Pertemuan xi penalaran deduktif
Download
1 / 21

PERTEMUAN XI PENALARAN DEDUKTIF - PowerPoint PPT Presentation


  • 335 Views
  • Uploaded on

PERTEMUAN XI PENALARAN DEDUKTIF. PENALARAN INDUKTIF. Adalah penalaran yang kesimpulannya memperluas premisnya . Penalaran induktif tidak dapat ditinjaun dari penalaran deduktif , karena bukan hasil penurunan dari premisnya , sehingga disimpulkan tidak valid.

loader
I am the owner, or an agent authorized to act on behalf of the owner, of the copyrighted work described.
capcha
Download Presentation

PowerPoint Slideshow about ' PERTEMUAN XI PENALARAN DEDUKTIF' - axel


An Image/Link below is provided (as is) to download presentation

Download Policy: Content on the Website is provided to you AS IS for your information and personal use and may not be sold / licensed / shared on other websites without getting consent from its author.While downloading, if for some reason you are not able to download a presentation, the publisher may have deleted the file from their server.


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - E N D - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Presentation Transcript
Pertemuan xi penalaran deduktif

PERTEMUAN XIPENALARANDEDUKTIF


Penalaran induktif
PENALARAN INDUKTIF

  • Adalahpenalaran yang kesimpulannyamemperluaspremisnya.

  • Penalaraninduktiftidakdapatditinjaundaripenalarandeduktif, karenabukanhasilpenurunandaripremisnya, sehinggadisimpulkantidak valid.

  • Konklusipenalaraninduktifmemangtidakdimaksudkansekedaruntukmenyuratkanapa yang telahtersiratdalapreisnya, sepertidalampenalarandeduktif.

  • Alhasil, konklusinyatidakterjaminmutlakkebenarannya, walausemuapremisnyabenar.


Contoh : Dalam semua hari di masa lalu, matahari terbit dari Timur. Jadi, besuk matahari terbit dari Timur.

Konklusinya bukan keharusan logis dari premisnya.

Konklusinya bukan sekedar menyuratkan apa yang telah tersirat dalam premisnya.

Jika penalaran ini dianggap deduktif, maka dianggap tidak valid. Namun penalaran ini dianggap sehat, dengan hubungan kuat atau lemah.


Bentuk bentuk penalaran induktif
BENTUK Timur. Jadi, besuk matahari terbit dari Timur.BENTUK PENALARAN INDUKTIF

Generalisasi.

Membonceng wibawa.

Analogi.

Induksi sebab akibat.


A generalisasi
A.GENERALISASI Timur. Jadi, besuk matahari terbit dari Timur.

  • Merupakanpenalaraninduktif yang paling sederhana.

  • Merupakanbentukpenalaran yang konklusinyamelampauipremisnya.

  • Konklusinyamencakupsemuaanggotadarisuatuhimpunan yang ditarikdarisebagiananggota yang sudahdiamati.

  • Bentukumumpenalaran :

    Semua X yang telahdiamatiadalah Y

    Jadisemua X adalah Y


  • Contoh Timur. Jadi, besuk matahari terbit dari Timur. : 10% berasdalamgudang yang telahdiamatiadalahgabah. Jadi 10% dariberasdalamgudangadalahgabah.

  • PenalarandemikiandinamakanGeneralisasiStatistik .

  • Kemungkinanprosentase :

    a. Prosentase 0  disebutproposisi universal negasi (Proposisi E)  Semuaberasdalamgudangbukangabah.

    b. Prosentase 100  disebutproposisi universal afirmatif (Proposisi A)  Semuaberasdalamgudangadalahgabah.


Karena generalisasi selalu memberikan konklusi yang melampaui premis (fakta), bentuk penalaran jenis ini mudah menghasilkan konklusi palsu dari premis yang benar.

Untuk memperkecil kesalahan, perlu dihindari 2 khilaf induktif :

i. Khilaf generalisasi bergegas.

ii. Khilaf statistik berat sebelah.


I khilaf generalisasi bergegas
i. Khilaf Generalisasi Bergegas melampaui premis (fakta), bentuk penalaran jenis ini mudah menghasilkan konklusi palsu dari premis yang benar.

Manusia cenderung untuk berpikir ke arah apa yang diinginkan daripada apa yang sebenarnya terjadi.

Seseorang yang berhubungan dengan satu hal yang ia senangi, biasanya cenderung menganggap bahwa hal tersebut baik dan sebalikanya.

Oleh karenanya, agar tidak melakukan khilaf generalisasi bergegas, diperlukan data yang cukup, dan tidak hanya pada data yang sangat sedikit (hanya pada pengamatan sepintas).


Contoh : melampaui premis (fakta), bentuk penalaran jenis ini mudah menghasilkan konklusi palsu dari premis yang benar.orang yang menyimpulkan bahwa anak muda yang berambut gondrong suka ugal-ugalan, hanya karena menyaksikan beberapa di antara mereka demikian.


Ii khilaf statistik berat sebelah
ii. Khilaf statistik berat sebelah melampaui premis (fakta), bentuk penalaran jenis ini mudah menghasilkan konklusi palsu dari premis yang benar.

Di samping jumlah data yang ada, masalah lain yang perlu diperhatikan dalam penyimpulan adalah sejauh mana data yang digunakan mencerminkan keseluruhan kelompok yang diteliti.

