pada perbedaan dalam jenis kegiatan yang akan dilakukan organisasi.

Dikembalikan proses PR sebagai induk program maka pada dasarnya langkah-langkah community relations baik untuk organisasi nonprofit maupun organisasi bisnis sama saja. Langkah-langkah yang berbeda pada kedua jenis orgnisasi pada dasarnya lebih disebabkan perbedaan watak organisasi.


D. Kebijakan Community Relations harus dipahami terlebih dahulu waktak organisasi ; apakah organisasi non profit ataukah organisasi bisnis yang berorientasi pada pencarian keuntungan. Perbedaan watak akan membawa pada perbedaan dalam jenis kegiatan yang akan dilakukan organisasi.

Community relations merupakan sebuah program yang dilandasi kebijakan (policy) organisasi. Dengan memandang community relations sebagai kebijakan maka bisa tampak seberapa besar dan seberapa jauh komitmen organisasi terhadap komunitas.

Menurut Wheelen dan Hunge, kebijakan merupakan pedoman umum untuk mengambil keputusan pada seluruh organisasi.

McLaughlin menyatakan kebijakan memiliki makna ganda. Kebijakan bisa berupa “kerangka kerja yang menjadi pedoman pengambilan keputusan dalam hal tertentu dan menunjukan maksud-maksud yang lebih besar” dan bisa pula berupa” rencana umum tindakan”.


Bila program community relations organisasi dijalankan sebagai satu kebijakan organisasi maka program tersebut akan memiliki landasan yang kokoh untuk dijalankan. Karena kebijakn tersebut merupakan penjabaran dari strategi umum yang dijalankan satu organisasi untuk mencapai tujuannya.Kalaupun ada perubahan tapi bukan hal yang mendasar melainkan lebih merupakan penyesuaian.

Kecuali terjadi tekanan eksternal atau internal yang selanjutnya memaksa organisasi merubah kebijakan strategi organisasinya otomatis juga akan merubah kebijakan organisasi termasuk didalamya program community relations.


Lubna Forzley menyatakan, ada lima hal penting yang dalam pelaksanaan program Community Relations dengan pendekatan strategis, yaitu bahwa:

1. Tanpa keterlibatan semua pihak, tidak akan ada yang tercapai.

2. Keterlibatan komunitas secara strategis selalu memberikan hasil yang terbaik bagi semua pihak.

3. Keterlibatan komunitas secara strategis menghasilkan visibilitas yang baik.

4. Keterlibatan komunitas secara strategis menghasilkan peningkatan pengembangan kapasitas.

5. Keterlibatan komunitas secara strategis mempersyaratkan adanya proses dan sistem pengukuran


ad