Contoh : Disimpulkan bahwa wanita Jawa pada umumnya tidak bekerja kecuali sebagai ibu rumah tangga. Data diperoleh dari sejumlah wanita yang berada di berbagai kota di Jawa Timur.


Kesimpulan ini bisa tidak kuat, karena tidak menceminkan wanita Jawa pada umumnya, sebab sebagian besar penduduk Jawa hidup di daerah pedesaan.


B membonceng wibawa
B. MEMBONCENG WIBAWA wanita Jawa pada umumnya, sebab sebagian besar penduduk Jawa hidup di daerah pedesaan.

Pengetahuan yang kita miliki sebenarnya tidak selalu berdasarkan kepada pengamatan fakta yang secara langsung kita lakukan.

Misalnya pengetahuan kita tentang arti suatu kata tidak diperoleh melalui pengamatan, tapi diperoleh dari buku, kamus, dan lain-lain.

Hasil penelitian orang lain yang telah terbukti kebenarannya dapat digunakan.

Jadi, kita dapat membonceng wibawa orang lain dalam menentukan kebenaran.


Untuk memperkecil kesalahan, perlu dihindari 2 macam khilaf: wanita Jawa pada umumnya, sebab sebagian besar penduduk Jawa hidup di daerah pedesaan.

i. Penalaran nenek bilang .

ii. Penalaran menyerang pribadi.


I penalaran nenek bilang
i. Penalaran Nenek Bilang. wanita Jawa pada umumnya, sebab sebagian besar penduduk Jawa hidup di daerah pedesaan.

Terdapat kecenderungan umum untuk menilai suatu proposisi lebih berdasarkan siapa yang mengatakan daripada apa yang dikatakannya.

Jadi dalam penalaran demikian, bukan apa yang dikatakan, melainkan siapa yang mengatakan, yang menentukan benar salahnya proposisi.

Bentuk penalaran ini adalah :

A (terhormat) menyatakan X

Jadi (benar) X


Ii penalaran menyerang pribadi
ii. Penalaran Menyerang Pribadi . wanita Jawa pada umumnya, sebab sebagian besar penduduk Jawa hidup di daerah pedesaan.

Hampir sama dengan penalaran “nenek bilang”, hanya dalam bentuk sebaliknya.

Penalaran ini menyerang pribadi pembentuknya.

Ini membawa konsekuensi yang berlawanan. Pembentuk proposisi tidak dijadikan dasar untuk membenarkan proposisinya, tetapi justru dijadikan dasar untuk menolaknya. Karena pembentuk proposisi itu dianggap tidak baik, maka proposisi yang dihasilkan harus ditolak.


Bentuk penalaran ini adalah : wanita Jawa pada umumnya, sebab sebagian besar penduduk Jawa hidup di daerah pedesaan.

A (tercela) menyatakan X

Jadi tidak (benar) X


C analogi
C. ANALOGI wanita Jawa pada umumnya, sebab sebagian besar penduduk Jawa hidup di daerah pedesaan.

Dalam analogi, konklusinya ditarik berdasarkan dugaan bahwa sifat-sifat yang dimiliki suatu kenyataan juga dimiliki oleh kenyataan lain.

Walaupun keduanya berbeda, tapi keduanya juga mempunyai kesamaan dalam hal-hal tertentu.

Contoh : kelinci percobaan (karena adanya anggapan sifat-sifat yang sama antara tubuh kelinci dan tubuh manusia).


Bentuk penalaran sebagai berikut : wanita Jawa pada umumnya, sebab sebagian besar penduduk Jawa hidup di daerah pedesaan.

Kenyataan X mempunyai sifat a,b,c.

Kenyataan Y mempunyai sifat a,b,c.

Kenyataan X mempunyai sifat d

Jadi, kenyataan Y mempunyai sifat d


  • Tidak wanita Jawa pada umumnya, sebab sebagian besar penduduk Jawa hidup di daerah pedesaan. setiappenalarananalogimempunyaidayameyakinkan yang sama.

  • Penalaraninduktif yang lemahdapatjugadijumpaipadapenalarananalogi yang diajukanolehkaumpesimis, misalnya:

    Perangtidakpernahdapatmenjadisaranamencapaiperdamaian. Jikaandamenanampadi, makapadi pula yang akantumbuh. Demikianjugajikamenanamjagung, makajagung pula yang akantumbuh. Olehkarenanya, jikamenanamperang, makatidakdapatdiharapperdamaian, keadilandanpersaudaraan.


D induksi sebab akibat
D. INDUKSI SEBAB AKIBAT wanita Jawa pada umumnya, sebab sebagian besar penduduk Jawa hidup di daerah pedesaan.

Merupakan penalaran induktif yang memiliki daya meyakinkan yang paling besar.

Penarikan kesimpulannya didasarkan kepada pengetahuan tentang hubungan sebab akibat.

Contoh : Berdasar pengetahuan tentang hubungan antara oksigen dan nyala api, maka dari fakta korek api yang berfungsi baik dan ternyata tidak dapat dinyalakan dalam gua, dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam gua tidak ada oksigen.


Terdapat 2 unsur dalam induksi sebab akibat : wanita Jawa pada umumnya, sebab sebagian besar penduduk Jawa hidup di daerah pedesaan.

a. Syarat yang diperlukan (necessary condition)

b. Syarat yang memadai (sufficient condition)

A adalah syarat memadai bagi B, jhj kapan saja A hadir, maka B hadir

C adalah syarat yang diperlukan bagi D, jhj kapan saja D hadir, maka C hadir.

Contoh :


ad